Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2025

Dunia yang sepi

Duniaku tanpamu sebelumnya sepi

Jalan-jalan yang kususuri semuanya tak bersuara, tak berwarna

Aku hanya tenggelam di dalam kerinduan yang membutakan hari-hari

Seakan segalanya mengingatkanku pada seseorang yang kunanti

Seseorang yang tak akan pernah menepati janji

Duniaku berbeda jauh dengan duniamu yang ramai

Yang penuh dengan romansa dan wanita-wanita pemuja

Kawan dan musuh, segala aktivitas dan kesibukan yang membuatmu tak pernah melihat ke atas langit

Ke langit yang selalu kutatap setiap sore di perjalanan pulang

Langit yang tak pernah mengabarkan keberadaanmu

Duniaku sepi tanpa keberadaanmu

Hari-hari yang penuh dengan penantian akan seseorang yang tak pernah ada

Imajinasi akan sosok yang hanya ada di kepalaku

Hingga akhirnya kamu datang

Memberiku pertanda dengan bahasa yang tak pernah kupahami

Untuk selalu menunggu

Menunggumu menyelesaikan semua hal yang harus kau selesaikan




Jumat, 12 Januari 2024

Nanti

Pada saatnya nanti,

Aku ingin meringkuk saja dalam sunyi
Dalam permenungan tiada henti
Dalam hilangnya jati diri
Dan kuharap lebur dalam namaNya

Aku ingin tenggelam, terasuki,
Kehausan tiada akhir
Pencarian tanpa ujung
IlmuNya yg maha

Akulah makhluk asing,
Dari dunia yg tak terkenali,
Bingung, tersesat dalam belantara
Penuh belukar, monster ganas,
Yg menjelma bagai peri
Berkilap kilap seakan menjanjikan pemenuhan kerongkongan yg kering
tak lagi mampu menguarkan bunyi

Dan janganlah kau biarkan aku tercerai
Dari kasih sayang dan kebaikanmu
Yg adalah satu satunya penawar
kejenuhan kehidupan dalam keasingan ini
Dan peluklah aku
hingga ku mabuk dalam kehangatanmu
Terlupa dinginnya dunia penuh kebusukan ini

Aku rindu
Aku letih, aku ingin pergi
Ingin menuju kebenaran
Ingin meninggalkan kepura puraan
Ingin terikat dalam kepenuhan, kekosongan
Ingin berhenti

Aku ingin semua berhenti
Dalam permenungan yg penuh
Di bawah bintang bintang yg jauh
Di tengah kegelapan tak berujung

Aku ingin pergi dan menyadari
Ini bukanlah tempatku
Ini bukanlah perhentian
Hingga kerinduan dan kehausan tak kan pernah terpenuhi
Dan aku tetaplah dalam pencarian
Hingga pada saatnya, ditariknya aku
Dijemputnya
Menuju perjalanan lain yg lebih panjang lagi

Sabtu, 07 Oktober 2023

progress

Aku pernah melewati masa kesyukuran yang luar biasa, di dua titik kehidupan yang sangat kusadari. Tidak seperti ketika baru lahir, rasa syukur yang muncul begitu jelas seakan aku bisa melakukan apapun untuk membayar apa yang Tuhan berikan padaku saat itu. Masa itu adalah ketika aku menikah dengan Alif, dan ketika aku selesai melahirkan Mari. Pada saat itu rasanya aku rela apa yang ada padaku diambil demi apa yang Tuhan berikan padaku lewat Alif dan Mari.

Tentu saja aku melewati rasa gelisah yang parah di perjalanannya. Di perjalanan pernikahan bersama Alif, dalam berusaha melebur dengan kepribadiannya, berusaha membangun pernikahan yang ideal bagi masing-masing satu sama lain, terasa meremukkan tulang dan membakar kulit. Seakan jika semuanya hancur dan berakhir, maka aku tidak punya apa-apa lagi dan lebih baik aku mati. Seakan dia adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini, dan tanpanya aku kehilangan tujuan. Tuhan berusaha mengajariku bahwa tidak seperti itu caranya mencintai. Benar bahwa aku begitu mencintai Alif, sehingga mungkin aku kebingungan bagaimana mengekspresikan perasaanku kepadanya. Karena itu aku menyakiti dia dan diriku sendiri, padahal aku mencintainya. Mungkin pula aku terlalu tenggelam dalam perasaan cinta yang dalam, sehingga aku melupakan banyak hal. Tuhan menegurku dengan banyak cara, dan mengizinkanku menyadari kesalahanku.

Aku masih perlu banyak belajar mencintai dengan benar, yang dengan senang hati ingin kupelajari. Saat ini aku sadar bahwa yang paling harus dan ingin kuberikan kesan adalah Dia yang memberikanku nikmat selama ini. Di atas segala omong kosong kadaluarsa yang pernah kukoarkan tentang kesetiaanku pada Tuhan yang masih naif saat itu, aku ingin membetulkan lemari penyimpanan informasi dan pelajaran yang ada di kepalaku. Membersihkan sistemnya dari virus yang melemahkan dan menggerogoti. Aku ingin kembali pada diriku yang dulu dengan lebih bijak dan dewasa. Aku ingin lebih diam dari aku yang dulu. Aku ingin berhenti bicara sebelum kata-kataku kupertimbangkan dengan benar dan tidak ingin lagi menyakiti orang lain (dan diriku sendiri). Meskipun aku sadar bahwa aku masih belum menguasai semua kebijaksanaan dan keterampilan untuk tidak menyinggung dan menyakiti orang lain, setidaknya aku semakin berkembang dari aku yang dulu.

