Tampilkan postingan dengan label My notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My notes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2025

Dunia yang sepi

Duniaku tanpamu sebelumnya sepi

Jalan-jalan yang kususuri semuanya tak bersuara, tak berwarna

Aku hanya tenggelam di dalam kerinduan yang membutakan hari-hari

Seakan segalanya mengingatkanku pada seseorang yang kunanti

Seseorang yang tak akan pernah menepati janji

Duniaku berbeda jauh dengan duniamu yang ramai

Yang penuh dengan romansa dan wanita-wanita pemuja

Kawan dan musuh, segala aktivitas dan kesibukan yang membuatmu tak pernah melihat ke atas langit

Ke langit yang selalu kutatap setiap sore di perjalanan pulang

Langit yang tak pernah mengabarkan keberadaanmu

Duniaku sepi tanpa keberadaanmu

Hari-hari yang penuh dengan penantian akan seseorang yang tak pernah ada

Imajinasi akan sosok yang hanya ada di kepalaku

Hingga akhirnya kamu datang

Memberiku pertanda dengan bahasa yang tak pernah kupahami

Untuk selalu menunggu

Menunggumu menyelesaikan semua hal yang harus kau selesaikan




Sabtu, 07 Oktober 2023

progress

Aku pernah melewati masa kesyukuran yang luar biasa, di dua titik kehidupan yang sangat kusadari. Tidak seperti ketika baru lahir, rasa syukur yang muncul begitu jelas seakan aku bisa melakukan apapun untuk membayar apa yang Tuhan berikan padaku saat itu. Masa itu adalah ketika aku menikah dengan Alif, dan ketika aku selesai melahirkan Mari. Pada saat itu rasanya aku rela apa yang ada padaku diambil demi apa yang Tuhan berikan padaku lewat Alif dan Mari.

Tentu saja aku melewati rasa gelisah yang parah di perjalanannya. Di perjalanan pernikahan bersama Alif, dalam berusaha melebur dengan kepribadiannya, berusaha membangun pernikahan yang ideal bagi masing-masing satu sama lain, terasa meremukkan tulang dan membakar kulit. Seakan jika semuanya hancur dan berakhir, maka aku tidak punya apa-apa lagi dan lebih baik aku mati. Seakan dia adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini, dan tanpanya aku kehilangan tujuan. Tuhan berusaha mengajariku bahwa tidak seperti itu caranya mencintai. Benar bahwa aku begitu mencintai Alif, sehingga mungkin aku kebingungan bagaimana mengekspresikan perasaanku kepadanya. Karena itu aku menyakiti dia dan diriku sendiri, padahal aku mencintainya. Mungkin pula aku terlalu tenggelam dalam perasaan cinta yang dalam, sehingga aku melupakan banyak hal. Tuhan menegurku dengan banyak cara, dan mengizinkanku menyadari kesalahanku.

Aku masih perlu banyak belajar mencintai dengan benar, yang dengan senang hati ingin kupelajari. Saat ini aku sadar bahwa yang paling harus dan ingin kuberikan kesan adalah Dia yang memberikanku nikmat selama ini. Di atas segala omong kosong kadaluarsa yang pernah kukoarkan tentang kesetiaanku pada Tuhan yang masih naif saat itu, aku ingin membetulkan lemari penyimpanan informasi dan pelajaran yang ada di kepalaku. Membersihkan sistemnya dari virus yang melemahkan dan menggerogoti. Aku ingin kembali pada diriku yang dulu dengan lebih bijak dan dewasa. Aku ingin lebih diam dari aku yang dulu. Aku ingin berhenti bicara sebelum kata-kataku kupertimbangkan dengan benar dan tidak ingin lagi menyakiti orang lain (dan diriku sendiri). Meskipun aku sadar bahwa aku masih belum menguasai semua kebijaksanaan dan keterampilan untuk tidak menyinggung dan menyakiti orang lain, setidaknya aku semakin berkembang dari aku yang dulu.

Aku ingin semakin sadar, semakin berisik di dalam pikiran (dengan suara-suara pertimbangan, bukan melebih-lebihkan kenyataan di sisi negatif), semakin sunyi di mulut, dan semakin aktif mengukir pikiran dan perasaan lewat tulisan dengan lebih bijak dari sebelumnya. Mungkin, aku telah menemukan apa yang harus kulakukan di dunia ini. Peran apa yang akhirnya kuambil dan bagaimana aku harus mengambilnya. Kebimbangan yang dulu pernah memenuhi pikiran diangkat satu persatu sehingga aku semakin yakin. Semua pemicunya adalah keberadaan Alif dan Mari. Mereka berdua adalah unsur paling penting di kehidupanku saat ini (dan juga mamahku). Karena itu aku akan melakukan apa pun yang perlu dan baik untuk mempertahankan apa yang perlu kupertahankan.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku menghabiskan waktu dengan orang yang salah atau mengajakku menyesali apa yang kutinggalkan demi kehidupanku yang sekarang (kehidupan yang katanya lebih di bawah kehidupanku yang sebelumnya), aku bisa dengan yakin menjawab bahwa apa yang pernah kulewati sebelumnya mengubahku menjadi lebih bijak, bahwa apa yang kujalani sekarang sesungguhnya lebih berarti dan bermakna, dan bahwa aku semakin jauh dari kebimbangan. Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku bicara omong kosong, bahwa aku hanya sedang di fase manik, aku sadar bahwa ketika aku sedih dan putus asa, pikiran jelekku kembali datang. Bedanya dari yang dulu adalah ketika fase depresi datang, aku semakin tangguh untuk memanjat sendiri keluar dari lubangnya, tanpa berteriak meminta tolong lagi dari orang-orang di sekitar. Aku bahagia sekali dengan perubahanku yang sekarang, dengan kemampuanku yang kudapati karna bertahun-tahun mengendap di fase depresi yang panjang tanpa diketahui orang lain. Aku bahagia dengan kemandirian psikis yang aku dapat dari pergulatanku yang panjang dengan diriku sendiri. Jadi, jika ada yang ingin mengajakku menyesali semua yang terjadi (termasuk diriku sendiri), akan kutendang mereka semua dengan lebih santun dari sebelumnya.

Tidak, Levi tidak menjadi orang lain, Levi berkembang, Levi mendewasa dan membijak. Dia menjadi versi lebih canggih dari versi yang sebelumnya masih naif. Belum lebih canggih dari versinya di masa depan, tentu saja, tapi setidaknya dia terus berkembang, seperti teknologi yang ada sekarang, semakin berkembang setiap menitnya. Manusia (atau jika kita membandingkannya dengan teknologi) dengan segala karakternya tidak seharusnya berhenti di satu titik perubahan. Seakan-akan ada titik akhir mutlak yang memberhentikan kita dari perjalanan mendewasa. Selama kesadaran masih bertahan, tidak ada titik akhir dalam mendewasa. Kita tidak berubah menjadi orang lain, kita mengupdate sistem lama diri kita menjadi lebih canggih.

