Tampilkan postingan dengan label Hell. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hell. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Agustus 2023

Bingung

Bagaimana sebaiknya menjadi perempuan?

Rasanya sepanjang usiaku di bumi, aku cuma disibukkan dengan pikiran “bagaimana seharusnya aku hidup”. Pertanyaan yang tidak pernah selesai. Yang seiring usiaku akhirnya aku sadar bahwa persoalan itu pun merupakan bahasan filsafat etika yang tidak pernah benar-benar sampai pada kesimpulan.

Kalau dulu aku hanya sibuk bertanya bagaimana seharusnya aku hidup, sekarang, karna aku sudah menjadi istri dari seseorang, kebingunganku berkutat pada bagaimana seharusnya aku menjadi seorang perempuan.

Aku tiba di dua persimpangan, yang satu adalah mempertahankan ego dan jati diriku tidak diusik orang lain, yang kedua adalah mati-matian mempertahankan pernikahan sambil terus meleburkan elemen kuat di dalam diriku demi seorang laki-laki. Aku memilih yang kedua. Karna pahalanya jelas lebih besar, katanya begitu. Perempuan cerdas adalah perempuan yang berusaha mati-matian mempertahankan pernikahan selama pernikahan itu tidak membawa kepada kekufuran kepada Tuhan. Oh tentu saja aku ingin menjadi versi terbaik diriku, Tuhan. Aku ingin Tuhan melihatku dan terkesan dengan yang kulakukan. Lagipula aku mendapatkan orang yang benar-benar kucintai, belajar mencintai dengan berdarah-darah. Yang tadinya kukira mencintai seseorang hanya persoalan bagaimana sabar dan kuatnya kita menahan rindu, tapi lebih dari itu, bagaimana kuatnya kita menghadapi kekurangannya yang bagaikan monster atau bahkan yang dapat menghancurkan kepribadian kita.

Kemarin aku bilang begini pada Tuhan, “Tuhan, apakah hatiku sudah sepekat itu atau kepalaku sudah setolol itu, sampai sampai sekarang ini aku selalu kebingungan menerka maksudMu.”

Apa yang Dia inginkan? Apakah Dia ingin meruntuhkan jiwa pemberontak di dalam diriku menjadi sepenuhnya pasrah? Pada apa? padaNyakah? Atau pada seorang lelakikah? Pada cintakah? Aku kebingungan. Kebingungan yang lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya, kebingungan perihal apa yang harus kulakukan menghadapi apa yang ada di depanku. Dia mengatakan padaku bahwa aku kebingungan, dan lalu tanpa jelas apa yang kurasakan dan apa yang memantik sensitivitas dalam diriku, aku tersinggung dan marah, membela diriku bahwa aku tau apa yang kulakukan, bahwa aku tidak kebingungan. Jelas-jelas aku bingung. Aku ini kenapa, Tuhan? Apa aku sudah tidak waras? Apakah saking tidak warasnya, aku menganggap orang lain tidak waras?

Lalu setiap kali monster itu muncul di hadapanku, melukai ego dan jati diriku, aku membela diri dengan mengaku kebingungan. Hingga bahkan tidak ada yang mampu kuucapkan selain kata bingung, tolol sekali. Aku bahkan jijik dengan kemampuanku bertingkah setolol ini. Aku bahkan heran padanya yang masih bisa mencintai orang setolol aku. Aku malu pada diriku sendiri.

Tapi ketika aku sudah terlalu sibuk menjaga energiku tetap seimbang untuk melebur menurunkan egoku demi seorang lelaki, entah kenapa aku merasa lelah sekali. Seakan-akan aku berada di atas panggung teater yang tidak pernah selesai. Aku terpancing menjadi diriku sendiri lagi. Aku rindu sekali menjadi aku. Toh, aku yang kurindukan bukanlah aku yang jahat. Tidak apa-apa menjadi aku yang baik asalkan tidak merugikan orang. Kenapa aku tidak bisa? Karna penyakit kronisnya yang tidak pernah secara signifikan berubah, aku merasa berputar di tempat yang sama. Aku berpikir aku harus menjadi lebih kuat, aku harus mampu mengimbangi, aku tidak ingin menjadi setoksik orang-orang yang pernah melukaiku. Aku ingin mencintai dengan menerima, melindungi, mengayomi, memaafkan. Apakah aku senaif itu? Apakah aku meniadakan sifat adil dan tegas yang sebenarnya juga cara mencintai Tuhan kepada makhlukNya? Aku bingung. Apakah sampai mati aku akan sebingung ini, Tuhan?

Aku ingin sampai pada ketenangan yang dirasakan mereka yang sudah pasrah pada takdirMu dan ridho pada semuanya. Di jalan mana aku bisa sampai pada ketenangan semacam itu? Apakah aku tidak sepenuhnya membuka hatiku agar cahaya petunjuk datang? Atau apakah dosaku sudah sebegitu pekat hingga cahaya pun semakin susah menembus?

Lalu, sekarang, apakah hal pertama yang harus kulakukan adalah meninggalkan segala macam dosa? Lalu setelah itu menunggu petunjuk dariMu untuk menjadi tenang, dan setelah itu menjadi perempuan bak malaikat pun tinggal menunggu waktu?

Aku bingung mendeskripsikan sebingung apa aku.


Rabu, 09 Februari 2022

sakit

Sakit. Aku ingin sekali menghilang, pergi, ke tempat dimana tidak ada ruang dan waktu.

Jika dosaku memang sudah menumpuk dan membusuk, maka Tuhan, apakah yang harus kulakukan? Ke sudut dunia manakah aku harus pergi?

Bisakah Engkau, wahai sang maha pengampun, menoleransi pendosa yang ketakutan dan tak mampu berbuat apa pun sepertiku? Atau sudikah Engkau, memberitaukan kepadaku dengan bahasa yang lebih sederhana dan mampu kupahami, apa yang Kau inginkan dan rencanakan terhadapKu?

Apakah takdirku adalah membusuk di neraka? Atau masihkah kasih sayangMu menjagaku tetap di batas surga?

Sakit. Aku lelah. Lelah memberitaukan kepada seluruh dunia apa yang kurasakan. Rasa sakit ini, seakan ilusi yang selama ini kulihat buyar dan menampakkan wujudnya yang mengerikan di hadapanku. Aku tak ingin bertahan lagi. Aku ingin pergi. Pergi, dan melindungi diriku sendiri dari menyakiti orang lain, disakiti orang lain, dan menumpuk dosa bagi diriku sendiri.

Aku tak paham. Aku tak paham apa yang ingin Tuhan ajarkan kepadaku. Dari sekian luka yang datang, sembuh, kambuh, membusuk dan bernanah, obat apakah kiranya yang benar-benar mampu menghilangkan semuanya? Atau apakah Ia ingin aku bertahan dengan segala luka dan sakit yang kuderita, berjalan, bertahan hidup di atas muka bumi, berusaha menjadi orang normal?

Aku menyerah, Tuhan. Bolehkah aku menyembunyikan diriku sendiri dari dunia ini? Apakah sesungguhnya itulah yang Kau inginkan dariku?

Wahai Engkau yang maha penyayang dan pengasih, sudikah Engkau memaafkan ketidakmampuan dan kelemahanku, yang belum dan mungkin tak akan sanggup menjadi penerus orang semacam Fatimah? Bisakah kelapanganMu dalam pengampunan menoleransi keputusanku untuk mengasingkan diri dari dunia?

Aku ingin bercerai dari dunia, di dunia. Aku ingin berjalan, tanpa harus terlibat interaksi yang kompleks dengan sesama manusia. Bisakah aku hidup seperti itu? Apakah itu yang harus kulakukan? Atau apakah aku harus tidak menyerah, menyembuhkan diriku sendiri dan berkali kali lagi jatuh dan sakit, hingga entahlah, apakah ada sesuatu yang menungguku di depan? Atau apakah aku hanya berputar putar di lingkaran yang sama?

Kumohon, permudahlah jalanku jika memang sudah terlalu sulit bagiku. Kumohon sederhanakanlah bahasaMu sehingga aku yang bodoh ini lebih mampu memahami.