Aku ingin semakin sadar, semakin berisik di dalam pikiran (dengan suara-suara pertimbangan, bukan melebih-lebihkan kenyataan di sisi negatif), semakin sunyi di mulut, dan semakin aktif mengukir pikiran dan perasaan lewat tulisan dengan lebih bijak dari sebelumnya. Mungkin, aku telah menemukan apa yang harus kulakukan di dunia ini. Peran apa yang akhirnya kuambil dan bagaimana aku harus mengambilnya. Kebimbangan yang dulu pernah memenuhi pikiran diangkat satu persatu sehingga aku semakin yakin. Semua pemicunya adalah keberadaan Alif dan Mari. Mereka berdua adalah unsur paling penting di kehidupanku saat ini (dan juga mamahku). Karena itu aku akan melakukan apa pun yang perlu dan baik untuk mempertahankan apa yang perlu kupertahankan.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku menghabiskan waktu dengan orang yang salah atau mengajakku menyesali apa yang kutinggalkan demi kehidupanku yang sekarang (kehidupan yang katanya lebih di bawah kehidupanku yang sebelumnya), aku bisa dengan yakin menjawab bahwa apa yang pernah kulewati sebelumnya mengubahku menjadi lebih bijak, bahwa apa yang kujalani sekarang sesungguhnya lebih berarti dan bermakna, dan bahwa aku semakin jauh dari kebimbangan. Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku bicara omong kosong, bahwa aku hanya sedang di fase manik, aku sadar bahwa ketika aku sedih dan putus asa, pikiran jelekku kembali datang. Bedanya dari yang dulu adalah ketika fase depresi datang, aku semakin tangguh untuk memanjat sendiri keluar dari lubangnya, tanpa berteriak meminta tolong lagi dari orang-orang di sekitar. Aku bahagia sekali dengan perubahanku yang sekarang, dengan kemampuanku yang kudapati karna bertahun-tahun mengendap di fase depresi yang panjang tanpa diketahui orang lain. Aku bahagia dengan kemandirian psikis yang aku dapat dari pergulatanku yang panjang dengan diriku sendiri. Jadi, jika ada yang ingin mengajakku menyesali semua yang terjadi (termasuk diriku sendiri), akan kutendang mereka semua dengan lebih santun dari sebelumnya.

Tidak, Levi tidak menjadi orang lain, Levi berkembang, Levi mendewasa dan membijak. Dia menjadi versi lebih canggih dari versi yang sebelumnya masih naif. Belum lebih canggih dari versinya di masa depan, tentu saja, tapi setidaknya dia terus berkembang, seperti teknologi yang ada sekarang, semakin berkembang setiap menitnya. Manusia (atau jika kita membandingkannya dengan teknologi) dengan segala karakternya tidak seharusnya berhenti di satu titik perubahan. Seakan-akan ada titik akhir mutlak yang memberhentikan kita dari perjalanan mendewasa. Selama kesadaran masih bertahan, tidak ada titik akhir dalam mendewasa. Kita tidak berubah menjadi orang lain, kita mengupdate sistem lama diri kita menjadi lebih canggih.

Karena itu kubiarkan diriku berusaha sesuai kemampuanku saat ini untuk terus menyerap unsur perubahan ke arah yang benar, untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi dan di dalam diri sendiri, untuk semakin takjub dengan Tuhan dan apa yang diciptakanNya, untuk memberikan sesuatu yang baik dan manfaat yang bisa kuberikan pada dunia. Berubahlah, menangislah sebentar, bangkitlah semakin cepat, bergeraklah semakin stabil dan seimbang. Semoga saja pada akhirnya kita sampai pada kelegaan luar biasa, di tempat peristirahatan kita di surga abadi.


membijak

Kita pasti pernah berada di fase yang hampir menghancurkan. Seakan-akan sebaiknya segalanya berakhir, karena semuanya terlalu menyakitkan, melelahkan, dan memberatkan untuk terus ditanggung. Suatu saat di titik tertentu dalam usia kita, kebijaksanaan kita memeka, menajam. Kita tahu bahwa segala kesedihan dan penderitaan subyektif kita akan berakhir, bahwa kemudahan akan datang, dan itu adalah kepastian. Karena di masa lalu, semuanya berulang bagai bumi yang pasti akan melewati titik yang sama dalam perputarannya terhadap matahari. Masalahnya hanya kita tidak tahu kapan waktunya, kapan kesedihan dan beban kita meringan.

Seperti aku sekarang ini, di titik yang berbeda jauh dari aku di masa lalu, aku semakin sadar bahwa semua kesedihan ini akan lewat. Bahwa keinginan untuk kabur dan melarikan diri akan kusesali seperti sebelumnya. Karena itu aku menguatkan diri dan tekad, semakin kuat dari sebelumnya, untuk terus saja berjalan, dengan wajah dan rasa sedatar apa pun, asalkan kehidupan tetap dijalani dan tidak berhenti terlalu lama sehingga ritmenya berhenti (yang akan kusesali seperti sebelumnya). Aku ingin menantang diriku yang sekarang, sudah sejauh apa aku semakin dewasa dan bijaksana. Aku berusaha menekan dan menyeimbangkan cara berjalan, agar perjalanan yang berat terasa lebih ringan. Aku tahu tidak ada yang sempurna bagi seorang perfeksionis dan idealis sepertiku. Tapi setidaknya aku berkembang, setidaknya aku berjalan, setidaknya aku mendewasa dan membijak, meskipun di luar sana orang tidak tahu apa yang terjadi.

 

Selasa, 15 Agustus 2023

Bingung

Bagaimana sebaiknya menjadi perempuan?

Rasanya sepanjang usiaku di bumi, aku cuma disibukkan dengan pikiran “bagaimana seharusnya aku hidup”. Pertanyaan yang tidak pernah selesai. Yang seiring usiaku akhirnya aku sadar bahwa persoalan itu pun merupakan bahasan filsafat etika yang tidak pernah benar-benar sampai pada kesimpulan.

Kalau dulu aku hanya sibuk bertanya bagaimana seharusnya aku hidup, sekarang, karna aku sudah menjadi istri dari seseorang, kebingunganku berkutat pada bagaimana seharusnya aku menjadi seorang perempuan.

Aku tiba di dua persimpangan, yang satu adalah mempertahankan ego dan jati diriku tidak diusik orang lain, yang kedua adalah mati-matian mempertahankan pernikahan sambil terus meleburkan elemen kuat di dalam diriku demi seorang laki-laki. Aku memilih yang kedua. Karna pahalanya jelas lebih besar, katanya begitu. Perempuan cerdas adalah perempuan yang berusaha mati-matian mempertahankan pernikahan selama pernikahan itu tidak membawa kepada kekufuran kepada Tuhan. Oh tentu saja aku ingin menjadi versi terbaik diriku, Tuhan. Aku ingin Tuhan melihatku dan terkesan dengan yang kulakukan. Lagipula aku mendapatkan orang yang benar-benar kucintai, belajar mencintai dengan berdarah-darah. Yang tadinya kukira mencintai seseorang hanya persoalan bagaimana sabar dan kuatnya kita menahan rindu, tapi lebih dari itu, bagaimana kuatnya kita menghadapi kekurangannya yang bagaikan monster atau bahkan yang dapat menghancurkan kepribadian kita.