Karena itu kubiarkan diriku berusaha sesuai kemampuanku saat ini untuk terus menyerap unsur perubahan ke arah yang benar, untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi dan di dalam diri sendiri, untuk semakin takjub dengan Tuhan dan apa yang diciptakanNya, untuk memberikan sesuatu yang baik dan manfaat yang bisa kuberikan pada dunia. Berubahlah, menangislah sebentar, bangkitlah semakin cepat, bergeraklah semakin stabil dan seimbang. Semoga saja pada akhirnya kita sampai pada kelegaan luar biasa, di tempat peristirahatan kita di surga abadi.


Minggu, 28 Agustus 2022

mood

Mood selalu menghancurkan rencanaku. Apa pun bisa kurencanakan, dengan detail, dengan segala perasaan optimis, bahwa seandainya manusia bisa semudah robot dikendalikan, maka semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana.

Kenyataannya, robot pun bisa mengalami kerusakan sistem, kerusakan yang lebih buruk dari manusia. Mood adalah penghancur sistem yang ada di dalam kepala manusia.

Aku tertekan, luar biasa. Tekanan yang datangnya dari dalam diri sendiri. Terhadap peranan-peranan baru. Aku tak mampu mempertahankan kemampuan adaptasi dalam waktu yang lama. Aku tak paham. Seandainya aku paham, seperti seorang teknisi paham dan mampu melakukan perbaikan kerusakan pada suatu hardware atau software, maka akan kubedah kerusakan yang ada di dalam diriku sendiri. Oh, apakah memahami psikologi cukup untuk memperbaiki segala kerusakan? Aku skeptis.

Dari dulu, aku tak pernah dapat menoleransi kekacauan rencana. Jika rencana rapi yang kususun berantakan, maka mood buruk mengambil alih dan menyelesaikan ending kekacauan rencana.

Aku benci jika ekspektasiku terhadap diri sendiri hancur, oleh pikiran buruk, perasaan buruk, dan segala hal yang di dalam diriku yang tidak sepenuhnya kupahami. Di suatu waktu aku begitu berharap dan yakin dengan kemampuanku memenuhi harapanku sendiri (oh, karna aku secara teori tau caranya) bahwa aku mampu berjalan lancar ke depan, sesuai apa yang kuinginkan. Tapi ketika segala sesuatunya tidak sesuai, entahlah apa yang tidak sesuai, atau ketika tiba-tiba, entah darimana datangnya, aku merasa lelah sekali, secara fisik maupun mental, aku tertekan, pundakku terasa amat berat, terhadap segalanya, segala tanggung jawab yang kemarin dengan bangganya kutanggung. Oh, mengapa aku terus bertahan membawa perasaan benci yang tak mampu kupahami ini. Apakah kecintaanku terhadap dunia yang ideal terlalu berlebihan sehingga aku bahkan benci dengan keterikatanku terhadap fisikku sendiri.

Inilah konsekuensi yang harus ditanggung jika hidup dengan “orang lain”, orang-orang selain diriku sendiri. Di sisi lain, jika aku hidup bertahan dalam kesunyian pun, akan ada konsekuensi lain yang perlu kutanggung untuk pilihan hidupku. Pada suatu waktu aku bahkan heran mengapa manusia sangat menyukai keterikatan emosional dengan orang lain, atau keterikatan fisik dengan orang lain. ya, di suatu waktu. Pada waktu lainnya, aku paham secara “rasa” karna aku pun mengalaminya.

Apakah aku tidak normal? Atau ada apakah di dalam kepalaku yang membuatku mempunyai pikiran dan perasaan yang “twisted” yang terasa tidak nyaman ini. Dari dulu aku selalu ingin tahu, apakah orang-orang lain mempunyai pikiran dan perasaan yang sama, atau apakah ini normal, dan darimana indikator kenormalan itu dibuat. Banyak sekali hal yang tidak kumengerti.

Sekarang, tanggung jawabku amatlah besar. Karna berkaitan dengan jiwa lain yang akulah penanggung jawabnya (secara manusiawi). Tapi, aku tak sanggup sepenuhnya menanggungnya. Ketidakmampuan emosi, ketidakstabilan perasaan, kelemahan mental membuatku tertekan dari dalam. Aku tidak mau diperlakukan seperti aku memperlakukan. Karna itulah aku tidak mampu memaafkan ketidakmampuanku sendiri.

Tuhan, apakah kebahagiaan itu? Benarkah ia hanyalah produk ilusional kepala kita sendiri?

Aku, siapakah aku ini? Siapakah akan kusematkan identitas diriku? Aku kehilangan diriku sendiri. Pengorbanan membuat siapapun kehilangan dirinya. Ego adalah diri, maka pengorbanan adalah meninggalkan ego. Karna itulah mengorbankan diri artinya membunuh partikel-partikel identitas diri. Benarkah begitu?

Layakkah aku berduka? Pada apa? Kematian identitas? Apa itu identitas? Bukankah aku bisa membuat identitas baru? Apakah identitas itu dibuat?

Aku menyadari bahwa aku amatlah mencintai diriku sendiri dan orang-orang yang sekarang tanggung jawabnya ada di tanganku. Tapi sampai sekarang pun puzzle bagaimana harus mencintai tidak akan pernah sempurna kuselesaikan. Hidup ini adalah proses pencarian dalam kebingungan. Karna mereka-mereka penafsir petunjukMu hanyalah sekedar interpreter, yang tak akan sepenuhnya mampu menginterpretasikan kompleksitas maksudMu.

Rabu, 09 Februari 2022

sakit

Sakit. Aku ingin sekali menghilang, pergi, ke tempat dimana tidak ada ruang dan waktu.

Jika dosaku memang sudah menumpuk dan membusuk, maka Tuhan, apakah yang harus kulakukan? Ke sudut dunia manakah aku harus pergi?

Bisakah Engkau, wahai sang maha pengampun, menoleransi pendosa yang ketakutan dan tak mampu berbuat apa pun sepertiku? Atau sudikah Engkau, memberitaukan kepadaku dengan bahasa yang lebih sederhana dan mampu kupahami, apa yang Kau inginkan dan rencanakan terhadapKu?

Apakah takdirku adalah membusuk di neraka? Atau masihkah kasih sayangMu menjagaku tetap di batas surga?

Sakit. Aku lelah. Lelah memberitaukan kepada seluruh dunia apa yang kurasakan. Rasa sakit ini, seakan ilusi yang selama ini kulihat buyar dan menampakkan wujudnya yang mengerikan di hadapanku. Aku tak ingin bertahan lagi. Aku ingin pergi. Pergi, dan melindungi diriku sendiri dari menyakiti orang lain, disakiti orang lain, dan menumpuk dosa bagi diriku sendiri.

Aku tak paham. Aku tak paham apa yang ingin Tuhan ajarkan kepadaku. Dari sekian luka yang datang, sembuh, kambuh, membusuk dan bernanah, obat apakah kiranya yang benar-benar mampu menghilangkan semuanya? Atau apakah Ia ingin aku bertahan dengan segala luka dan sakit yang kuderita, berjalan, bertahan hidup di atas muka bumi, berusaha menjadi orang normal?

Aku menyerah, Tuhan. Bolehkah aku menyembunyikan diriku sendiri dari dunia ini? Apakah sesungguhnya itulah yang Kau inginkan dariku?