Aku mohon, izinkan aku bercerai dari semua ini. Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri dari dosa yang sudah terlalu membusuk di pundakku yang tak mampu lagi menanggung bebannya. Jika aku memanglah manusia yang lemah, maka Tuhan, izinkan aku berjalan di jalan yang lebih mudah menujuMu. Atau jika Kau berkehendak memberikanku sedikit saja kekuatanMu, maka berikanlah.

Levi

HambaMu yang lemah


Minggu, 24 Oktober 2021

Wahai Dunia, Aku Muak

Aku ingin sekali memasang sebuah toa besar di sepanjang garis katulistiwa. Lalu aku ingin mengumumkan pada seluruh dunia yang tidak peduli dengan ocehanku ini, bahwa aku muak setengah mati dengan dunia ini.

Orang-orang di sekitarku mungkin sama saja denganku, mereka muak, tapi dengan ocehanku. Melihat aku menulis betapa muaknya aku terhadap ini, terhadap itu, mereka mungkin hampir ingin muntah, sampai-sampai mereka berusaha menjaga jarak atau pun langsung menjauhi karena aku benar-benar memuakkan. Begitu pula kamu. Dari awal kamu tidak pernah ada di sisiku. Kamu selalu ingin berbeda pendapat, kamu selalu ingin mendebat. Padahal kamu benci jika aku menolakmu, tapi kamu pun sama saja, kamu selalu menolakku.

Aku benci semuanya. Aku benci.

Aku sudah hampir tak mampu lagi membedakan apakah aku mensyukuri semua anugerah dan nikmat yang Tuhan berikan padaku dan pada seluruh makhluk di dunia ini, atau aku mengutuk semuanya. Aku tak paham. Aku tak memahami diriku sendiri.

Mungkin aku tak akan pernah menemukan dunia yang tepat, di mana pun. Dan mungkin nasibku hanyalah berusaha berdamai dan menghayati saja peran memuakkan yang sudah seakan selamanya aku lakoni ini.

Setelah Tuhan menjawab doa putus asaku yang terakhir kali dengan kedatanganmu, aku sudah hampir tidak pernah lagi berpikir ingin mati. Jika aku mati, maka akan ada seseorang yang sangat amat sedih karena kepergianku yang tragis, pikirku. Aku juga sangat amat menikmati hidup ditemani seseorang yang selalu di sampingku setiap saat, menjadi tempatku bersandar setiap saat aku butuh tempat bersandar. Aku sangat bahagia karena hadiah seorang teman adalah hadiah terbesar dan teristimewa yang pernah Dianya berikan padaku.

Aku tak lagi pernah ingin mati, sejak beberapa saat setelah aku hidup denganmu. Karena aku dibiarkanNya berharap lebih banyak lagi, berharap bahwa sesuatu akan segera berubah karena ada kamu di kehidupanku. Entah aku akan berubah menjadi sosok memuakkan lainnya di bumi, atau entah aku akan dibawamu ke antah berantah dunia dongeng yang di dalamnya hanya ada orang-orang yang menyenangkan.

Aku hanyut dalam duniaku yang baru. Dunia di mana di dalamnya ada kamu.

Dan jika kamu tidak lagi ingin meneruskan semua mimpi yang aku dan kamu sedang jalani ini, jika kamu sudah tak lagi berpikir bahwa kamu mampu menemaniku terus di dunia mimpi ini, maka aku tidak lagi punya tujuan.

Dan aku akan semakin mengutuk dunia ini. Aku akan semakin membenci  dunia ini. Tanpa pernah ingin lagi mati, aku akan tersiksa dalam perasaan mual yang terasa hampir selamanya kuderita ini. Dan juga perasaan benci yang tak lagi perasaanku mampu tolerir.

Akan menjadi monster seperti apakah aku nanti?

Atau mungkin aku salah, ternyata aku malah akan menjadi malaikat super sabar yang amat tahan banting menahan segala ujian di dunia ini.

Sialan, semua ini terasa sangat sialan.

Tuhan, aku benar-benar anak nakal.


Jumat, 15 Maret 2019

LUKA

“ya sabar..”, katanya. 
Tapi ini tentang luka di jantung yang sudah sembuh kemudian dihajar lagi di tempat yang sama. Bukan hanya bagian yang dihajar jadi babak belur, luka yang sudah sembuh disana jadi terbuka lagi, jadi semakin lebar karena ternyata itu luka belum pernah sepenuhnya sembuh. Kemudian korban dituduh melebih lebihkan ekspresi kesakitan, tidak mau memaafkan si penghajar. Tapi ini bukanlah masalah maaf memaafkan, ini masalah bagaimana caranya luka itu bisa sembuh lagi.

Saya tidak mengerti bagaimana seseorang yang mengaku menyayangi orang lain bisa hidup tenang dan bahagia setelah menusukkan pedang ke jantung salah satu orang terdekatnya. Saya pernah membunuh orang lain dalam dua kondisi. Satu, saya sengaja melakukan itu dan tidak merasa bersalah karna orang itu masuk ke kamar saya tanpa izin atau orang itu memang pernah mengacungkan pedang ke arah saya. Dua, saya mencari cara bunuh diri setengah mati setelah saya menyadari bahwa orang terdekat saya sekarat karena pedang saya.

Mungkin itulah alasan mengapa malam kemarin saya memimpikan Nino. Di dalam mimpi, Nino saya peluk seerat mungkin, seakan saya tidak mau kehilangan dia atau melihat dia terluka. Seperti takut kehilangan boneka kesayangan, saya memeluknya kemanapun saya pergi.




Rabu, 20 Februari 2019

"tuhan sudah mati"


“tuhan sudah mati”. Dengan bodohnya aku berusaha menanamkan pikiran itu di kepalaku, dan melanjutkan hidupku tanpa dia ada lagi di kepalaku. Tapi dia telah mendarah daging. Seperti kanker yang menyebar dan membunuh sistem perlindungan diri tubuh dari makhluk asing. Mungkin aku akan segera mati jika tak kulawan semua ini.

Setidaknya aku akan berjalan dengan langkah normal, membawa sel-sel kanker yang telah menyebar, yang telah menjadi kebencian. Tanpa kesadaran, aku akan dibawanya menjadi monster berbahaya.

Seandainya aku akan segera menjadi monster, akan kubunuh diriku sendiri. Sebelum itu akan kulawan sel-sel kanker yang dipenuhi kebencian ini, agar kutemukan lagi perasaanku yang sebenarnya yang telah ditutupi oleh sel-sel itu.

tugas


Aku merasa tidak akan pernah dipahami, bahkan oleh diriku sendiri. Tidak satupun keberadaan di dunia ini yang mengenal siapa aku. Di tengah kesibukan sekitarku mempersiapkan syukuran hal yang paling memuakkan bagiku, aku dipaksa merestui dan ikut berbahagia. Aku memaksa diriku berbahagia dan ikut menyongsong hari yang dinantikan, tapi jauh di dalam sudut kepalaku ada rencana pelarian. Aku akan lari, atau bahkan aku akan mati sebelum semuanya terlaksana. Aku ingin mereka tau bahwa sesungguhnya aku benci apa yang membuat mereka bahagia. Apakah aku harus pergi?

Mengapa aku harus selalu bersandiwara? Mengapa kejujuran pahit yang keluar dari mulutku tidak pernah mampu memberitaukan kebenaran? Aku heran. Mengapa aku selalu menghindar dari pembunuhan atau penyelamatan yang bisa kulakukan oleh kata-kata yang keluar dari mulutku? Setan berbisik di kepalaku, “mungkin karna kamu adalah orang paling baik di dunia ini. Karena itulah kamu tidak pernah ingin meninggikan atau menjatuhkan orang secara ekstrim”. Mungkin aku semakin berkembang menjadi iblis yang sempurna.

Aku tidak pernah mampu menyampaikan apa yang benar-benar kuinginkan. Hasilnya aku harus selalu mengalami mimpi buruk setiap malam. Dan aku harus semakin berpura-pura bahagia, ceria, dan baik-baik saja. Bahkan berpura-pura pada diriku sendiri, mensugesti diriku sendiri agar merasakan apa yang harusnya kurasakan, sebelum semuanya meledak, atau sebelum keberanian super benar-benar muncul untuk membunuh diriku sendiri.