Kemarin aku bilang begini pada Tuhan, “Tuhan, apakah hatiku sudah sepekat itu atau kepalaku sudah setolol itu, sampai sampai sekarang ini aku selalu kebingungan menerka maksudMu.”

Apa yang Dia inginkan? Apakah Dia ingin meruntuhkan jiwa pemberontak di dalam diriku menjadi sepenuhnya pasrah? Pada apa? padaNyakah? Atau pada seorang lelakikah? Pada cintakah? Aku kebingungan. Kebingungan yang lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya, kebingungan perihal apa yang harus kulakukan menghadapi apa yang ada di depanku. Dia mengatakan padaku bahwa aku kebingungan, dan lalu tanpa jelas apa yang kurasakan dan apa yang memantik sensitivitas dalam diriku, aku tersinggung dan marah, membela diriku bahwa aku tau apa yang kulakukan, bahwa aku tidak kebingungan. Jelas-jelas aku bingung. Aku ini kenapa, Tuhan? Apa aku sudah tidak waras? Apakah saking tidak warasnya, aku menganggap orang lain tidak waras?

Lalu setiap kali monster itu muncul di hadapanku, melukai ego dan jati diriku, aku membela diri dengan mengaku kebingungan. Hingga bahkan tidak ada yang mampu kuucapkan selain kata bingung, tolol sekali. Aku bahkan jijik dengan kemampuanku bertingkah setolol ini. Aku bahkan heran padanya yang masih bisa mencintai orang setolol aku. Aku malu pada diriku sendiri.

Tapi ketika aku sudah terlalu sibuk menjaga energiku tetap seimbang untuk melebur menurunkan egoku demi seorang lelaki, entah kenapa aku merasa lelah sekali. Seakan-akan aku berada di atas panggung teater yang tidak pernah selesai. Aku terpancing menjadi diriku sendiri lagi. Aku rindu sekali menjadi aku. Toh, aku yang kurindukan bukanlah aku yang jahat. Tidak apa-apa menjadi aku yang baik asalkan tidak merugikan orang. Kenapa aku tidak bisa? Karna penyakit kronisnya yang tidak pernah secara signifikan berubah, aku merasa berputar di tempat yang sama. Aku berpikir aku harus menjadi lebih kuat, aku harus mampu mengimbangi, aku tidak ingin menjadi setoksik orang-orang yang pernah melukaiku. Aku ingin mencintai dengan menerima, melindungi, mengayomi, memaafkan. Apakah aku senaif itu? Apakah aku meniadakan sifat adil dan tegas yang sebenarnya juga cara mencintai Tuhan kepada makhlukNya? Aku bingung. Apakah sampai mati aku akan sebingung ini, Tuhan?

Aku ingin sampai pada ketenangan yang dirasakan mereka yang sudah pasrah pada takdirMu dan ridho pada semuanya. Di jalan mana aku bisa sampai pada ketenangan semacam itu? Apakah aku tidak sepenuhnya membuka hatiku agar cahaya petunjuk datang? Atau apakah dosaku sudah sebegitu pekat hingga cahaya pun semakin susah menembus?

Lalu, sekarang, apakah hal pertama yang harus kulakukan adalah meninggalkan segala macam dosa? Lalu setelah itu menunggu petunjuk dariMu untuk menjadi tenang, dan setelah itu menjadi perempuan bak malaikat pun tinggal menunggu waktu?

Aku bingung mendeskripsikan sebingung apa aku.


Minggu, 28 Agustus 2022

mood

Mood selalu menghancurkan rencanaku. Apa pun bisa kurencanakan, dengan detail, dengan segala perasaan optimis, bahwa seandainya manusia bisa semudah robot dikendalikan, maka semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana.

Kenyataannya, robot pun bisa mengalami kerusakan sistem, kerusakan yang lebih buruk dari manusia. Mood adalah penghancur sistem yang ada di dalam kepala manusia.

Aku tertekan, luar biasa. Tekanan yang datangnya dari dalam diri sendiri. Terhadap peranan-peranan baru. Aku tak mampu mempertahankan kemampuan adaptasi dalam waktu yang lama. Aku tak paham. Seandainya aku paham, seperti seorang teknisi paham dan mampu melakukan perbaikan kerusakan pada suatu hardware atau software, maka akan kubedah kerusakan yang ada di dalam diriku sendiri. Oh, apakah memahami psikologi cukup untuk memperbaiki segala kerusakan? Aku skeptis.

Dari dulu, aku tak pernah dapat menoleransi kekacauan rencana. Jika rencana rapi yang kususun berantakan, maka mood buruk mengambil alih dan menyelesaikan ending kekacauan rencana.

Aku benci jika ekspektasiku terhadap diri sendiri hancur, oleh pikiran buruk, perasaan buruk, dan segala hal yang di dalam diriku yang tidak sepenuhnya kupahami. Di suatu waktu aku begitu berharap dan yakin dengan kemampuanku memenuhi harapanku sendiri (oh, karna aku secara teori tau caranya) bahwa aku mampu berjalan lancar ke depan, sesuai apa yang kuinginkan. Tapi ketika segala sesuatunya tidak sesuai, entahlah apa yang tidak sesuai, atau ketika tiba-tiba, entah darimana datangnya, aku merasa lelah sekali, secara fisik maupun mental, aku tertekan, pundakku terasa amat berat, terhadap segalanya, segala tanggung jawab yang kemarin dengan bangganya kutanggung. Oh, mengapa aku terus bertahan membawa perasaan benci yang tak mampu kupahami ini. Apakah kecintaanku terhadap dunia yang ideal terlalu berlebihan sehingga aku bahkan benci dengan keterikatanku terhadap fisikku sendiri.

Inilah konsekuensi yang harus ditanggung jika hidup dengan “orang lain”, orang-orang selain diriku sendiri. Di sisi lain, jika aku hidup bertahan dalam kesunyian pun, akan ada konsekuensi lain yang perlu kutanggung untuk pilihan hidupku. Pada suatu waktu aku bahkan heran mengapa manusia sangat menyukai keterikatan emosional dengan orang lain, atau keterikatan fisik dengan orang lain. ya, di suatu waktu. Pada waktu lainnya, aku paham secara “rasa” karna aku pun mengalaminya.