Wahai Engkau yang maha penyayang dan pengasih, sudikah Engkau memaafkan ketidakmampuan dan kelemahanku, yang belum dan mungkin tak akan sanggup menjadi penerus orang semacam Fatimah? Bisakah kelapanganMu dalam pengampunan menoleransi keputusanku untuk mengasingkan diri dari dunia?

Aku ingin bercerai dari dunia, di dunia. Aku ingin berjalan, tanpa harus terlibat interaksi yang kompleks dengan sesama manusia. Bisakah aku hidup seperti itu? Apakah itu yang harus kulakukan? Atau apakah aku harus tidak menyerah, menyembuhkan diriku sendiri dan berkali kali lagi jatuh dan sakit, hingga entahlah, apakah ada sesuatu yang menungguku di depan? Atau apakah aku hanya berputar putar di lingkaran yang sama?

Kumohon, permudahlah jalanku jika memang sudah terlalu sulit bagiku. Kumohon sederhanakanlah bahasaMu sehingga aku yang bodoh ini lebih mampu memahami.

Aku mohon, izinkan aku bercerai dari semua ini. Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri dari dosa yang sudah terlalu membusuk di pundakku yang tak mampu lagi menanggung bebannya. Jika aku memanglah manusia yang lemah, maka Tuhan, izinkan aku berjalan di jalan yang lebih mudah menujuMu. Atau jika Kau berkehendak memberikanku sedikit saja kekuatanMu, maka berikanlah.

Levi

HambaMu yang lemah


Minggu, 24 Oktober 2021

Wahai Dunia, Aku Muak

Aku ingin sekali memasang sebuah toa besar di sepanjang garis katulistiwa. Lalu aku ingin mengumumkan pada seluruh dunia yang tidak peduli dengan ocehanku ini, bahwa aku muak setengah mati dengan dunia ini.

Orang-orang di sekitarku mungkin sama saja denganku, mereka muak, tapi dengan ocehanku. Melihat aku menulis betapa muaknya aku terhadap ini, terhadap itu, mereka mungkin hampir ingin muntah, sampai-sampai mereka berusaha menjaga jarak atau pun langsung menjauhi karena aku benar-benar memuakkan. Begitu pula kamu. Dari awal kamu tidak pernah ada di sisiku. Kamu selalu ingin berbeda pendapat, kamu selalu ingin mendebat. Padahal kamu benci jika aku menolakmu, tapi kamu pun sama saja, kamu selalu menolakku.

Aku benci semuanya. Aku benci.

Aku sudah hampir tak mampu lagi membedakan apakah aku mensyukuri semua anugerah dan nikmat yang Tuhan berikan padaku dan pada seluruh makhluk di dunia ini, atau aku mengutuk semuanya. Aku tak paham. Aku tak memahami diriku sendiri.

Mungkin aku tak akan pernah menemukan dunia yang tepat, di mana pun. Dan mungkin nasibku hanyalah berusaha berdamai dan menghayati saja peran memuakkan yang sudah seakan selamanya aku lakoni ini.

Setelah Tuhan menjawab doa putus asaku yang terakhir kali dengan kedatanganmu, aku sudah hampir tidak pernah lagi berpikir ingin mati. Jika aku mati, maka akan ada seseorang yang sangat amat sedih karena kepergianku yang tragis, pikirku. Aku juga sangat amat menikmati hidup ditemani seseorang yang selalu di sampingku setiap saat, menjadi tempatku bersandar setiap saat aku butuh tempat bersandar. Aku sangat bahagia karena hadiah seorang teman adalah hadiah terbesar dan teristimewa yang pernah Dianya berikan padaku.

Aku tak lagi pernah ingin mati, sejak beberapa saat setelah aku hidup denganmu. Karena aku dibiarkanNya berharap lebih banyak lagi, berharap bahwa sesuatu akan segera berubah karena ada kamu di kehidupanku. Entah aku akan berubah menjadi sosok memuakkan lainnya di bumi, atau entah aku akan dibawamu ke antah berantah dunia dongeng yang di dalamnya hanya ada orang-orang yang menyenangkan.

Aku hanyut dalam duniaku yang baru. Dunia di mana di dalamnya ada kamu.

Dan jika kamu tidak lagi ingin meneruskan semua mimpi yang aku dan kamu sedang jalani ini, jika kamu sudah tak lagi berpikir bahwa kamu mampu menemaniku terus di dunia mimpi ini, maka aku tidak lagi punya tujuan.

Dan aku akan semakin mengutuk dunia ini. Aku akan semakin membenci  dunia ini. Tanpa pernah ingin lagi mati, aku akan tersiksa dalam perasaan mual yang terasa hampir selamanya kuderita ini. Dan juga perasaan benci yang tak lagi perasaanku mampu tolerir.

Akan menjadi monster seperti apakah aku nanti?

Atau mungkin aku salah, ternyata aku malah akan menjadi malaikat super sabar yang amat tahan banting menahan segala ujian di dunia ini.

Sialan, semua ini terasa sangat sialan.

Tuhan, aku benar-benar anak nakal.


Kamu yang Kucintai

Kepadamu yang sangat aku cintai sekarang ini.

Kepadamu, yang hidupku kutujukan sekarang ini.

Aku sadar sepenuh jiwa, bahwa aku bukanlah kesempurnaan yang kamu harapkan. Aku bukanlah bayangan ideal tentang sebuah hubungan yang ada dalam pikiranmu.

Aku tau betul bahwa kamu begitu berusaha berkomitmen, begitu menjebak dirimu sendiri dalam penjara kecintaanmu terhadapku dan dunia yang ingin kau bangun denganku. Aku paham.

Aku tau kamu mencintaiku, aku tau kamu peduli padaku, dengan keterbatasan yang kamu punya. Aku tau kamu berusaha menginjak egomu yang sebesar raksasa, agar bisa tetap berdampingan denganku.

Hingga akhirnya kamu runtuh. Hingga akhirnya aku membuatmu hancur berkeping-keping.

Aku tau kamu begitu membenciku, mendendam sambil berusaha mencintai.

Aku tau bahwa kata-kata apa pun yang kuucapkan, perilaku apa pun yang kutunjukkan, bahkan pengorbanan apa pun yang kulakukan, tak akan membuatmu semakin mencintaiku, tak akan membuatmu memahami bahwa aku amat sangat mengabdikan seluruh kehidupanku yang sekarang agar bisa hidup dalam dunia mimpi bersamamu.

Bahwa aku ingin lari, secepat yang kubisa, bersama kamu, ke dunia mimpi, jauh dari dunia nyata, jauh dari hingar bingar dunia yang memuakkan ini. Aku bahkan sudah hampir tak peduli apakah kamu mau pergi bersamaku, menghilang di balik kabut, dilupakan manusia-manusia, dan memulai hidup yang benar-benar baru.

Aku ingin menarikmu, memaksamu. Aku mungkin tak ada bedanya denganmu, egoku sebesar raksasa. Aku menyembah diriku sendiri. Dan aku ingin membangun dunia sendiri, dengan kamu ada di dalamnya, dengan kamu sebagai pemeran utamanya.

Aku bukanlah perempuan yang membiarkan nasibku kamu bawa kemana pun, aku tidak pernah menjadikanmu pemimpin dalam duniaku. Sebesar apa pun aku berkata bahwa aku ingin menjadi perempuan patuh, aku sadar semua kata-kata konyol itu hanyalah omong kosong.