Pagi ini di kepalaku muncul seseorang yang sudah lama mati, dia berbisik padaku, “Aku tunggu kamu disini”.

Tidak, tak kan kubiarkan diriku berharap pada apapun lagi kecuali Dia.

Dan kini, di atas semua air mata dan malam-malam yang berlalu tanpa tidur, aku memutuskan, aku akan terus menjadi aktris di atas panggung lawak ini, demi memenuhi tugas, dan menuntut gajiku atas apa yang kukerjakan di akhir masa nanti.

Selasa, 11 Desember 2018

CHAOS


Kepercayaan adalah salah satu hal yang bisa kita kontrol. Itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kita mempercayai sesuatu karena kita ingin mempercayainya. Percaya selalu diikuti keinginan. Ia bukan kata yang dapat berdiri sendiri. Meskipun ia sendirian di dalam kalimat, nyatanya dia dibayangi oleh “ingin”. Ketika kita percaya sesungguhnya kita ingin percaya. Begitu juga berharap, kita sesungguhnya ingin berharap. Tapi sesuatu semacam kebahagiaan, kesedihan, kesakitan, kemarahan, kurasa bukanlah keinginan. Jika ada motivator yang canggih memfatwakan bahwa kita akan bahagia jika ingin bahagia, dia adalah pembohong.

Selama 26 tahun aku hidup aku selalu dibayangi oleh pikiran bagaimana sebaiknya aku hidup, harus jadi seperti apakah Levi, dsb. Sepanjang waktu itu pula begitu cepat dan mudah pikiranku berubah, berganti-ganti dari satu filsafat ke filsafat lain, dari satu ideologi ke ideologi lain. Pikiranku terbuka. Aku menerima semua hal yang mendekati kebenaran. Meskipun kuakui tidak ada kriteria yang bisa dikatakan valid untuk mengukur kebenaran. Karena itulah jika seseorang berdiskusi denganku, mereka akan menyadari bahwa aku tidak memegang satu keyakinan apapun. Aku hanya berusaha menguji keyakinanku sendiri dengan argumen-argumen yang dapat menguatkan atau melemahkannya.

Selama ini manusia memegang satu keyakinan karena mereka memilih untuk memegangnya. Mereka memilih satu kriteria pengukuran kebenaran lalu memegangnya dengan kuat. Jika ada yang berusaha menggoyahkannya, mereka akan berusaha melawannya dengan menyodorkan senjata indikator yang dia pegang, memaksakan lawannya berpikir dengan cara yang sama tapi mereka sendiri tidak berusaha berpikir dengan cara yang sama seperti lawannya. Mereka semua adalah fanatik. Bahkan mereka yang menuduh kaum fanatik, pun adalah fanatik jika mereka mengaku punya indikator sendiri tentang kebenaran. Senjata kaum fanatik adalah label sesat untuk orang di luar mereka.

Aku bukanlah orang seperti itu. Atau setidaknya aku berganti-ganti dari satu fanatik ke fanatik lain. Seorang pengkhianat. Seperti Sartre dan Nietszche. Nietszche pernah mengatakan bahwa kebenaran hanyalah batu loncatan untuk mengarungi lautan kenihilan lagi, demi sampai ke kebenaran lain yang akan digunakan sebagai batu loncatan lagi. Hidup ini adalah perjalanan pemikiran untuk sampai pada kesadaran bahwa tidak ada yang nyata. Semuanya adalah palsu. Kenyataan adalah sesuatu hal yang tidak akan berubah. Nyatanya segala sesuatu berubah. Jika kita menerima segala sesuatu, menjadi orang dengan pikiran yang terbuka, maka kita akan menemui kenyataan bahwa semuanya palsu, kenyataan bahwa tidak ada yang nyata. Kita harus menutup pikiran kita agar bisa menetap di satu pulau kebenaran. Itulah mengapa banyak ajaran agama mengajarkan agar kita berhati-hati membaca buku atau berguru pada seseorang agar tidak terjatuh ke dalam kesesatan.

Jangan salah paham, aku percaya bahwa al-Qur’an adalah firman Tuhan, Muhammad saw adalah utusan terakhir. Aku percaya. Tapi bagaimana dan mengapa agama harus ada dan disampaikan bukanlah sesuatu hal yang bisa didoktrin dari satu kepala ke kepala lain. Aku tidak bisa dengan mudah menerima itu.

Aku selalu berusaha mengontrol apa yang orang pikirkan tentangku. Kupikir jika aku mampu memanipulasi pikiran mereka maka aku bisa mengontrol keadaan. Tapi aku bukan dewa. Aku tidak secerdas dan selicik itu. Aku bahkan tidak mengakui bahwa aku berusaha memanipulasi pikiran mereka. Kesimpulannya, jika aku bisa memprediksi masa depan dengan cara mengontrol keadaan maka aku menang. Tapi hidupku tidak pernah tenang. Aku selalu cemas akan apa yang terjadi di masa depan, akan apakah orang-orang berpikir seperti apa yang aku ingin mereka pikirkan, akan apalagi yang harus aku rencanakan.

Kadang-kadang ada orang yang akan menjawab tidak tahu ketika ditanya mengapa mereka melakukan sesuatu. Orang-orang ini bukan tipe orang yang akan melakukan pembunuhan berencana, mereka adalah orang yang mengikuti gejolak emosi sesaat untuk melakukan sesuatu. Bahkan pikiran mereka mungkin juga dikontrol oleh gejolak emosi sesaat tersebut. Mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka memilih sesuatu atau mengatakan sesuatu di saat-saat tertentu.

Aku juga seperti itu. Tapi setelahnya aku akan berusaha menganalisa apa yang terjadi di kepalaku ketika itu. Ini sungguh licik. Kita bisa mengklaim alasan apapun. Padahal kita tidak benar-benar tahu alasan kita sendiri karena hal itu sudah lewat dan kemungkinan besar bahkan kita sudah lupa sensasinya. Manusia saling membohongi. Semua ini adalah kepalsuan.

Aku pernah berpikir untuk menjadi aktor yang hebat dalam panggung kehidupan. Sekaligus menjadi sutradara beberapa cerita kecil. Jika aku bersikap ceria dan melemparkan humor setiap hari, maka mereka akan sering membuliku dan menjadikanku objek humor dan candaan. Jika aku tidak banyak omong dan jarang mengumpulkan tugas, mereka akan berpikir bahwa aku cuek. Hal-hal semacam ini, jika aku ingin sekelompok orang mempunyai pikiran tertentu terhadapku maka aku bisa menyesuaikan karakter mana yang akan aku pakai.

Suatu hari sebuah komentar semakin menyadarkanku, “Levi kan ceria orangnya”, ibuku sendiri yang berkomentar seperti itu. Aku selalu menceritakan dan berbuat hal-hal yang konyol di depan ibuku, membuatnya tertawa. Sedangkan kakakku mengenalku sebagai orang yang keterlaluan jujurnya jika tidak suka pada sesuatu. Di restoran aku bisa berkomentar sesukaku tentang meja yang berminyak atau makanan yang tidak enak di depan pelayannya, membuat orang-orang yang duduk satu meja denganku menjadi tidak nyaman. Sedangkan seseorang yang sama manipulatifnya denganku pernah mengatakan bahwa aku tidak terlihat pintar sama sekali, beda dengan adikku. Apa yang kubicarakan dengan orang itu adalah lelucon, hampir setiap bertemu. Hampir tidak pernah ada pembicaraan serius. Setiap orang mempunyai komentar berbeda terhadap kita. Mungkin karena kita menyesuaikan diri pada tiap orang, atau secara tidak sadar kita berusaha memanipulasi pikiran orang-orang untuk menerima karakter tertentu kita. Perbedaannya adalah apakah kita melakukan itu dengan sadar dan aktif atau secara pasif kita melayani dan menyesuaikan karakter orang di depan kita.