Apakah aku tidak normal? Atau ada apakah di dalam kepalaku yang membuatku mempunyai pikiran dan perasaan yang “twisted” yang terasa tidak nyaman ini. Dari dulu aku selalu ingin tahu, apakah orang-orang lain mempunyai pikiran dan perasaan yang sama, atau apakah ini normal, dan darimana indikator kenormalan itu dibuat. Banyak sekali hal yang tidak kumengerti.

Sekarang, tanggung jawabku amatlah besar. Karna berkaitan dengan jiwa lain yang akulah penanggung jawabnya (secara manusiawi). Tapi, aku tak sanggup sepenuhnya menanggungnya. Ketidakmampuan emosi, ketidakstabilan perasaan, kelemahan mental membuatku tertekan dari dalam. Aku tidak mau diperlakukan seperti aku memperlakukan. Karna itulah aku tidak mampu memaafkan ketidakmampuanku sendiri.

Tuhan, apakah kebahagiaan itu? Benarkah ia hanyalah produk ilusional kepala kita sendiri?

Aku, siapakah aku ini? Siapakah akan kusematkan identitas diriku? Aku kehilangan diriku sendiri. Pengorbanan membuat siapapun kehilangan dirinya. Ego adalah diri, maka pengorbanan adalah meninggalkan ego. Karna itulah mengorbankan diri artinya membunuh partikel-partikel identitas diri. Benarkah begitu?

Layakkah aku berduka? Pada apa? Kematian identitas? Apa itu identitas? Bukankah aku bisa membuat identitas baru? Apakah identitas itu dibuat?

Aku menyadari bahwa aku amatlah mencintai diriku sendiri dan orang-orang yang sekarang tanggung jawabnya ada di tanganku. Tapi sampai sekarang pun puzzle bagaimana harus mencintai tidak akan pernah sempurna kuselesaikan. Hidup ini adalah proses pencarian dalam kebingungan. Karna mereka-mereka penafsir petunjukMu hanyalah sekedar interpreter, yang tak akan sepenuhnya mampu menginterpretasikan kompleksitas maksudMu.

Minggu, 24 Oktober 2021

Wahai Dunia, Aku Muak

Aku ingin sekali memasang sebuah toa besar di sepanjang garis katulistiwa. Lalu aku ingin mengumumkan pada seluruh dunia yang tidak peduli dengan ocehanku ini, bahwa aku muak setengah mati dengan dunia ini.

Orang-orang di sekitarku mungkin sama saja denganku, mereka muak, tapi dengan ocehanku. Melihat aku menulis betapa muaknya aku terhadap ini, terhadap itu, mereka mungkin hampir ingin muntah, sampai-sampai mereka berusaha menjaga jarak atau pun langsung menjauhi karena aku benar-benar memuakkan. Begitu pula kamu. Dari awal kamu tidak pernah ada di sisiku. Kamu selalu ingin berbeda pendapat, kamu selalu ingin mendebat. Padahal kamu benci jika aku menolakmu, tapi kamu pun sama saja, kamu selalu menolakku.

Aku benci semuanya. Aku benci.

Aku sudah hampir tak mampu lagi membedakan apakah aku mensyukuri semua anugerah dan nikmat yang Tuhan berikan padaku dan pada seluruh makhluk di dunia ini, atau aku mengutuk semuanya. Aku tak paham. Aku tak memahami diriku sendiri.

Mungkin aku tak akan pernah menemukan dunia yang tepat, di mana pun. Dan mungkin nasibku hanyalah berusaha berdamai dan menghayati saja peran memuakkan yang sudah seakan selamanya aku lakoni ini.

Setelah Tuhan menjawab doa putus asaku yang terakhir kali dengan kedatanganmu, aku sudah hampir tidak pernah lagi berpikir ingin mati. Jika aku mati, maka akan ada seseorang yang sangat amat sedih karena kepergianku yang tragis, pikirku. Aku juga sangat amat menikmati hidup ditemani seseorang yang selalu di sampingku setiap saat, menjadi tempatku bersandar setiap saat aku butuh tempat bersandar. Aku sangat bahagia karena hadiah seorang teman adalah hadiah terbesar dan teristimewa yang pernah Dianya berikan padaku.

Aku tak lagi pernah ingin mati, sejak beberapa saat setelah aku hidup denganmu. Karena aku dibiarkanNya berharap lebih banyak lagi, berharap bahwa sesuatu akan segera berubah karena ada kamu di kehidupanku. Entah aku akan berubah menjadi sosok memuakkan lainnya di bumi, atau entah aku akan dibawamu ke antah berantah dunia dongeng yang di dalamnya hanya ada orang-orang yang menyenangkan.

Aku hanyut dalam duniaku yang baru. Dunia di mana di dalamnya ada kamu.

Dan jika kamu tidak lagi ingin meneruskan semua mimpi yang aku dan kamu sedang jalani ini, jika kamu sudah tak lagi berpikir bahwa kamu mampu menemaniku terus di dunia mimpi ini, maka aku tidak lagi punya tujuan.

Dan aku akan semakin mengutuk dunia ini. Aku akan semakin membenci  dunia ini. Tanpa pernah ingin lagi mati, aku akan tersiksa dalam perasaan mual yang terasa hampir selamanya kuderita ini. Dan juga perasaan benci yang tak lagi perasaanku mampu tolerir.

Akan menjadi monster seperti apakah aku nanti?

Atau mungkin aku salah, ternyata aku malah akan menjadi malaikat super sabar yang amat tahan banting menahan segala ujian di dunia ini.

Sialan, semua ini terasa sangat sialan.

Tuhan, aku benar-benar anak nakal.


Jumat, 29 Mei 2020

Titik Percabangan

Semesta adalah guru paling keras, paling kejam.
Mengelus kita dengan tangannya yang kasar.

Mungkin kita memang tidak akan bertemu dengan ujung, di dunia ini, tidak ada ujung.
Kita selalu dipaksanya mencari, mencari, mencari terus, hingga kita sadar kita tak akan bertemu ujung.
Kita hanya diperintahkan percaya.
Memilih sesuatu karna mengikuti pilihan pendahulu kita yang mendapatkan tiket jaminan.

Aku pernah merasa, bahwa kebingungan dan kegelisahan memiliki sensasi kenikmatan yang aneh.
Ada sesuatu yang nikmat dalam pencarian di antara kebingungan dan kegelisahan.
Dunia memang aneh, manusia adalah makhluk teraneh.
Mungkin malaikat tergeleng-geleng melihatku, kemudian bertanya "mengapa dia seperti itu?"
Oh, apakah malaikat sekritis aku?