Putus asa sekali aku berusaha meyakinkanmu untuk mengikuti keinginanku, keinginanku yang sudah bertahun-tahun aku rawat, keinginanku untuk kabur, sejauh mungkin dari kehidupanku yang sekarang. Hingga akhirnya kamu mengajakku ke sana, secara tiba-tiba, “aku siap, besok..”, dengan keahlianmu memutuskan secara impulsif, ayo pergi sekarang, katamu.

Dan akhirnya aku sadar, akulah yang berputar-putar dalam pikiranku yang tidak kupahami. Aku menolak pergi. Aku menolak semuanya, aku menolak semua yang kamu ajukan. Tidak, tidak ada yang kumaui, bukan, bukan itu yang kumau. Lalu apa yang kuinginkan sekarang? Apa lagi yang kutunggu?

Padahal Tuhan memberikanku kamu yang dengan kemampuanmu memutuskan sesuatu secara ekstrim, dengan segala kenekatan yang kamu punya, aku bisa benar-benar pergi, sejauh mungkin. Meskipun aku dan kamu tak mampu menjamin apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya.

Aku tak tau apa yang kurasakan tentangmu. Entah apa dan siapa yang mempengaruhi, aku begitu membencimu. Kamu dan kerasnya kepalamu, besarnya egomu, dan segala hal tentangmu dan duniamu, aku sangat membencinya. Tapi aku lebih benci lagi ketika kamu mengatakan padaku bahwa kamu akan keluar dari tanggung jawab, bahwa kamu akan meninggalkanku seorang diri, tersesat di dunia yang sudah tak ada tujuan lagi. Bahwa kamu membenciku, dan ingin balas dendam, bahwa kamu membela orang lain dan bukan aku.

Entah kamu sadari atau tidak, aku ingin sekali disembah seperti aku menyembahmu. Aku ingin dibela seperti aku membelamu setengah mati.

Padahal aku tau, bukan hanya kamu yang memenjarakan pikiran dalam dunia idealmu sendiri, terjebak dengan bayangan ideal tentang dirimu sendiri, aku pun tak ada bedanya. Aku terjebak dalam bayangan dunia ideal di kepalaku. Karena itulah, kita berdua akan selalu menjadi musuh di panggung perdebatan. Lawan yang saling membela dunianya masing-masing.

Aku tau kamu pun membenciku seperti halnya aku membencimu. Pun aku tau bahwa kamu terjebak dalam penjara cinta, sepertiku.

Segala yang aku pikirkan tentangmu mungkin salah. Mungkin kamu sebenarnya amatlah setia padaku. Mungkin kamu akan kehilangan tujuan tanpaku. Mungkin aku salah. Aku harap aku salah. Aku amat berharap segala yang aku pikirkan tentangmu salah.

Tapi jika kamu selalu ingin menyelesaikan apa pun dengan perdebatan, apa pun, maka aku akan berdiri tanpa pernah jatuh, meladenimu hingga kiamat, hingga kamu mengaku kalah, atau hingga aku menyerah kalah.


Kamis, 04 April 2019

"aku lama menantimu"

Dan pada pagi kering yang menapasi badai pasir,
kau datang dengan sayap.
Membawakan lentera dari Sang Kekasih,
dan sebuah buku petunjuk catatan perjalanan yang kau tulis ulang.
Di atas permukaan pasir ini kau terbang dengan sayapmu yang gagah,
menyapu pasir menjauh,
memberikan tempat bagimu menapak.
Sekilas peristiwa kedatanganmu menyadarkanku,
pada penantian.
Dan pada kedalaman hati aku mengenalmu,
dibisikkannya pada seluruh nadi "aku lama menantimu".

Jumat, 15 Maret 2019

LUKA

“ya sabar..”, katanya. 
Tapi ini tentang luka di jantung yang sudah sembuh kemudian dihajar lagi di tempat yang sama. Bukan hanya bagian yang dihajar jadi babak belur, luka yang sudah sembuh disana jadi terbuka lagi, jadi semakin lebar karena ternyata itu luka belum pernah sepenuhnya sembuh. Kemudian korban dituduh melebih lebihkan ekspresi kesakitan, tidak mau memaafkan si penghajar. Tapi ini bukanlah masalah maaf memaafkan, ini masalah bagaimana caranya luka itu bisa sembuh lagi.

Saya tidak mengerti bagaimana seseorang yang mengaku menyayangi orang lain bisa hidup tenang dan bahagia setelah menusukkan pedang ke jantung salah satu orang terdekatnya. Saya pernah membunuh orang lain dalam dua kondisi. Satu, saya sengaja melakukan itu dan tidak merasa bersalah karna orang itu masuk ke kamar saya tanpa izin atau orang itu memang pernah mengacungkan pedang ke arah saya. Dua, saya mencari cara bunuh diri setengah mati setelah saya menyadari bahwa orang terdekat saya sekarat karena pedang saya.

Mungkin itulah alasan mengapa malam kemarin saya memimpikan Nino. Di dalam mimpi, Nino saya peluk seerat mungkin, seakan saya tidak mau kehilangan dia atau melihat dia terluka. Seperti takut kehilangan boneka kesayangan, saya memeluknya kemanapun saya pergi.




Rabu, 20 Februari 2019

"tuhan sudah mati"


“tuhan sudah mati”. Dengan bodohnya aku berusaha menanamkan pikiran itu di kepalaku, dan melanjutkan hidupku tanpa dia ada lagi di kepalaku. Tapi dia telah mendarah daging. Seperti kanker yang menyebar dan membunuh sistem perlindungan diri tubuh dari makhluk asing. Mungkin aku akan segera mati jika tak kulawan semua ini.

Setidaknya aku akan berjalan dengan langkah normal, membawa sel-sel kanker yang telah menyebar, yang telah menjadi kebencian. Tanpa kesadaran, aku akan dibawanya menjadi monster berbahaya.

Seandainya aku akan segera menjadi monster, akan kubunuh diriku sendiri. Sebelum itu akan kulawan sel-sel kanker yang dipenuhi kebencian ini, agar kutemukan lagi perasaanku yang sebenarnya yang telah ditutupi oleh sel-sel itu.

tugas


Aku merasa tidak akan pernah dipahami, bahkan oleh diriku sendiri. Tidak satupun keberadaan di dunia ini yang mengenal siapa aku. Di tengah kesibukan sekitarku mempersiapkan syukuran hal yang paling memuakkan bagiku, aku dipaksa merestui dan ikut berbahagia. Aku memaksa diriku berbahagia dan ikut menyongsong hari yang dinantikan, tapi jauh di dalam sudut kepalaku ada rencana pelarian. Aku akan lari, atau bahkan aku akan mati sebelum semuanya terlaksana. Aku ingin mereka tau bahwa sesungguhnya aku benci apa yang membuat mereka bahagia. Apakah aku harus pergi?