Hal ini membuatku tersentak dengan kemungkinan bahwa kita tidak benar-benar mempunyai identitas. David Hume pernah mengatakan bahwa intensitas dari emosi-emosi lah yang membuat kita merasa kita telah mengenal seseorang. Jika dia sering marah maka dia adalah pemarah. Jika dia sering tersenyum maka dia ramah. Tapi benarkah manusia mempunyai identitas? Benarkah aku mempunyai diri yang sejati, yang kuperlihatkan pada seseorang atau pada diriku sendiri? Apa yang kurasakan dan kulakukan jika aku sendirian? Aku tidak mempunyai identitas. Aku hanya mesin pemikir dan perencana, lalu tubuhku adalah pelakonnya.

Aku bahkan berdialog dengan diriku sendiri seakan-akan aku membuat sebuah cerita yang semua pemerannya dilakoni oleh diriku sendiri. Aku bermimpi sepanjang malam. Penuh dengan cerita yang selama ini membuatku terobsesi. Jalanan yang gelap, dikejar-kejar pembunuh, tersesat, berjalan sendirian di toko buku, naik kendaraan umum, bertemu orang-orang tertentu dan terlibat cerita tertentu dengan mereka, terlambat sekolah, hal-hal seperti itulah, secara berulang-ulang menjadi tema mimpiku. Kepalaku dipenuhi cerita. Semua ini palsu. Diriku sendiri adalah kepalsuan yang memproduksi kepalsuan.

Beberapa hari belakangan pikiran-pikiran sialan mengikutiku lagi. Aku tidak tahu apa pemicunya. Setelah aku memutuskan akan mengikuti arah jalan setapak yang kupilih, sebuah suara mengatakan bahwa aku tidak hidup. Aku harus keluar dari jalan, untuk menemukan jalan lain lewat semak-semak. Persetan. Apa yang membuatku berpikir aku harus mengikuti satu jalan? Mengapa aku bisa mengatakan bahwa itu adalah hal paling benar yang harus kulakukan? Mengapa aku harus memelihara keinginan menjadi ilmuwan hebat? Kupikir jika aku menyibukkan diriku dalam penelitian maka aku tidak akan berpikir terlalu aneh-aneh lagi tentang kehidupan dan segala sesuatu. Tolol sekali. Mengapa aku harus menahan diri untuk tidak bersuara sedikit pun ketika mereka mengatakan jangan bersuara? Mengapa untuk menjadi sesuatu hanya ada jalan-jalan tertentu yang harus dilalui agar bisa sampai ke tempat itu? Mengapa kita tidak bisa membuat jalan sendiri. Sialan sekali.

Aku terpenjara oleh keinginanku sendiri, terhadap sebuah karir tertentu, terhadap komentar orang tentangku, terhadap keinginan membahagiakan keluarga dan menjadi apa yang mereka dan masyarakat harapkan dariku. Itu semua adalah penjara. Setelah aku mengeluarkan diri dari satu ruangan yang bertahun-tahun menyekapku di dalamnya, aku sadar bahwa aku terobsesi untuk menghancurkan jeruji-jeruji lainnya. Untuk melihat apa yang ada di luar sana. Apakah aku akan mati di luar penjara karna aku tidak mempunyai kemampuan bertahan hidup? Mati? Aku tidak perduli. Bagaimanapun suatu saat manusia akan mati. Dan jika kita dipusingkan dengan pikiran “harus melakukan blabla sebelum mati” maka kita berada di balik jeruji lain.

Entah mengapa aku berharap, aku sangat berharap, ada sebuah bencana besar yang mengharuskanku dan orang-orang di sekelilingku menyelamatkan diri. Aku ingin merasakan sensasi asli kehidupan. Apakah aku sudah tidak waras? Aku ingin melihat dunia dalam kekacauan. Aku ingin merasakan badai. Aku ingin diterpa hujan dan diterbangkan angin.

Itu menjelaskan sebuah rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun. Aku bukan psikopat, tapi bisa jadi aku agak sinting. Teriakan 'eureka' setiap kali mendengar kabar kematian, atau bencana, di dalam kepalaku. Aku menginginkan kehancuran segera. Aku ingin segala omong kosong yang manusia bangun dan pelihara, yang aku lindungi sepanjang usiaku ini hancur berantakan. Eureka.


Selasa, 30 Oktober 2018

“tuhan sudah mati”

Alkisah, di suatu kota yang penduduknya sangat rajin menyembah tuhan, datanglah seorang asing yang sinting berteriak-teriak di tengah kota. “tuhan sudah mati”, katanya. Dan beberapa dekade berlalu, tuhan benar-benar telah menjadi kayu yang kopong, yang konsepnya tidak menyimpan makna apapun. Sedang kita disini, menyembah tuhan-tuhan yang tidak berjiwa. 

Minggu, 28 Oktober 2018

kibou


Aku diingatkan lagi bahwa di dunia ini aku tidak bersama siapa pun kecuali diriku sendiri. Sampai kapan pun siapa pun tidak akan bisa membuatku menyukai manusia. Mungkin aku makhluk planet lain. Di sana aku hanya hidup seorang diri, memiliki sendiri planet yang kosong dan gersang. Di bawah bintang yang jauh, yang membuat planet ini dingin dan gelap. Aku rindu kampung halamanku.


Senin, 16 Juli 2018

Einsamkeit

Kehilangan membuatmu berubah. Seakan-akan setiap bagian dari dirimu hilang satu persatu menyertai kebekuan kenangan. Aku rindu dirimu yang dulu.

Kemarin pikiranmu tak ada henti-hentinya, mulutmu tak ada kering-keringnya, mengungkapkan semua hal yang ingin kau ungkapkan pada dunia. Mempersiapkan dirimu di atas panggung yang akan kau jejaki beberapa tahun lagi. Aku tersenyum mendengar semua pidato yang kau sampaikan. Ini dirimu yang kurindukan.

Sebuah dunia yang ada dalam pikiranmu, kau deskripsikan. Semua pertanyaan yang datang dari dirimu, kau jawab. Semuanya kau sempurnakan untuk membangun sebuah peradaban yang seharusnya dibangun. Kau korbankan kehidupanmu untuk dunia. Kau adalah kau yang kukagumi.

Sepanjang hari, tanpa henti. Di tengah-tengah semangatmu mencerna sesuatu yang baru, sesuatu yang selalu tidak pernah bisa kau sempurnakan kecuali sampai sebatas ide. Kau tidak bisa berhenti, seakan-akan kau lupa ada rem yang bisa kau injak di bawah sana. Hanya lelah yang dapat menghentikanmu. Entah karena alasan apa, malam itulah malam pertama kau bisa tidur. Ya, setelah berkutat dengan segala pikiranmu.

Aku tau alasannya. Pertemuanmu dengan dua orang teman dekatmu, membuatmu melihat dunia nyata lagi, membuatmu melihat dunia dari sudut berbeda lagi. Hari itu mengapa tidak kau ceritakan sesuatu yang ingin sekali kau ceritakan pada sebanyak mungkin orang? Aku tau bahwa kau takut, kau takut tak ada yang mampu menerima dirimu.

Hari ini aku melihatmu kelelahan. Setiap kali kelelahan, kau memaksa dirimu semakin lelah, agar tak ada yang mampu menghentikan kejatuhanmu nanti, termasuk dirimu sendiri.

Hari ini kau menyerah lagi. Hari ini setan itu datang lagi ke dalam pikiranmu. Hari ini kau berpikir ingin melarikan diri lagi dari segala kesia-siaan yang kau lakukan. Hari ini kau menyadari lagi keterbatasanmu. Kau tau kau tidak mungkin sanggup menerjang badai di tengah samudra yang dingin, sekedar goyangan ombak saja pun tak mampu membuatmu menahan diri dari rasa mual. Apa penyebabnya?

Aku ingin tau apa penyebabnya. Tapi aku tak tau.

Aku rindu dirimu yang kemarin.

Aku tau kau tak pernah benar-benar ingin mati. Setiap kali keputusasaan datang kau dengan penuh harapan mencari deskripsi yang tepat menggambarkan apa yang kau rasakan. Tanpa henti, hingga menemukan mereka yang dapat menggambarkan perjuanganmu bernapas di tengah-tengah kabut yang membatasi pandangan matamu.