Wahai Tuhan, makhluk seperti apakah yang mampu mendekatimu?
Makhluk seperti apakah yang mampu mendaki tebing terjal menujumu?
Apakah akulah hasil dari zaman instan yang ingin berada di puncak menggunakan baling-baling bambu?
Ingin segera menikmati udara di atas sana, pemandangan di atas sana, tanpa harus melukai kulitku dengan batu-batuan tebing?

Sesulit inikah mempertahankan koneksi dengan pusat semesta?
Di zaman semuanya terhubung, di zaman semua nilai berjejer dianggap sama,
Hingga letakmu bahkan sejajar dengan kekuasaan dan uang.

Aku benci zaman ini,
Aku harap sebenci Ali kepada dunia ini.
Meskipun kelemahan membawaku terseret arus.
Kelelahan membuatku terhempas.
Apakah kelemahan dan kelelahan hanyah kujadikan alasan untuk tidak melukai kulitku dengan bebatuan?

Di titik percabangan, arah manakah yang mampu mendekatkanku padamu?
Seorang perempuan bodoh yang bertanya sambil mencari-cari alasan untuk lari dari pendakian,
Ketakutan.
Dunia ini menakutkan, katanya.

Memang benar, manusia ini lemah,
Dunia ini menakutkan,
Jika saja kau tak menjaganya dari segala arah,
Maka dunia akan menyeretnya,
Membawanya ke dalam jurang.

Mampukah aku mendengar suaramu di tengah hiruk pikuk kegaduhan dunia yang mengerikan ini?
Suara petunjuk dan penyemangat,
Sepanjang umur perjuangan.

Rabu, 20 Februari 2019

tugas


Aku merasa tidak akan pernah dipahami, bahkan oleh diriku sendiri. Tidak satupun keberadaan di dunia ini yang mengenal siapa aku. Di tengah kesibukan sekitarku mempersiapkan syukuran hal yang paling memuakkan bagiku, aku dipaksa merestui dan ikut berbahagia. Aku memaksa diriku berbahagia dan ikut menyongsong hari yang dinantikan, tapi jauh di dalam sudut kepalaku ada rencana pelarian. Aku akan lari, atau bahkan aku akan mati sebelum semuanya terlaksana. Aku ingin mereka tau bahwa sesungguhnya aku benci apa yang membuat mereka bahagia. Apakah aku harus pergi?

Mengapa aku harus selalu bersandiwara? Mengapa kejujuran pahit yang keluar dari mulutku tidak pernah mampu memberitaukan kebenaran? Aku heran. Mengapa aku selalu menghindar dari pembunuhan atau penyelamatan yang bisa kulakukan oleh kata-kata yang keluar dari mulutku? Setan berbisik di kepalaku, “mungkin karna kamu adalah orang paling baik di dunia ini. Karena itulah kamu tidak pernah ingin meninggikan atau menjatuhkan orang secara ekstrim”. Mungkin aku semakin berkembang menjadi iblis yang sempurna.

Aku tidak pernah mampu menyampaikan apa yang benar-benar kuinginkan. Hasilnya aku harus selalu mengalami mimpi buruk setiap malam. Dan aku harus semakin berpura-pura bahagia, ceria, dan baik-baik saja. Bahkan berpura-pura pada diriku sendiri, mensugesti diriku sendiri agar merasakan apa yang harusnya kurasakan, sebelum semuanya meledak, atau sebelum keberanian super benar-benar muncul untuk membunuh diriku sendiri.

Pagi ini di kepalaku muncul seseorang yang sudah lama mati, dia berbisik padaku, “Aku tunggu kamu disini”.

Tidak, tak kan kubiarkan diriku berharap pada apapun lagi kecuali Dia.

Dan kini, di atas semua air mata dan malam-malam yang berlalu tanpa tidur, aku memutuskan, aku akan terus menjadi aktris di atas panggung lawak ini, demi memenuhi tugas, dan menuntut gajiku atas apa yang kukerjakan di akhir masa nanti.

Selasa, 11 Desember 2018

CHAOS


Kepercayaan adalah salah satu hal yang bisa kita kontrol. Itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kita mempercayai sesuatu karena kita ingin mempercayainya. Percaya selalu diikuti keinginan. Ia bukan kata yang dapat berdiri sendiri. Meskipun ia sendirian di dalam kalimat, nyatanya dia dibayangi oleh “ingin”. Ketika kita percaya sesungguhnya kita ingin percaya. Begitu juga berharap, kita sesungguhnya ingin berharap. Tapi sesuatu semacam kebahagiaan, kesedihan, kesakitan, kemarahan, kurasa bukanlah keinginan. Jika ada motivator yang canggih memfatwakan bahwa kita akan bahagia jika ingin bahagia, dia adalah pembohong.

Selama 26 tahun aku hidup aku selalu dibayangi oleh pikiran bagaimana sebaiknya aku hidup, harus jadi seperti apakah Levi, dsb. Sepanjang waktu itu pula begitu cepat dan mudah pikiranku berubah, berganti-ganti dari satu filsafat ke filsafat lain, dari satu ideologi ke ideologi lain. Pikiranku terbuka. Aku menerima semua hal yang mendekati kebenaran. Meskipun kuakui tidak ada kriteria yang bisa dikatakan valid untuk mengukur kebenaran. Karena itulah jika seseorang berdiskusi denganku, mereka akan menyadari bahwa aku tidak memegang satu keyakinan apapun. Aku hanya berusaha menguji keyakinanku sendiri dengan argumen-argumen yang dapat menguatkan atau melemahkannya.

Selama ini manusia memegang satu keyakinan karena mereka memilih untuk memegangnya. Mereka memilih satu kriteria pengukuran kebenaran lalu memegangnya dengan kuat. Jika ada yang berusaha menggoyahkannya, mereka akan berusaha melawannya dengan menyodorkan senjata indikator yang dia pegang, memaksakan lawannya berpikir dengan cara yang sama tapi mereka sendiri tidak berusaha berpikir dengan cara yang sama seperti lawannya. Mereka semua adalah fanatik. Bahkan mereka yang menuduh kaum fanatik, pun adalah fanatik jika mereka mengaku punya indikator sendiri tentang kebenaran. Senjata kaum fanatik adalah label sesat untuk orang di luar mereka.