Mengapa aku harus selalu bersandiwara? Mengapa kejujuran pahit yang keluar dari mulutku tidak pernah mampu memberitaukan kebenaran? Aku heran. Mengapa aku selalu menghindar dari pembunuhan atau penyelamatan yang bisa kulakukan oleh kata-kata yang keluar dari mulutku? Setan berbisik di kepalaku, “mungkin karna kamu adalah orang paling baik di dunia ini. Karena itulah kamu tidak pernah ingin meninggikan atau menjatuhkan orang secara ekstrim”. Mungkin aku semakin berkembang menjadi iblis yang sempurna.

Aku tidak pernah mampu menyampaikan apa yang benar-benar kuinginkan. Hasilnya aku harus selalu mengalami mimpi buruk setiap malam. Dan aku harus semakin berpura-pura bahagia, ceria, dan baik-baik saja. Bahkan berpura-pura pada diriku sendiri, mensugesti diriku sendiri agar merasakan apa yang harusnya kurasakan, sebelum semuanya meledak, atau sebelum keberanian super benar-benar muncul untuk membunuh diriku sendiri.

Pagi ini di kepalaku muncul seseorang yang sudah lama mati, dia berbisik padaku, “Aku tunggu kamu disini”.

Tidak, tak kan kubiarkan diriku berharap pada apapun lagi kecuali Dia.

Dan kini, di atas semua air mata dan malam-malam yang berlalu tanpa tidur, aku memutuskan, aku akan terus menjadi aktris di atas panggung lawak ini, demi memenuhi tugas, dan menuntut gajiku atas apa yang kukerjakan di akhir masa nanti.

Selasa, 11 Desember 2018

CHAOS


Kepercayaan adalah salah satu hal yang bisa kita kontrol. Itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kita mempercayai sesuatu karena kita ingin mempercayainya. Percaya selalu diikuti keinginan. Ia bukan kata yang dapat berdiri sendiri. Meskipun ia sendirian di dalam kalimat, nyatanya dia dibayangi oleh “ingin”. Ketika kita percaya sesungguhnya kita ingin percaya. Begitu juga berharap, kita sesungguhnya ingin berharap. Tapi sesuatu semacam kebahagiaan, kesedihan, kesakitan, kemarahan, kurasa bukanlah keinginan. Jika ada motivator yang canggih memfatwakan bahwa kita akan bahagia jika ingin bahagia, dia adalah pembohong.

Selama 26 tahun aku hidup aku selalu dibayangi oleh pikiran bagaimana sebaiknya aku hidup, harus jadi seperti apakah Levi, dsb. Sepanjang waktu itu pula begitu cepat dan mudah pikiranku berubah, berganti-ganti dari satu filsafat ke filsafat lain, dari satu ideologi ke ideologi lain. Pikiranku terbuka. Aku menerima semua hal yang mendekati kebenaran. Meskipun kuakui tidak ada kriteria yang bisa dikatakan valid untuk mengukur kebenaran. Karena itulah jika seseorang berdiskusi denganku, mereka akan menyadari bahwa aku tidak memegang satu keyakinan apapun. Aku hanya berusaha menguji keyakinanku sendiri dengan argumen-argumen yang dapat menguatkan atau melemahkannya.

Selama ini manusia memegang satu keyakinan karena mereka memilih untuk memegangnya. Mereka memilih satu kriteria pengukuran kebenaran lalu memegangnya dengan kuat. Jika ada yang berusaha menggoyahkannya, mereka akan berusaha melawannya dengan menyodorkan senjata indikator yang dia pegang, memaksakan lawannya berpikir dengan cara yang sama tapi mereka sendiri tidak berusaha berpikir dengan cara yang sama seperti lawannya. Mereka semua adalah fanatik. Bahkan mereka yang menuduh kaum fanatik, pun adalah fanatik jika mereka mengaku punya indikator sendiri tentang kebenaran. Senjata kaum fanatik adalah label sesat untuk orang di luar mereka.

Aku bukanlah orang seperti itu. Atau setidaknya aku berganti-ganti dari satu fanatik ke fanatik lain. Seorang pengkhianat. Seperti Sartre dan Nietszche. Nietszche pernah mengatakan bahwa kebenaran hanyalah batu loncatan untuk mengarungi lautan kenihilan lagi, demi sampai ke kebenaran lain yang akan digunakan sebagai batu loncatan lagi. Hidup ini adalah perjalanan pemikiran untuk sampai pada kesadaran bahwa tidak ada yang nyata. Semuanya adalah palsu. Kenyataan adalah sesuatu hal yang tidak akan berubah. Nyatanya segala sesuatu berubah. Jika kita menerima segala sesuatu, menjadi orang dengan pikiran yang terbuka, maka kita akan menemui kenyataan bahwa semuanya palsu, kenyataan bahwa tidak ada yang nyata. Kita harus menutup pikiran kita agar bisa menetap di satu pulau kebenaran. Itulah mengapa banyak ajaran agama mengajarkan agar kita berhati-hati membaca buku atau berguru pada seseorang agar tidak terjatuh ke dalam kesesatan.

Jangan salah paham, aku percaya bahwa al-Qur’an adalah firman Tuhan, Muhammad saw adalah utusan terakhir. Aku percaya. Tapi bagaimana dan mengapa agama harus ada dan disampaikan bukanlah sesuatu hal yang bisa didoktrin dari satu kepala ke kepala lain. Aku tidak bisa dengan mudah menerima itu.

Aku selalu berusaha mengontrol apa yang orang pikirkan tentangku. Kupikir jika aku mampu memanipulasi pikiran mereka maka aku bisa mengontrol keadaan. Tapi aku bukan dewa. Aku tidak secerdas dan selicik itu. Aku bahkan tidak mengakui bahwa aku berusaha memanipulasi pikiran mereka. Kesimpulannya, jika aku bisa memprediksi masa depan dengan cara mengontrol keadaan maka aku menang. Tapi hidupku tidak pernah tenang. Aku selalu cemas akan apa yang terjadi di masa depan, akan apakah orang-orang berpikir seperti apa yang aku ingin mereka pikirkan, akan apalagi yang harus aku rencanakan.

Kadang-kadang ada orang yang akan menjawab tidak tahu ketika ditanya mengapa mereka melakukan sesuatu. Orang-orang ini bukan tipe orang yang akan melakukan pembunuhan berencana, mereka adalah orang yang mengikuti gejolak emosi sesaat untuk melakukan sesuatu. Bahkan pikiran mereka mungkin juga dikontrol oleh gejolak emosi sesaat tersebut. Mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka memilih sesuatu atau mengatakan sesuatu di saat-saat tertentu.

Aku juga seperti itu. Tapi setelahnya aku akan berusaha menganalisa apa yang terjadi di kepalaku ketika itu. Ini sungguh licik. Kita bisa mengklaim alasan apapun. Padahal kita tidak benar-benar tahu alasan kita sendiri karena hal itu sudah lewat dan kemungkinan besar bahkan kita sudah lupa sensasinya. Manusia saling membohongi. Semua ini adalah kepalsuan.

Aku pernah berpikir untuk menjadi aktor yang hebat dalam panggung kehidupan. Sekaligus menjadi sutradara beberapa cerita kecil. Jika aku bersikap ceria dan melemparkan humor setiap hari, maka mereka akan sering membuliku dan menjadikanku objek humor dan candaan. Jika aku tidak banyak omong dan jarang mengumpulkan tugas, mereka akan berpikir bahwa aku cuek. Hal-hal semacam ini, jika aku ingin sekelompok orang mempunyai pikiran tertentu terhadapku maka aku bisa menyesuaikan karakter mana yang akan aku pakai.