Kau mencari, karna kau ingin merasakan bahwa kau tidak sendirian. Di atas bumi ini ada orang-orang yang memahami apa yang kau rasakan. Setelah kau lega menangis, kau merebahkan dirimu dengan kepuasan yang tak kau sadari. Kau tak pernah sendirian.

Aku tau apa yang kau cari. Kau sendirian selama ini di tengah keramaian. Dan yang kau cari adalah orang yang membuatmu merasa bahwa kau tidak sendirian sebagai orang yang sendirian di dunia ramai.

Dan, apa lagi yang kau cari?

Kau sendiri, tapi kau tidak sendirian.

Tapi kau ingin ada orang yang menemukanmu di bawah sumur ini. 




Rabu, 04 Juli 2018

Omong Kosong Harapan

Berharap? Kita diajarkan untuk menenggak air kekecewaan setiap saat.

Mengapa kita harus berharap lagi?

Kita sudah belajar berharap bertahun-tahun,

Hanya untuk merasakan kekecewaan.

Manusia bukan makhluk yang bisa diharapkan,

Dunia bukan tempat kita menitipkan harapan.

Pada akhirnya kita akan diusir pergi, bahkan sebelum semuanya hilang.


Sudah dua hari Abu tidak pulang. Setelah Veli, Kiro, kemudian Abu.

Setelah sebelumnya kepalaku panas memikirkan untuk menyelamatkannya,

Semalaman kepalaku sibuk memikirkan banyak sekali hal.

Pada akhirnya kegelisahan mendatangiku tiba-tiba.

Pagi itu aku melarikan diri dalam ketidaksadaran.


Kita semua, manusia, seperti itu.

Melihat orang-orang dibantai nun jauh disana, anak-anak tanpa orangtua menangis kelaparan disana,

Sedang kita disini yang sibuk dengan urusan administrasi atau tetek bengek apapun,

Sambil mendengar berita, kita meneruskan sarapan, sambil kembali menghadapi kesibukan kita.


Aku, pagi itu, tidur hingga siang, bangun untuk kemudian pergi menghadapi kesibukanku.

Pagi itu, kulepas Abu, yang aku tau, aku melepasnya untuk mati.

Perasaanku berontak.

Mencoba untuk mencari alasan atas semua yang kulakukan, pikiranku menjelaskan semua kepada diriku sendiri.

Aku tak boleh menyalahkan diriku sendiri.

Apa alasanku menghentikan usaha untuk menyembuhkan Abu?

Abu bisa disembuhkan. Sembuh atau tidaknya dia adalah keputusanku.

Dan pagi itu, aku memutuskan, dia akan mati hari ini atau secepatnya.

Suntikan bekas obatnya kubiarkan saja di meja hingga seseorang membereskannya.

Pulang dari kampus, tidak sedikitpun aku bertanya tentang Abu,

Dan tidak pula ibuku mengajakku bicara tentang Abu ataupun menagih janjiku.

Ya, aku mengatakan, aku akan pergi ke klinik meminta Abu diinfus, aku bilang Abu bisa disembuhkan.

Sepertinya setiap malam, pikiranku jatuh ke dalam depresi sebelum tidur, hingga aku tidak bisa tidur.

Apapun yang kupikir bisa kulakukan tadinya, setiap malam selalu kuragukan.

Dan kemudian, aku melarikan diri dari semua itu.

Sudah ratusan kali aku melarikan diri.


Lalu, kemarin malam,

Mereka memencet tombol yang berbahaya sekali di otakku.

Mereka mulai lagi, membicarakan pernikahan, “Lepi kapan?” sambil tersenyum nakal bercanda. “kakak sudah siap nerima lamaran”, katanya. Mereka tersenyum. Aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku. Aku tidak bisa lagi masuk ke dalam dunia mereka. Malam itu, pintuku kututup rapat. Tidak akan kubiarkan mereka masuk lagi ke dalamnya. Dan aku bersumpah pada diriku sendiri, seumur hidup aku tidak akan pernah menikah. Dan semua itu berawal dari pertanyaan tadi malam, dan segala macam kekecewaan yang kutemui dari segala macam harapan optimisku di masa lalu.

Pertandanya adalah, malam itu aku memimpikan seseorang. Seseorang yang sangat optimis, yang membangunkan keoptimisan dan idealismeku di masa lalu. Kenapa di saat seperti ini aku memimpikannya? Aku mengartikannya seenakku, bahwa aku merindukan segala harapan dan prasangka baik dari diriku yang dulu. Sepertinya, aku tidak boleh bersumpah dan menutup pintu. Sepertinya…

Entahlah.

Aku benci manusia. Aku benci diriku sendiri. Hari ini aku berpikir ingin membunuh diriku lagi.

Minggu, 01 Juli 2018

Unseen Story


Mereka mengenalnya sebagai orang yang cukup ceria. Orang yang suka melemparkan dan menikmati lelucon, yang hidup cukup santai, yang selalu tersenyum dan memberikan motivasi pada teman-temannya.


Suatu hari dia bangun lagi dari tidurnya di pagi hari dengan perasaan seakan-akan hujan akan turun deras. Diintipnya pemandangan luar dari kaca jendelanya. Di pikirannya, “betapa enaknya melarikan diri”. Dia termenung pasrah, menunggu kedatangan hujan. Waktu berlalu. Diambilnya tas ransel yang ada di atas meja, dikenakannya jaket, dipakainya sepatu. Dia keluar. Di pikirannya hanya, “betapa enaknya melarikan diri dari lingkaran setan”.

Kakinya membawanya ke stasiun kereta. Tanpa tau tujuan, dia mengambil rute kereta terjauh. Sambil menunggu kereta dan memandangi rel, tiba-tiba dia terpikir, “bagaimana rasanya ditabrak kereta? Apakah tubuhku akan hancur berantakan? Bagaimana reaksi mereka mendengar kabar itu?”. Suatu pikiran yang tiba-tiba datang dan mengambil alih imajinasinya. Hingga kereta datang, dia berpikir, “bagaimana rasanya terjebak di bawah sana, diantara rel dan kereta?”.

Di dalam kereta ia duduk termenung, menikmati gerimis yang semakin deras. Di sekitarnya dipandanginya orang-orang yang sibuk dengan urusannya. Karyawan kantoran, guru, ibu rumah tangga, mahasiswa, anak sekolah, semuanya sedang berjalan di atas rel kehidupan. Di pikirannya hanya ada, “betapa enaknya keluar dari lingkaran orbit, betapa enaknya melarikan diri. Mengapa aku harus terus menjalani semua cerita ini? Mengapa aku harus menjadi diriku yang mereka kenal? Siapa aku? Mengapa aku bertanya siapa aku? Mengapa aku harus bertahan di jalan ini? Mengapa?”

Kereta sampai di sebuah tempat yang asing. Pemandangan hijau di luar jendela berbeda sekali dengan gedung-gedung raksasa yang sebelumnya ia lihat. Pemandangan itu menenangkannya. Ia keluar dari kereta, berjalan menyusuri jalan tanpa tau tujuan, menghirup udara yang asing, memandangi pemandangan yang asing, tapi langit yang familiar. Sepanjang jalan tidak ditemukannya keberadaan makhluk sejenisnya, hanya suara burung bersahut-sahutan dan bayangan mereka yang terbang di atasnya. Dia hanya terpaku pada, “betapa enaknya melarikan diri”. Dari apa ia melarikan diri? Dari situasi? Dari orang lain? Dari dirinya sendiri? Tapi ia punya karir yang bagus dan teman yang menyenangkan. Dari apa ia melarikan diri?

Setitik air keluar dari matanya. Dikiranya hujan turun. Tapi tidak. Itu adalah air matanya sendiri. Dia masih terpaku pada, “betapa enaknya melarikan diri”. Tapi dari apa dia melarikan diri?