Aku bukanlah orang seperti itu. Atau setidaknya aku berganti-ganti dari satu fanatik ke fanatik lain. Seorang pengkhianat. Seperti Sartre dan Nietszche. Nietszche pernah mengatakan bahwa kebenaran hanyalah batu loncatan untuk mengarungi lautan kenihilan lagi, demi sampai ke kebenaran lain yang akan digunakan sebagai batu loncatan lagi. Hidup ini adalah perjalanan pemikiran untuk sampai pada kesadaran bahwa tidak ada yang nyata. Semuanya adalah palsu. Kenyataan adalah sesuatu hal yang tidak akan berubah. Nyatanya segala sesuatu berubah. Jika kita menerima segala sesuatu, menjadi orang dengan pikiran yang terbuka, maka kita akan menemui kenyataan bahwa semuanya palsu, kenyataan bahwa tidak ada yang nyata. Kita harus menutup pikiran kita agar bisa menetap di satu pulau kebenaran. Itulah mengapa banyak ajaran agama mengajarkan agar kita berhati-hati membaca buku atau berguru pada seseorang agar tidak terjatuh ke dalam kesesatan.

Jangan salah paham, aku percaya bahwa al-Qur’an adalah firman Tuhan, Muhammad saw adalah utusan terakhir. Aku percaya. Tapi bagaimana dan mengapa agama harus ada dan disampaikan bukanlah sesuatu hal yang bisa didoktrin dari satu kepala ke kepala lain. Aku tidak bisa dengan mudah menerima itu.

Aku selalu berusaha mengontrol apa yang orang pikirkan tentangku. Kupikir jika aku mampu memanipulasi pikiran mereka maka aku bisa mengontrol keadaan. Tapi aku bukan dewa. Aku tidak secerdas dan selicik itu. Aku bahkan tidak mengakui bahwa aku berusaha memanipulasi pikiran mereka. Kesimpulannya, jika aku bisa memprediksi masa depan dengan cara mengontrol keadaan maka aku menang. Tapi hidupku tidak pernah tenang. Aku selalu cemas akan apa yang terjadi di masa depan, akan apakah orang-orang berpikir seperti apa yang aku ingin mereka pikirkan, akan apalagi yang harus aku rencanakan.

Kadang-kadang ada orang yang akan menjawab tidak tahu ketika ditanya mengapa mereka melakukan sesuatu. Orang-orang ini bukan tipe orang yang akan melakukan pembunuhan berencana, mereka adalah orang yang mengikuti gejolak emosi sesaat untuk melakukan sesuatu. Bahkan pikiran mereka mungkin juga dikontrol oleh gejolak emosi sesaat tersebut. Mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka memilih sesuatu atau mengatakan sesuatu di saat-saat tertentu.

Aku juga seperti itu. Tapi setelahnya aku akan berusaha menganalisa apa yang terjadi di kepalaku ketika itu. Ini sungguh licik. Kita bisa mengklaim alasan apapun. Padahal kita tidak benar-benar tahu alasan kita sendiri karena hal itu sudah lewat dan kemungkinan besar bahkan kita sudah lupa sensasinya. Manusia saling membohongi. Semua ini adalah kepalsuan.

Aku pernah berpikir untuk menjadi aktor yang hebat dalam panggung kehidupan. Sekaligus menjadi sutradara beberapa cerita kecil. Jika aku bersikap ceria dan melemparkan humor setiap hari, maka mereka akan sering membuliku dan menjadikanku objek humor dan candaan. Jika aku tidak banyak omong dan jarang mengumpulkan tugas, mereka akan berpikir bahwa aku cuek. Hal-hal semacam ini, jika aku ingin sekelompok orang mempunyai pikiran tertentu terhadapku maka aku bisa menyesuaikan karakter mana yang akan aku pakai.

Suatu hari sebuah komentar semakin menyadarkanku, “Levi kan ceria orangnya”, ibuku sendiri yang berkomentar seperti itu. Aku selalu menceritakan dan berbuat hal-hal yang konyol di depan ibuku, membuatnya tertawa. Sedangkan kakakku mengenalku sebagai orang yang keterlaluan jujurnya jika tidak suka pada sesuatu. Di restoran aku bisa berkomentar sesukaku tentang meja yang berminyak atau makanan yang tidak enak di depan pelayannya, membuat orang-orang yang duduk satu meja denganku menjadi tidak nyaman. Sedangkan seseorang yang sama manipulatifnya denganku pernah mengatakan bahwa aku tidak terlihat pintar sama sekali, beda dengan adikku. Apa yang kubicarakan dengan orang itu adalah lelucon, hampir setiap bertemu. Hampir tidak pernah ada pembicaraan serius. Setiap orang mempunyai komentar berbeda terhadap kita. Mungkin karena kita menyesuaikan diri pada tiap orang, atau secara tidak sadar kita berusaha memanipulasi pikiran orang-orang untuk menerima karakter tertentu kita. Perbedaannya adalah apakah kita melakukan itu dengan sadar dan aktif atau secara pasif kita melayani dan menyesuaikan karakter orang di depan kita.

Hal ini membuatku tersentak dengan kemungkinan bahwa kita tidak benar-benar mempunyai identitas. David Hume pernah mengatakan bahwa intensitas dari emosi-emosi lah yang membuat kita merasa kita telah mengenal seseorang. Jika dia sering marah maka dia adalah pemarah. Jika dia sering tersenyum maka dia ramah. Tapi benarkah manusia mempunyai identitas? Benarkah aku mempunyai diri yang sejati, yang kuperlihatkan pada seseorang atau pada diriku sendiri? Apa yang kurasakan dan kulakukan jika aku sendirian? Aku tidak mempunyai identitas. Aku hanya mesin pemikir dan perencana, lalu tubuhku adalah pelakonnya.

Aku bahkan berdialog dengan diriku sendiri seakan-akan aku membuat sebuah cerita yang semua pemerannya dilakoni oleh diriku sendiri. Aku bermimpi sepanjang malam. Penuh dengan cerita yang selama ini membuatku terobsesi. Jalanan yang gelap, dikejar-kejar pembunuh, tersesat, berjalan sendirian di toko buku, naik kendaraan umum, bertemu orang-orang tertentu dan terlibat cerita tertentu dengan mereka, terlambat sekolah, hal-hal seperti itulah, secara berulang-ulang menjadi tema mimpiku. Kepalaku dipenuhi cerita. Semua ini palsu. Diriku sendiri adalah kepalsuan yang memproduksi kepalsuan.