Suatu hari sebuah komentar semakin menyadarkanku, “Levi kan ceria orangnya”, ibuku sendiri yang berkomentar seperti itu. Aku selalu menceritakan dan berbuat hal-hal yang konyol di depan ibuku, membuatnya tertawa. Sedangkan kakakku mengenalku sebagai orang yang keterlaluan jujurnya jika tidak suka pada sesuatu. Di restoran aku bisa berkomentar sesukaku tentang meja yang berminyak atau makanan yang tidak enak di depan pelayannya, membuat orang-orang yang duduk satu meja denganku menjadi tidak nyaman. Sedangkan seseorang yang sama manipulatifnya denganku pernah mengatakan bahwa aku tidak terlihat pintar sama sekali, beda dengan adikku. Apa yang kubicarakan dengan orang itu adalah lelucon, hampir setiap bertemu. Hampir tidak pernah ada pembicaraan serius. Setiap orang mempunyai komentar berbeda terhadap kita. Mungkin karena kita menyesuaikan diri pada tiap orang, atau secara tidak sadar kita berusaha memanipulasi pikiran orang-orang untuk menerima karakter tertentu kita. Perbedaannya adalah apakah kita melakukan itu dengan sadar dan aktif atau secara pasif kita melayani dan menyesuaikan karakter orang di depan kita.

Hal ini membuatku tersentak dengan kemungkinan bahwa kita tidak benar-benar mempunyai identitas. David Hume pernah mengatakan bahwa intensitas dari emosi-emosi lah yang membuat kita merasa kita telah mengenal seseorang. Jika dia sering marah maka dia adalah pemarah. Jika dia sering tersenyum maka dia ramah. Tapi benarkah manusia mempunyai identitas? Benarkah aku mempunyai diri yang sejati, yang kuperlihatkan pada seseorang atau pada diriku sendiri? Apa yang kurasakan dan kulakukan jika aku sendirian? Aku tidak mempunyai identitas. Aku hanya mesin pemikir dan perencana, lalu tubuhku adalah pelakonnya.

Aku bahkan berdialog dengan diriku sendiri seakan-akan aku membuat sebuah cerita yang semua pemerannya dilakoni oleh diriku sendiri. Aku bermimpi sepanjang malam. Penuh dengan cerita yang selama ini membuatku terobsesi. Jalanan yang gelap, dikejar-kejar pembunuh, tersesat, berjalan sendirian di toko buku, naik kendaraan umum, bertemu orang-orang tertentu dan terlibat cerita tertentu dengan mereka, terlambat sekolah, hal-hal seperti itulah, secara berulang-ulang menjadi tema mimpiku. Kepalaku dipenuhi cerita. Semua ini palsu. Diriku sendiri adalah kepalsuan yang memproduksi kepalsuan.

Beberapa hari belakangan pikiran-pikiran sialan mengikutiku lagi. Aku tidak tahu apa pemicunya. Setelah aku memutuskan akan mengikuti arah jalan setapak yang kupilih, sebuah suara mengatakan bahwa aku tidak hidup. Aku harus keluar dari jalan, untuk menemukan jalan lain lewat semak-semak. Persetan. Apa yang membuatku berpikir aku harus mengikuti satu jalan? Mengapa aku bisa mengatakan bahwa itu adalah hal paling benar yang harus kulakukan? Mengapa aku harus memelihara keinginan menjadi ilmuwan hebat? Kupikir jika aku menyibukkan diriku dalam penelitian maka aku tidak akan berpikir terlalu aneh-aneh lagi tentang kehidupan dan segala sesuatu. Tolol sekali. Mengapa aku harus menahan diri untuk tidak bersuara sedikit pun ketika mereka mengatakan jangan bersuara? Mengapa untuk menjadi sesuatu hanya ada jalan-jalan tertentu yang harus dilalui agar bisa sampai ke tempat itu? Mengapa kita tidak bisa membuat jalan sendiri. Sialan sekali.

Aku terpenjara oleh keinginanku sendiri, terhadap sebuah karir tertentu, terhadap komentar orang tentangku, terhadap keinginan membahagiakan keluarga dan menjadi apa yang mereka dan masyarakat harapkan dariku. Itu semua adalah penjara. Setelah aku mengeluarkan diri dari satu ruangan yang bertahun-tahun menyekapku di dalamnya, aku sadar bahwa aku terobsesi untuk menghancurkan jeruji-jeruji lainnya. Untuk melihat apa yang ada di luar sana. Apakah aku akan mati di luar penjara karna aku tidak mempunyai kemampuan bertahan hidup? Mati? Aku tidak perduli. Bagaimanapun suatu saat manusia akan mati. Dan jika kita dipusingkan dengan pikiran “harus melakukan blabla sebelum mati” maka kita berada di balik jeruji lain.

Entah mengapa aku berharap, aku sangat berharap, ada sebuah bencana besar yang mengharuskanku dan orang-orang di sekelilingku menyelamatkan diri. Aku ingin merasakan sensasi asli kehidupan. Apakah aku sudah tidak waras? Aku ingin melihat dunia dalam kekacauan. Aku ingin merasakan badai. Aku ingin diterpa hujan dan diterbangkan angin.

Itu menjelaskan sebuah rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun. Aku bukan psikopat, tapi bisa jadi aku agak sinting. Teriakan 'eureka' setiap kali mendengar kabar kematian, atau bencana, di dalam kepalaku. Aku menginginkan kehancuran segera. Aku ingin segala omong kosong yang manusia bangun dan pelihara, yang aku lindungi sepanjang usiaku ini hancur berantakan. Eureka.


Selasa, 30 Oktober 2018

“tuhan sudah mati”

Alkisah, di suatu kota yang penduduknya sangat rajin menyembah tuhan, datanglah seorang asing yang sinting berteriak-teriak di tengah kota. “tuhan sudah mati”, katanya. Dan beberapa dekade berlalu, tuhan benar-benar telah menjadi kayu yang kopong, yang konsepnya tidak menyimpan makna apapun. Sedang kita disini, menyembah tuhan-tuhan yang tidak berjiwa. 

Kamis, 25 Oktober 2018

Miles Away

Adik saya mengajak saya menyanyikan lagu kesukaan saya di album Arashi are you happy. Dan lagu ini saya persembahkan untuk orang-orang yang saya cintai, yang saya percaya akan saya jumpai lagi di surga.

https://www.smule.com/recording/arashi-%E5%B5%90-miles-away/1773699515_2539703327


Senin, 06 Agustus 2018

Seekor Kucing yang Menyeberang


Seekor kucing menyebrang jalan di depan mataku. Aku terpaku melihatnya, mengikuti ke arah mana kucing itu berlari, bersiap-siap melakukan sesuatu untuk menghindari terjadinya hal buruk. Kucing itu menghampiri seorang ibu tua di seberang jalan. Satu ekor kucing mengikutinya juga, berusaha menyebrang jalan, jalan besar. Ibu itu kemudian menggendong kucing yang berhasil menyebrang separuh jalan itu sambil tangan yang satunya sibuk memegang belanjaan daging dan sayur. Motor-motor yang melaju sempat memperlambat lajunya untuk memberi kesempatan kepada ibu dan kedua ekor kucing itu. Aku masih terpaku.