Waktu berlalu. Malam bersiap menyelimuti bumi. Ia kembali ke stasiun kereta, pulang ke tempatnya. Kali ini, pikirannya lelah. Ia duduk tanpa memikirkan apapun selain, “mau kemana aku kali ini? Pulang? Pulang”. Kereta sampai. Stasiun malam ini penuh dengan orang-orang yang lelah setelah bekerja seharian dan rindu rumah. Ia berjalan melewati wajah-wajah kusam penuh keringat menuju tempatnya. Dia tau dia akan pulang.

Dibukanya pintu di depannya, masuk, kemudian ditutupnya lagi pintu di belakangnya. Dibantingnya tas di atas meja setelah melepas sepatu, dia duduk disitu, di sofa itu, termenung. Tiba-tiba gerimis yang semakin deras mengeluarkan petir, hujan kemudian turun deras sekali beserta petir. Air mata keluar dari matanya dengan emosi yang besar sekali, air mata yang deras sekali dan tiba-tiba. Ia menangis terisak, terisak sambil berusaha menutupi isakannya. Di meja dapur sana dilihatnya pisau dapur. Kemudian tangisannya bertambah deras, isakannya semakin tak bisa ia kontrol. Diliriknya lagi pisau itu, kemudian ia menangis lagi dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, ditambah dengan kebimbangan. Ia tau ia bisa mengakhiri hidupnya dengan pisau itu. Tapi ia kemudian terisak lagi. “tak akan ada yang peduli. Aku mati ataupun tidak, tak akan ada yang peduli”. Dia menangis, terus, hingga air matanya kering, hingga ia lelah dan membaringkan diri di atas kasur. Hari ini tanpa memasukkan apapun ke dalam mulutnya, makanan ataupun minuman, ia tertidur.


Pagi ini ia terbangun lagi, dengan pikiran yang benar-benar kosong, seperti perutnya. Ia lapar. Ia berusaha bangkit untuk mencari apa yang bisa dimakannya. Ditemukannya roti, kemudian dimakannya pelan-pelan, sambil termenung tanpa memikirkan apapun selain ingin menghabiskan roti yang ada di tangannya. Kegelisahan kemarin sudah hilang, seperti hujan deras yang telah berhenti dan menyisakan bau tanah terkena air dan suara titik-titik air yang jatuh dari daun atau atap. Dingin, semuanya masih dingin. Telepon selularnya masih mati dan tak disentuhnya. Waktu seakan-akan berhenti.

Setelah urusan perutnya selesai, ia menatap botol-botol obat di atas meja. Kenapa harus ia minum obat-obat itu? Mengapa ia harus memaksa dirinya tersenyum ketika ia tidak ingin? Mengapa ia harus menipu dirinya sendiri dengan obat-obatan itu? Ditinggalkannya obat-obat yang sudah beberapa hari tidak tersentuh itu, kemudian dibaringkannya tubuhnya di atas kasur, tubuhnya yang penuh luka. Ditatapnya atap kamar itu hingga waktu yang berlalu seakan berhenti. Hari ini, gorden jendelanya tidak ia buka sedikitpun.


Ia terbangun lagi, diliriknya jam di atas meja. Kemudian ia bangkit. Setelah diam sebentar, ia mengambil telepon selularnya untuk dinyalakan. Berpuluh-puluh pesan dan panggilan masuk dilihatnya. Kemudian setelah ia meneguk sedikit air putih, dikenakannya pakaian yang biasa ia kenakan untuk pergi kerja, diambilnya tas dan dipakainya sepatu, ia pergi dari kamar itu, menuju ke tempat ia harus pergi, masuk kembali ke dalam lingkaran.

Di sana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Ya, dia bilang dia sakit sampai-sampai tidak sanggup ke dokter dan berbaring saja di atas tempat tidur sedangkan baterai handphonenya yang sudah habis dibiarkannya. Semua yang mendengar memaklumi ceritanya. Dia tersenyum lagi, mengatakan pada mereka agar tidak khawatir karena ia sudah baik-baik saja.

Sesampainya ia di rumah, ia mandi, membasuh dirinya yang lelah, lelah berbicara, lelah tersenyum. Setelah itu dibaringkannya lagi tubuhnya, dipejamkan matanya, dirasainya tubuhnya yang lelah, dihirupnya udara kemudian dikeluarkannya lagi dengan berat sekali. Hari ini, perjuangannya telah selesai. Besok, neraka baru harus dilewatinya lagi. Besok, topeng harus dikenakannya lagi, energi untuk bersandiwara dan berbohong harus dikeluarkannya lagi. Karena itu, karena itulah, ia harus cepat tidur.


Pagi-pagi berikutnya ia semakin bersemangat untuk berjuang melawan tantangan hidup di depannya. Pikiran bahwa hari ini harus menang lagi, harus sukses lagi mendominasi dirinya. Kali ini, di tempat kerjanya, dikritiknya semua kesalahan rekan-rekannya. Dia kemudian heran, heran sekali, mengapa orang-orang di sekitarnya bodoh sekali. Teman-teman dekatnya mendapatkan cukup darinya, kata-kata, “kalian kok bodoh?” sudah cukup membuat teman-teman dekatnya menjaga jarak. Sekali lagi, semua ini membuatnya berpikir bahwa ia bisa hidup sendiri tanpa orang lain, tanpa orang-orang bodoh itu.

Kejadian-kejadian kecil di tempat umum, seperti pelayan yang salah ucap, atau orang yang tak sengaja menyenggol tasnya ketika berjalan di tempat yang padat cukup untuk membuat darahnya mendidih. Dia bisa berteriak memarahi pelayan di depan umum, atau mengajak orang yang menyenggol tasnya berkelahi. Internet yang koneksinya lambat bisa membuatnya membanting handphonenya dan berteriak kesal. Atau tutup botol yang jatuh dari tangannya, serpihan roti yang jatuh ketika ia sedang makan roti bisa membuat moodnya berantakan. Segala sesuatu di dunia ini tidak benar. Semuanya tidak berjalan dengan benar.

Telepon selular yang ia matikan kali ini bukanlah dimatikan dengan alasan yang sama seperti sebelumnya. Ia mematikannya karena ia tidak mau diganggu oleh orang-orang bodoh itu. Ia ingin tenang menikmati hidupnya ini. Ia punya hak menikmati hidupnya dengan tenang, mengapa mereka semua harus menganggu ketenangan hidupnya?

Di kedamaian hidupnya hari ini, di tengah-tengah malam, ketika tak ada apapun yang bisa mengganggunya, ia menuliskan segala rencananya dengan detail sekali. Rencana-rencana dalam mencapai segala mimpinya. Segala sesuatu diaturnya dengan rapih dan benar, ditatanya setiap gol dan waktu-waktu batasannya. Malam-malam tanpa tidur dilaluinya untuk menulis, dan mengeluarkan setiap ide kreatifnya untuk dijadikan nyata.


Hari-hari panjang tanpa tidur berakhir dengan kesadaran yang datang kembali meninju mukanya. “Tidak ada siapapun yang menyukaimu.” Kejadian-kejadian kecil membuatnya sadar bahwa dia masih membutuhkan bantuan orang lain, rekan-rekannya. Ia merasa bersalah namun kesal karena perasaan bersalahnya. Hari ini dia benci sekali dengan dirinya sendiri. Di depan cermin, ditinjunya bayangan wajahnya hingga tangannya gemetaran mengeluarkan darah.

Dia bingung dengan apa yang sebaiknya dia lakukan, apa seharusnya yang ia kerjakan hari ini. Apa yang harus ia capai? Semua di depannya kelihatan gelap. Semua yang ia kerjakan tidak ada gunanya. Mengapa ia harus terus melanjutkannya?

Sore ini, ditelponnya nomor-nomor orang yang ada di kontak handphonenya. Kemudian ditutupnya sebelum orang di seberangnya bahkan mengatakan apapun. Dibantingnya telepon selular itu. Kemudian dia pergi, menuju toko bahan-bahan kimia untuk membeli beberapa alat dan bahan yang ia butuhkan. Setelah itu, dicarinya hotel, check in, dan malam ini diraciknya bahan-bahan itu sebelum ia siap menyuntikannya ke dalam pembuluh darahnya.