Beberapa hari belakangan pikiran-pikiran sialan mengikutiku lagi. Aku tidak tahu apa pemicunya. Setelah aku memutuskan akan mengikuti arah jalan setapak yang kupilih, sebuah suara mengatakan bahwa aku tidak hidup. Aku harus keluar dari jalan, untuk menemukan jalan lain lewat semak-semak. Persetan. Apa yang membuatku berpikir aku harus mengikuti satu jalan? Mengapa aku bisa mengatakan bahwa itu adalah hal paling benar yang harus kulakukan? Mengapa aku harus memelihara keinginan menjadi ilmuwan hebat? Kupikir jika aku menyibukkan diriku dalam penelitian maka aku tidak akan berpikir terlalu aneh-aneh lagi tentang kehidupan dan segala sesuatu. Tolol sekali. Mengapa aku harus menahan diri untuk tidak bersuara sedikit pun ketika mereka mengatakan jangan bersuara? Mengapa untuk menjadi sesuatu hanya ada jalan-jalan tertentu yang harus dilalui agar bisa sampai ke tempat itu? Mengapa kita tidak bisa membuat jalan sendiri. Sialan sekali.

Aku terpenjara oleh keinginanku sendiri, terhadap sebuah karir tertentu, terhadap komentar orang tentangku, terhadap keinginan membahagiakan keluarga dan menjadi apa yang mereka dan masyarakat harapkan dariku. Itu semua adalah penjara. Setelah aku mengeluarkan diri dari satu ruangan yang bertahun-tahun menyekapku di dalamnya, aku sadar bahwa aku terobsesi untuk menghancurkan jeruji-jeruji lainnya. Untuk melihat apa yang ada di luar sana. Apakah aku akan mati di luar penjara karna aku tidak mempunyai kemampuan bertahan hidup? Mati? Aku tidak perduli. Bagaimanapun suatu saat manusia akan mati. Dan jika kita dipusingkan dengan pikiran “harus melakukan blabla sebelum mati” maka kita berada di balik jeruji lain.

Entah mengapa aku berharap, aku sangat berharap, ada sebuah bencana besar yang mengharuskanku dan orang-orang di sekelilingku menyelamatkan diri. Aku ingin merasakan sensasi asli kehidupan. Apakah aku sudah tidak waras? Aku ingin melihat dunia dalam kekacauan. Aku ingin merasakan badai. Aku ingin diterpa hujan dan diterbangkan angin.

Itu menjelaskan sebuah rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun. Aku bukan psikopat, tapi bisa jadi aku agak sinting. Teriakan 'eureka' setiap kali mendengar kabar kematian, atau bencana, di dalam kepalaku. Aku menginginkan kehancuran segera. Aku ingin segala omong kosong yang manusia bangun dan pelihara, yang aku lindungi sepanjang usiaku ini hancur berantakan. Eureka.


Senin, 06 Agustus 2018

Seekor Kucing yang Menyeberang


Seekor kucing menyebrang jalan di depan mataku. Aku terpaku melihatnya, mengikuti ke arah mana kucing itu berlari, bersiap-siap melakukan sesuatu untuk menghindari terjadinya hal buruk. Kucing itu menghampiri seorang ibu tua di seberang jalan. Satu ekor kucing mengikutinya juga, berusaha menyebrang jalan, jalan besar. Ibu itu kemudian menggendong kucing yang berhasil menyebrang separuh jalan itu sambil tangan yang satunya sibuk memegang belanjaan daging dan sayur. Motor-motor yang melaju sempat memperlambat lajunya untuk memberi kesempatan kepada ibu dan kedua ekor kucing itu. Aku masih terpaku.

Ketika ibu dan kucing itu sampai di depanku (di titik awal kucing itu menyebrang), ibu itu berkata pada kucing itu, “jangan nyebrang-nyebrang ke situ”. Oh, kemudian aku mulai sadar, itu Bu Untung! Seorang ibu yang  tinggal di gang belakang rumahku, yang kucingnya banyak sekali. Sepertinya dua ekor kucing itu melihatnya di seberang jalan, kemudian tidak sabar ingin menghampirinya karena ia membawa daging.

Di depan gang, lebih dari lima ekor kucing berhamburan menyambut Bu Untung. Ia berjalan menuju rumahnya sambil diiringi oleh kucing-kucing itu. Aku berusaha menghalau kucing-kucing dari jalan raya, agar tidak ada yang menyebrang lagi. Sambil berjalan lambat di belakang Bu Untung dan para kucing, aku tersenyum tanpa henti. Pemandangan yang nikmat sekali dilihat. Bu Untung berjalan lambat-lambat karena dikelilingi kucing. Tiba-tiba perasaanku naik sekali, bahagia sekali. Setelah mereka sampai di rumahnya, aku meneruskan perjalanan menuju rumahku sambil tersenyum tanpa henti.

Hal seperti inilah yang kurindukan. Saat-saat ketika aku menjadi saksi atas perbuatan orang-orang baik di atas muka bumi, ketika aku dalam perjalanan. Sama dengan perjalanan kehidupan, di setiap titiknya kita akan menjadi saksi orang-orang baik, mengikuti jejak mereka, menjadi saksi kezaliman kemudian berusaha meluruskan. Hal seperti inilah yang seharusnya menjadi kenikmatan perjalanan para perantau.

My Brother has departed on July 28, 2018


Sudah 9 hari sejak hari keberangkatan abang. Kami sudah terbiasa dengan kehilangannya dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa lagi. Tapi entah kenapa aku tidak suka melihat orang-orang dengan mudah kembali ke kehidupan normalnya lagi. Entah kenapa. Aku merasa harus ada sesuatu yang berubah, yang menandakan sebuah titik permulaan sesuatu. Untuk kami, mungkin, meneruskan apa yang abang lakukan, misalnya berkurban setiap idul adha, dan memelihara kambing kurban di halaman rumah sejak beberapa hari sebelum hari raya kurban, agar perasaan kehilangan kambing yang disayangi, perasaan berkurban dapat dihayati. Apa yang abang lakukan harus diteruskan.

Keberadaan manusia semakin dihargai, dua kali lipatnya, sejak ia meninggal. Sebelum itu, kita semua menjalankan kehidupan dengan normal-normal saja. Mungkin memang, manusia butuh suatu momen untuk menyadari sesuatu yang berharga. Untuk mensyukuri sesuatu, manusia harus menyaksikan mereka yang tidak memiliki apa yang ia miliki agar kesyukuran bisa lebih dihayati. Manusia memang lemah.