Ketika ibu dan kucing itu sampai di depanku (di titik awal kucing itu menyebrang), ibu itu berkata pada kucing itu, “jangan nyebrang-nyebrang ke situ”. Oh, kemudian aku mulai sadar, itu Bu Untung! Seorang ibu yang  tinggal di gang belakang rumahku, yang kucingnya banyak sekali. Sepertinya dua ekor kucing itu melihatnya di seberang jalan, kemudian tidak sabar ingin menghampirinya karena ia membawa daging.

Di depan gang, lebih dari lima ekor kucing berhamburan menyambut Bu Untung. Ia berjalan menuju rumahnya sambil diiringi oleh kucing-kucing itu. Aku berusaha menghalau kucing-kucing dari jalan raya, agar tidak ada yang menyebrang lagi. Sambil berjalan lambat di belakang Bu Untung dan para kucing, aku tersenyum tanpa henti. Pemandangan yang nikmat sekali dilihat. Bu Untung berjalan lambat-lambat karena dikelilingi kucing. Tiba-tiba perasaanku naik sekali, bahagia sekali. Setelah mereka sampai di rumahnya, aku meneruskan perjalanan menuju rumahku sambil tersenyum tanpa henti.

Hal seperti inilah yang kurindukan. Saat-saat ketika aku menjadi saksi atas perbuatan orang-orang baik di atas muka bumi, ketika aku dalam perjalanan. Sama dengan perjalanan kehidupan, di setiap titiknya kita akan menjadi saksi orang-orang baik, mengikuti jejak mereka, menjadi saksi kezaliman kemudian berusaha meluruskan. Hal seperti inilah yang seharusnya menjadi kenikmatan perjalanan para perantau.

My Brother has departed on July 28, 2018


Sudah 9 hari sejak hari keberangkatan abang. Kami sudah terbiasa dengan kehilangannya dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa lagi. Tapi entah kenapa aku tidak suka melihat orang-orang dengan mudah kembali ke kehidupan normalnya lagi. Entah kenapa. Aku merasa harus ada sesuatu yang berubah, yang menandakan sebuah titik permulaan sesuatu. Untuk kami, mungkin, meneruskan apa yang abang lakukan, misalnya berkurban setiap idul adha, dan memelihara kambing kurban di halaman rumah sejak beberapa hari sebelum hari raya kurban, agar perasaan kehilangan kambing yang disayangi, perasaan berkurban dapat dihayati. Apa yang abang lakukan harus diteruskan.

Keberadaan manusia semakin dihargai, dua kali lipatnya, sejak ia meninggal. Sebelum itu, kita semua menjalankan kehidupan dengan normal-normal saja. Mungkin memang, manusia butuh suatu momen untuk menyadari sesuatu yang berharga. Untuk mensyukuri sesuatu, manusia harus menyaksikan mereka yang tidak memiliki apa yang ia miliki agar kesyukuran bisa lebih dihayati. Manusia memang lemah.

Perasaan sesal yang disertai kelegaan sudah mulai memasuki masa kadaluarsa. Seperti halnya orang-orang di sekitar kami yang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing lagi. Diantara mereka ada yang benar-benar merasa kehilangan kemudian berubah menjadi lebih penyayang kepada anak yatim, anak-anaknya abang. Atau mereka yang move on begitu cepat. Aku merasa tidak puas. Entah kenapa, harus ada sesuatu yang dimulai.

Dan kemudian, pikiran itu datang lagi.

Tuhan, sudah berapa kalikah Tuhan membuatku mempertimbangkan lagi hal-hal semacam itu. Aku yang hatinya tidak sebening kaca ini tidak mampu membaca pertanda.

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia kerugian.

Melainkan yang beriman dan beramal soleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Segala hal yang kita kerjakan adalah kesia-siaan. Hanya mereka yang mecari bekal untuk mati, bersiap-siap menghadapi kematiannya lah yang beruntung karena mereka mengisi hidupnya dengan amal soleh dan menasihati dalam kebaikan, hanya merekalah yang lepas dari kesia-siaan.

Dunia yang kita jalani ini, ketika kita sudah terbebas darinya dan saling berbincang di surga, kita akan merasa bahwa segala yang kita jalani di dunia ini hanyalah mimpi karena kaburnya rasa nyata yang pernah kita rasa, karna jauhnya masa lalu ketika kita menjalani hidup di dunia. Karena itulah, kehilangan mereka yang kita cintai bukanlah masalah apa-apa, seandainya kita tau apa yang Tuhan janjikan untuk kita di surga.

“Wahai yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agamamu.”

Senin, 30 Juli 2018

Dalam Penantian

Karena pada saatnya nanti kita semua akan dipertemukan lagi dengan orang-orang yang kita cintai di dunia, di suatu tempat dimana kesedihan dan kemarahan tidak dikenal, di tempat dimana kepuasan dari pencarian kita tidak berhenti. Tidak dengan rupa dan keadaan yang sama dengan ketika di dunia, tapi dengan keadaan dan rupa yang ideal, dengannya kepuasan kita terpenuhi tanpa melebihi batas.

Kita dalam penantian, menanti jadwal keberangkatan masing-masing. Sambil menunggu, kita menghabiskan waktu dalam permainan, atau dengan tekun mengumpulkan bekal perjalanan. Dan ketika tiba keberangkatan mereka, kita pun jadi ingin segera berangkat juga, kesadaran kita menjadi semakin peka. Kita jadi semakin menghitung waktu dalam penantian kita, untuk kemudian tersenyum ketika utusan datang memberikan kabar bahwa jadwal keberangkatan kita sudah tiba.

KEHILANGAN

Tiba-tiba kepala sesak dengan memori. Suatu kejadian bisa mendesak semua memori yang berhubungan dengannya keluar, menyesaki kepala. Tiba-tiba rasa sesal membesar, setiap kali kita kehilangan. Ternyata kepergian dan kehilangan merupakan perayaan untuk mengingat nilai mereka yang pergi itu, betapa berarti keberadaan mereka dalam kehidupan. Tanpa itu, kita lupa.

Namun, betapa lega saya, kelegaan yang luar biasa, ikut menemani rasa sesal. Seperti seorang kawan yang menepuk punggung kawannya yang bersedih. Saya lega abang saya, Muhammad Kamal Basya telah dibebaskan dari dunia. Saya ingat sekali pernah membaca tulisan di blognya yang menceritakan curhatannya kepada Tuhan tentang betapa lelahnya dia dengan kehidupan. Setelah itu saya selalu merasa bahwa abang saya itu selalu memikirkan tentang kematian, bersiap siap dengan bekal.

"mau dibawa kemana idealismenya?" adalah pertanyaan paling menusuk saya ketika saya pernah bercerita masalah kecurangan yang saya ingin lakukan ketika ujian akhir SMA. Abang adalah orang yang jujur, dengan dirinya sendiri dan orang lain. Dan juga senang berbagi dan selalu mau membahagiakan keluarga.