Malam ini, dengan perasaan dendam pada dirinya sendiri, dibunuhnya ia.

Sebelum itu, sepercik kebimbangan mendatanginya, “apakah di dunia selanjutnya nanti aku akan menderita lagi?”. Benar, apakah di dunia yang menunggunya di seberang sana setelah kematiannya, akan didapatinya neraka baru? Apakah takdirnya telah menentukan bahwa selamanya ia harus berada di neraka?

Malam ini ia tertidur tanpa terbangun lagi. Apakah yang akan ia hadapi di dunia sana?

Sabtu, 23 Juni 2018

neraka


Apa artinya hidup?

Dari dulu sampai sekarang, mungkin, tidak ada pertanyaan paling serius yang aku tanyakan selain itu.

Apakah aku akan mempertahankan napasku walaupun aku hanya bisa berbaring di atas tempat tidur?

Sudah sekitar sebulan, Kiro mengalami penyakit yang tidak aku ketahui apa. Aku berubah menjadi pengecut paling parah yang pernah aku kenal. Ternyata aku sepenakut ini.

Apakah Kiro harus kupertahankan meskipun dia akan cacat? Atau haruskah kubiarkan dia mati saja? Pertanyaan yang terakhir adalah pertanyaan yang paing takut aku utarakan bahkan pada diriku sendiri. Aku takut pada diriku yang pengecut. Aku benar-benar pengecut.

Untuk apa kita hidup? Kemarin, melihat kondisi Kiro yang sudah tidak mau makan dan tidak bergerak tapi masih bernapas, aku berbisik berkali-kali pada diriku sendiri, “jigoku da, jigoku da, jikogu da”. Ini neraka, ini adalah neraka. Hidup tanpa bisa apa-apa, tapi masih bernapas. Ternyata mati tidak semudah itu. Jika tubuh kita masih ingin hidup, mati tidaklah mudah. Sebaliknya orang yang kelihatannya sehat bisa jadi langsung mati karena serangan jantung mendadak. Apakah sebenarnya Kiro masih bisa dipertahankan, seandainya aku mencari suntikan dan memberinya makan lewat suntikan, memberinya cairan infus dan obat, apakah sebenarnya hidup Kiro bisa dipermudah? Kemungkinan-kemungkinan ini membuatku takut. Aku takut bahwa ternyata akulah yang membuatnya jadi semenderita ini.

Membayangkan dirinya disana, kedinginan. Apakah dia mengharapkanku datang dan sekedar menemaninya melewati hari-hari panjang di neraka?

Kiro, aku takut. Aku tidak bisa mengontrol rasa takutku. Aku benar-benar pengecut.

Bukan hanya rasa takut, perasaan senang, sedih, marah, semuanya, aku tidak bisa mengontrol semua emosiku. Aku adalah orang paling gila yang pernah aku kenal.

Hari ini rasa frustasiku menumpuk, lalu aku menangis, marah, dan ya, kebingungan soal hari ini apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku ingin lari.

Selasa, 15 Mei 2018

aku ingin Mati


Aku ingin mati. Seandainya saat ini di depanku ada sebuah pistol, akan kuambil, kuarahkan ke kepalaku, dan kutarik pelatuknya.

Obsesi. Mati sudah menjadi obsesi bagiku. Dalam keadaan depresi, setiap hari, setiap saat, sepanjang hari, yang aku pikirkan hanya bunuh diri. Kemarin aku melihat gedung tinggi di perjalanan. Aku terpikir loncat dari gedung, pasti sakit, sakitnya ketika sampai di tanah membuat shock dan kematian yang datang bukan hanya karna kerusakan pada kepala dan badan, tapi juga karna shock berat. Gedungnya harus tinggi, kalau tidak aku cuma akan sekarat. Sebelum aku sampai di tanah, harus kuiris dulu pergelangan tanganku, nadi yang ada di situ. Sebelum sampai di tanah aku harus pingsan kehabisan oksigen dulu sebelum aku mendapatkan shock benturan keras di kepala. Sepanjang perjalanan, itulah yang kupikirkan.

Hari ini aku berpikir bunuh diri dengan pistol jauh lebih baik. Aku takut menyakiti diriku. Aku bahkan tak tahan melihat katak dibedah di laboratorium. Aku tak ingin melihat diriku menderita kesakitan. Mati karna shock mungkin pilihan bagus. Obat tidur mungkin juga bagus, tapi sering kudengar obat tidur tidak efektif membunuh. Racun akan membuat kesakitan. Pistol. Jika kuarahkan ke tempat yang tepat, aku bisa mati seketika. Seandainya di depanku ada pistol.

Kemarin malam, aku menonton video di youtube. Hampir setiap saat aku menonton video youtube atau browsing tentang mati. Video itu menyuruhku membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku mati. Keluargaku akan trauma berat, mungkin mereka akan depresi parah. Teman-teman dekatku akan menyalahkan diri sendiri. Semua orang membicarakanku. Kejelekanku mungkin juga akan dibicarakan orang. Bunuh diri hanya akan membuat orang lain ikut menderita.

Aku tau ini salah. Pikiran pikiranku ini salah. Seharusnya aku tidak begini. Sejak kecil aku selalu berpikir apakah orang-orang memikirkan hal yang sama denganku. Sekarang aku tau bahwa jawabannya adalah tidak. Mereka tidak mengerti apa yang aku rasakan. Kejijikan yang aku rasakan pada dunia dan diriku sendiri, kejijikan abnormal yang sampai sekarang aku tak bisa menjelaskannya. Aku tidak tahan. Aku lelah dinaik turunkan seperti ini. Aku kehabisan akal, dengan cara apa lagi aku harus kelihatan normal.

Mungkin mati secara natural lebih baik. Mungkin aku harus melakukan sesuatu supaya aku kena serangan jantung. Aku melakukan pencarian di internet, hal apa saja yang memicu serangan jantung.

Inilah aku, setiap hari, sepanjang hari, saat ini. Dua tahun lalu aku masih menyimpan list rencanaku yang detail. Aku yakin aku bisa mencapai semuanya, ini semua cuma masalah waktu. Aku mendorong diriku ke sisi ekstrim, memaksanya keluar dari zona aman. Aku berpikir untuk bergabung dengan beberapa organisasi dan komunitas sementara aku mengambil sks yang cukup banyak di kampus. Pada akhirnya, ketika perasaanku dijatuhkan, aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Mimpi burukku tak pernah berubah. Di depanku, sekolah madrasah yang aku harus selalu datangi. Kenapa aku harus sekolah madrasah ibtidaiyah lagi? Dan aku selalu terlambat datang kesana. Aku takut, semua mimpi burukku membuatku takut.

Menit-menit yang kuhabiskan untuk memakai sepatu, menit-menit yang kuhabiskan di kamar mandi sebelum aku berangkat, jalan-jalan yang kulalui ketika pulang, jalan-jalan yang gelap, yang tidak familiar tapi selalu muncul di mimpiku, orang-orang yang mengejar dan ingin membunuhku. Aku terbiasa dengan itu semua. Mimpi-mimpi itu selalu datang. Dan semua mimpi itu menggambarkan apa yang benar-benar kurasakan.

Apakah aku harus menyerah? Putus asa? Jika saat ini aku memilih mati, aku harus mengeluarkan usaha untuk mendapatkan alat-alat untuk mati, atau setidaknya merencanakannya dulu secara matang. Karna aku tidak punya kesempatan, di depanku tidak ada pistol, hanya ada gunting dan pisau dapur yang aku tau tak kan membunuhku secara cepat, dan aku tak mau melihat darah berceceran dimana-mana, menciptakan sebuah TKP pembunuhan yang menyeramkan.

Kemarin aku juga menonton video youtube Zakir Naik dan aku menangis, aku tau aku diberkahi dengan nikmat hidayah, mengapa aku tidak bersyukur. Mengapa? Apakah Tuhan benci melihatku? Aku tidak bisa naik, sepertinya sekarang-sekarang ini aku akan menghabiskan waktuku di lubang ini. Tanpa siapapun tau. Tak ada yang bisa kuajak bercerita. Semuanya semakin membuat kondisiku memburuk, mereka tidak memahami apa yang benar-benar terjadi. Secepat itu mereka mengambil kesimpulan dan memberi nasihat. Aku tidak pernah meminta nasihat.