Yah, kita selalu menghargai dua kali lipat keberadaan seseorang setelah kehilangan. Kematian adalah perayaan untuk menghargai kebaikan orang yang mati.

Saya bangga beliau adalah abang saya. Dan saya kagum dengan cara berpikir abang.

dalam kenangan kepergian abang Kamal, 28 Juli 2018, 9 tahun setelah bapak pergi, 6 Maret 2009.

Rabu, 18 Juli 2018

"We are one"


“Pasangan suami istri yang sudah lama menikah tidak lagi duduk berhadap hadapan. Mereka duduk bersamping sampingan untuk melihat pemandangan yang sama.”

Aiba adalah satu-satunya anggota Arashi yang dekat dengan Nino. Mereka berdua selalu berada di dalam grup yang sama sejak mereka bergabung di dunia entertainment, sampai sekarang. Apa yang mereka lihat selalu pemandangan yang sama.

Setiap kali mereka diwawancarai dan tiba saatnya bicara tentang satu sama lain, dibandingkan komentar mereka untuk anggota Arashi yang lain, komentar mereka terhadap satu sama lain sedikit sekali. Seakan-akan Nino atau Aiba sama sekali tidak tertarik terhadap karakter satu sama lain sehingga tidak ada yang muncul di pikiran ketika nama satu sama lain disebutkan.

Tapi Nino tau banyak sekali tentang Aiba, dan juga sebaliknya. Tapi ketika Nino kesepian, Aiba lah yang dia datangi. Seakan Aiba adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Nino.

Katanya teman yang sering menghabiskan waktu bersama akan menghabiskan waktu bersama tanpa membicarakan apapun. Mungkin sudah terlalu banyak yang diketahui satu sama lain. Nino suatu hari hanya akan datang ke tempat Aiba untuk makan bersama sambil berbicara tentang hal-hal yang tidak penting, sekedar menghabiskan waktu bersama.

Mereka selalu duduk bersampingan, Aiba selalu di samping Nino, melihat pemandangan yang sama. Mereka membicarakan dunia, membicarakan orang lain, karna mereka sudah saling mengenal tanpa harus saling  membicarakan diri sendiri.

“Dia selalu bersama denganku”, itu kata-kata yang biasa diucapkan mereka ketika disuruh mengomentari satu sama lain. Sepertinya Aiba sudah seperti TV di rumah Nino yang sering digunakannya main game dan ketika ditanya tentang pendapatnya tentang TV dia bingung harus menjawab apa. Dia tak pernah melihat TV itu sebagai TV berkualitas dari merk tertentu yang punya kelebihan ini dan itu. TV itu sudah ada di rumahnya sejak dulu tanpa dia sadari dan digunakannya sehari-hari untuk nonton dan main game.

Dia harus mundur dan menghadapkan wajahnya ke arah Aiba dulu untuk dapat melihat Aiba secara keseluruhan dengan jelas. Aiba biasa ada di sampingnya, membicarakan dan melihat bersama apa yang ada di depan mereka. Seperti dua orang yang duduk bersampingan sedang berbicara tentang suatu hal, kemudian mereka berdua ditanya tentang pendapatnya terhadap satu sama lain. Tiba-tiba mereka berhenti bicara, diam sejenak, lalu saling berpandangan, kemudian agak membuat jarak satu sama lain.

Kita mungkin baru bisa membicarakan orang lain jika orang itu berada di dalam jarak pandang kita. Jika orang itu terlalu jauh atau terlalu dekat, dia ada di luar jarak pandang. Kita tak bisa melihatnya, dia terlalu jauh atau terlalu dekat. Seandainya Nino disuruh membuat lagu tentang Aiba, bisa jadi dia butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya karna butuh waktu untuk melihat Aiba dari jarak tertentu, atau mungkin lagu itu bisa jadi lagu paling simpel yang dibuat Nino tentang orang lain, yang kesannya dibuat tanpa berpikir.

Nino mungkin bisa bilang bahwa dia suka Ohno, atau mengagumi Jun, atau seandainya dia perempuan dia ingin memilih Sho sebagai pasangan, Aiba tidak pernah menjadi pilihan baginya. Nino mungkin tidak sadar atau sangat sadar tapi tidak pernah atau merasa tidak perlu mengakui di depan umum betapa Aiba adalah eksistensi yang penting dalam hidupnya. Orang lain hanya melihat mereka dengan biasa saja, mereka juga tidak mempertunjukkan kedekatan dengan sengaja. Seperti saudara kembar yang selalu menghabiskan waktu bersama, dan ketika mereka ditempatkan di sekolah yang sama, mereka akan berusaha menjaga jarak agar dapat membangun kehidupannya sendiri.

Tahun ini, Arashi membuat lagu unit, bukan lagi lagu solo. Aiba dan Nino bersatu untuk menyanyikan lagu yang sama. Sebuah lagu yang mungkin mereka berdua sadar betul betapa lagu itu menggambarkan hubungan persahabatan mereka. Meskipun pada awalnya tidak terlihat, pada akhirnya nanti orang luar akan menyadari kedekatan dua orang sahabat entah bagaimana.

"UB"

N: Dengar..

A: Hal-hal yang mudah jadi semakin tidak terlihat
Bagian seberang tirai terasa jauh bagiku

N: Apa yang sedang kau pikirkan?
Kau selalu bersikap segan
Selalu menjulurkan lehermu melihat sesuatu

A: Sebenernya aku tau
Kita berdua akhir-akhir ini
Meskipun berada dekat satu sama lain, kita tidak merasakan apapun

N: Kemanapun kita akan pergi, kita tidak bisa terpisahkan
Tapi kita pun terkadang ingin punya waktu sendiri

A&N: Pasti kita perlu berpisah
A: Kita telah melihat hal yang sama
N: Sudah dalam waktu yang lama

A&N: Kita hanya perlu berpisah
A: Perasaan kita satu sama lain
N: Sudah sama-sama kita tau dengan jelas

N: Hari ini pun juga tanpa terlalu dekat maupun berpisah
A: Di dalam ruangan ini

N: Kita hanya perlu berpisah
A: Aku ingin sendiri

N: Tapi jika dipikir-pikir
Kapanpun, kau mendekati semuanya dengan air yang panas

A: Tidak, kaulah dengan hati yang lapang
Memaklumkan kesalahan-kesalahan kecil orang lain

A&N: Kita sudah tidak akan pernah berpisah
N: Itu wajar
A: Sampai hari-hari sekarang pun

A&N: Kita tidak bisa berpisah
N: Kita yang saling berbeda ini
A: Kita bisa saling membantu

A: Hari ini pun juga tanpa terlalu dekat maupun berpisah
N: Kita saling bersampingan

A: Kita punya rencana untuk hidup saling berpisah
N: Meskipun membingungkan
Kita adalah satu

A&N: Ya, dan jangan pernah berpisah

A&N: Lihat, kita satu
Meskipun berpisah kita adalah satu
Ya, kita satu
Kita tau hal yang esensial adalah kita bersama
Hari ini pun dengan jarak yang terjaga,
Aku berdiri di sampingmu

A: di sampingmu

A&N: Kita berdiri bersampingan

 
 





#NinoAiba