Seandainya di depanku ada pistol.

Aku tau dunia ini lapangan perang yang berat sekali dilalui untuk orang-orang sepertiku. Aku harus bicara pada orang lain, mereka harus tau apa yang aku alami. Aku tidak bisa sendirian terus menyimpan semuanya. Aku benar-benar ingin mati. Saat ini, seperti sebelum sebelumnya saat aku mengalami kondisi yang sama, aku berharap mukjizat.

(Hari ini aku baru menyadari bahwa ngilu ngilu yang selama ini muncul di beberapa tempat di tubuhku, berpindah pindah dari satu tempat lain, bisa jadi disebabkan karna kecemasan)


Kamis, 26 April 2018

Congrats, me

I am struggling. I am struggling. I have made this far. Congratulation. I need no help. I am strong. Maybe i will stop blabbering fucking shit. I need no one. At least i am living now. Congratulation.

Rabu, 14 Desember 2011

Sekai o Shinjite iru

What is happening with you fuckin' fellows?

do i need to continue trusting you guys?
is'nt that just wasting my precious time?

..................................................................

Orang tidak mungkin percaya pada satu kata. Harus menjelaskan panjang lebar pun, sia-sia, kalian tidak percaya. Aku bukan orang yang bisa dipercaya. Karna aku bahkan, membohongi diriku sendiri. Coba kalian jadi aku. Tidak mungkin. Peran ini Tuhan berikan khusus untukku. Dan aku membuat diriku seperti pecundang di hadapanNya.

"Tuhan menciptakan pilihan yang penuh misteri. Manusia membuat skenario ceritanya sendiri, dan Tuhan menyetujuinya. Tak ada yang mampu menghentikan semua ini. Sebuah niat tak mampu dihentikan. Karna ia punya kekuatan yang dipinjamkan oleh Tuhan."

Aku akan mulai semuanya sekarang. Dan Tuhan, pinjamkan aku kekuatanMu...........

Minggu, 04 September 2011

I Find Me There

Seperti mariyuana,
Aku membutuhkanmu...
Seperti napas,
Hadirmu di pikiran tidak kusadari..
Seperti denyut nadi,
Namamu tersebut merdu..

Tak kutemukan diriku dimanapun juga.
Tersesat kebingungan..

Tau?
Berkali telah kubunuh diri,
Berkali telah bangkit..

Ragaku disini,
Berpisah dengan segala pikiran tentang kau..
Jauh kau bawa aku di jalanmu..
Tak mampu berbalik,
Seperti magnet,
Kekuatan tarikanmu..

Seperti ekstasi,
Rindu ini padamu..
Seperti air,
Sejuknya rasa..

Sadar,
Tau diri ini..
Kau dan Aku sama.
Kita titik yg hitam bagi kita..
Tapi, lihat jauh ke dalam..
Cahaya Tuhan melingkupi cahaya setiap bintang.

Dan,
Malam ini..
Kupandangi langit gelap penuh titik terang..
Kutemukan satu titik cahaya yg tak mampu kupalingkan pandangan darinya..
Tidak mengerti..
Tapi cahayamu membelenggu dalam pasung taman hijau surga yg penuh anggur surga..
Dan kutemukan diriku di sana....

Karna,
Aku mencintaimu..

Seperti orang gila...

seperti orang gila,
aku menangis keras di pinggir jalan.
tenggelam dalam duniaku yang tertutupi kabut.

mata-mata memandangku,
dan tak ku hiraukan
iba dan heran mereka.

melepas beban,
telah lama memberatkan langkah.
sebab aku kini sakit.

terbayang selintas,
KITA.
kenangan yang telah lari…

bolehkah berteriak,
memanggil rekaman alam.
ingin hidupi masa itu saja.

Arggghhhh…!
ada apa dengan dunia ini?
bukan! Ada apa denganku?

hilang semua warna ceria,
terenggut.
air mata kini tak teraba.

nikmat ini tak terlihat,
hilangnya nikmat menyibukkan pandangan.
dan, aku hilang…

dimana kini aku?
sakit..ah!
Raja, tolong hambaMU…

halnya orang gila,
menangis keras di tepi jalan,
tenggelami ratapan...


Sabtu, 03 September 2011

It's hard to breathe and stand at this level

Angin menerpa dengan lembut.
Membawaku menyusuri jalan setapak.
ya, ini jalan yang ku pilih dari hasil perlawananku dengan diri sendiri.
Ku daki sebuah gunung.
Sebuah jalan pintas menuju muara sungai yang ku tuju.
Dengan semangat pantang mundur,
penasaran ingin kulihat pemandangan apa di atas sana.
Telah sampai aku di gerbang puncak.
Kurasakan udara yang semakin berbeda.
Dinginnya puncak membuat rindu pada kehangatan.
Ah, ingin aku pulang, ingin aku turun.
Dingin ini menakutiku.
Apa daya, aku.
Aku tak bisa menyerah.
Tidak boleh kulupakan semangatku sebelumnya.
Aku harus maju, tidak ada alasan lagi untuk mundur.
Kini, ku taklukkan gerbang,
Sampailah di sini.
Sebuah daerah yang membuatku sulit bernapas.
Dingin, dan angin yang tiba-tiba menerpa begitu kuat.
Jika, tidak ku genggam tanganMu,
telah jatuhlah aku.
Angin apa yang dikirim untuk menguji kekuatanku berdiri.
Seakan meminta bukti pernyataan kekuatanku pada alam.
Ya, aku terlalu sombong pada semua ini,
Padahal aku sesungguhnya
tidak lebih dari sebuah kotoran berjalan,
yang membawa aib kemana pun ia pergi.
Dan masih bisa tersenyum ketika orang lain memuji topengnya…….

i am walking on the range of this snowy mountain

Kamis, 01 September 2011

It's hard for smile!

Aku tidak tau mengapa senyum begitu sulit bagiku saat ini dan saat-saat lainnya. Aku ingin sekali tersenyum bebas, dengan tulus dan sempurna. Tapi sungguh, semuanya begitu sulit, semua begitu sulit.

Senyum itu sedekah yang paling mudah kan? Tersenyum membuat setiap orang yang mendapatkannya merasa hangat. Aku tau! Tapi aku bukanlah seorang aktris professional yang dengan mudahnya tersenyum seolah-olah aku baik-baik saja.

Kau mungkin memaksaku, tersenyumlah pada mereka dengan tulus maka bebanmu akan terangkat. Ajarilah aku bagaimana caranya! Karna aku terlalu angkuh bagi siapapun!

Kau mungkin melihatku tersenyum dengan mudahnya di satu momen yang langka atau jarang, tapi beberapa menit kemudian tiba-tiba aku begitu murung. Aku memang tak dapat dijelaskan. Aku tak mampu mendalami keangkuhan yang merajaiku. Pun terlalu angkuh bagiku untuk meninggalkannya. Maka jangan pernah merasa kau mampu memahamiku, karna ucapanmu ku anggap tak lebih daripada omong kosong!

Senyum? Aaaaahhh……. Aku juga berharap aku mampu melakukan sandiwara sebaik mungkin untuk membuat orang lain bahagia. Kenapa aku begitu lemahnya, aku hanya amatiran di dunia ini. Oh Darwin, teori evolusimu memang benar dalam kasus ini!

Percuma, kau membawaku ke satu tempat, berbicara padaku mengenai hal-hal menyenangkan untuk membuatku lepas dari semua ikatan yang menyiksa ini. Kawan, tinggalkanlah aku sendiri, aku tidak nyaman diperlakukan seperti yang lain mengkhawatirkan temannya. Ya! Aku aneh. Tebakanmu benar. Orang menyebalkan yang egois yang sulit memahami orang lain, keras kepala.

Doakan saja agar aku mampu bertahan di sisa kehidupanku ini. Agar aku mampu belajar tersenyum di atas semua luka. Agar aku mampu membahagiakanmu. Karna aku ingin sekali melakukannya.