Perasaan sesal yang disertai kelegaan sudah mulai memasuki masa kadaluarsa. Seperti halnya orang-orang di sekitar kami yang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing lagi. Diantara mereka ada yang benar-benar merasa kehilangan kemudian berubah menjadi lebih penyayang kepada anak yatim, anak-anaknya abang. Atau mereka yang move on begitu cepat. Aku merasa tidak puas. Entah kenapa, harus ada sesuatu yang dimulai.

Dan kemudian, pikiran itu datang lagi.

Tuhan, sudah berapa kalikah Tuhan membuatku mempertimbangkan lagi hal-hal semacam itu. Aku yang hatinya tidak sebening kaca ini tidak mampu membaca pertanda.

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia kerugian.

Melainkan yang beriman dan beramal soleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Segala hal yang kita kerjakan adalah kesia-siaan. Hanya mereka yang mecari bekal untuk mati, bersiap-siap menghadapi kematiannya lah yang beruntung karena mereka mengisi hidupnya dengan amal soleh dan menasihati dalam kebaikan, hanya merekalah yang lepas dari kesia-siaan.

Dunia yang kita jalani ini, ketika kita sudah terbebas darinya dan saling berbincang di surga, kita akan merasa bahwa segala yang kita jalani di dunia ini hanyalah mimpi karena kaburnya rasa nyata yang pernah kita rasa, karna jauhnya masa lalu ketika kita menjalani hidup di dunia. Karena itulah, kehilangan mereka yang kita cintai bukanlah masalah apa-apa, seandainya kita tau apa yang Tuhan janjikan untuk kita di surga.

“Wahai yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agamamu.”

Senin, 30 Juli 2018

Dalam Penantian

Karena pada saatnya nanti kita semua akan dipertemukan lagi dengan orang-orang yang kita cintai di dunia, di suatu tempat dimana kesedihan dan kemarahan tidak dikenal, di tempat dimana kepuasan dari pencarian kita tidak berhenti. Tidak dengan rupa dan keadaan yang sama dengan ketika di dunia, tapi dengan keadaan dan rupa yang ideal, dengannya kepuasan kita terpenuhi tanpa melebihi batas.

Kita dalam penantian, menanti jadwal keberangkatan masing-masing. Sambil menunggu, kita menghabiskan waktu dalam permainan, atau dengan tekun mengumpulkan bekal perjalanan. Dan ketika tiba keberangkatan mereka, kita pun jadi ingin segera berangkat juga, kesadaran kita menjadi semakin peka. Kita jadi semakin menghitung waktu dalam penantian kita, untuk kemudian tersenyum ketika utusan datang memberikan kabar bahwa jadwal keberangkatan kita sudah tiba.

KEHILANGAN

Tiba-tiba kepala sesak dengan memori. Suatu kejadian bisa mendesak semua memori yang berhubungan dengannya keluar, menyesaki kepala. Tiba-tiba rasa sesal membesar, setiap kali kita kehilangan. Ternyata kepergian dan kehilangan merupakan perayaan untuk mengingat nilai mereka yang pergi itu, betapa berarti keberadaan mereka dalam kehidupan. Tanpa itu, kita lupa.

Namun, betapa lega saya, kelegaan yang luar biasa, ikut menemani rasa sesal. Seperti seorang kawan yang menepuk punggung kawannya yang bersedih. Saya lega abang saya, Muhammad Kamal Basya telah dibebaskan dari dunia. Saya ingat sekali pernah membaca tulisan di blognya yang menceritakan curhatannya kepada Tuhan tentang betapa lelahnya dia dengan kehidupan. Setelah itu saya selalu merasa bahwa abang saya itu selalu memikirkan tentang kematian, bersiap siap dengan bekal.

"mau dibawa kemana idealismenya?" adalah pertanyaan paling menusuk saya ketika saya pernah bercerita masalah kecurangan yang saya ingin lakukan ketika ujian akhir SMA. Abang adalah orang yang jujur, dengan dirinya sendiri dan orang lain. Dan juga senang berbagi dan selalu mau membahagiakan keluarga.

Yah, kita selalu menghargai dua kali lipat keberadaan seseorang setelah kehilangan. Kematian adalah perayaan untuk menghargai kebaikan orang yang mati.

Saya bangga beliau adalah abang saya. Dan saya kagum dengan cara berpikir abang.

dalam kenangan kepergian abang Kamal, 28 Juli 2018, 9 tahun setelah bapak pergi, 6 Maret 2009.

Senin, 16 Juli 2018

Einsamkeit

Kehilangan membuatmu berubah. Seakan-akan setiap bagian dari dirimu hilang satu persatu menyertai kebekuan kenangan. Aku rindu dirimu yang dulu.

Kemarin pikiranmu tak ada henti-hentinya, mulutmu tak ada kering-keringnya, mengungkapkan semua hal yang ingin kau ungkapkan pada dunia. Mempersiapkan dirimu di atas panggung yang akan kau jejaki beberapa tahun lagi. Aku tersenyum mendengar semua pidato yang kau sampaikan. Ini dirimu yang kurindukan.

Sebuah dunia yang ada dalam pikiranmu, kau deskripsikan. Semua pertanyaan yang datang dari dirimu, kau jawab. Semuanya kau sempurnakan untuk membangun sebuah peradaban yang seharusnya dibangun. Kau korbankan kehidupanmu untuk dunia. Kau adalah kau yang kukagumi.

Sepanjang hari, tanpa henti. Di tengah-tengah semangatmu mencerna sesuatu yang baru, sesuatu yang selalu tidak pernah bisa kau sempurnakan kecuali sampai sebatas ide. Kau tidak bisa berhenti, seakan-akan kau lupa ada rem yang bisa kau injak di bawah sana. Hanya lelah yang dapat menghentikanmu. Entah karena alasan apa, malam itulah malam pertama kau bisa tidur. Ya, setelah berkutat dengan segala pikiranmu.

Aku tau alasannya. Pertemuanmu dengan dua orang teman dekatmu, membuatmu melihat dunia nyata lagi, membuatmu melihat dunia dari sudut berbeda lagi. Hari itu mengapa tidak kau ceritakan sesuatu yang ingin sekali kau ceritakan pada sebanyak mungkin orang? Aku tau bahwa kau takut, kau takut tak ada yang mampu menerima dirimu.

Hari ini aku melihatmu kelelahan. Setiap kali kelelahan, kau memaksa dirimu semakin lelah, agar tak ada yang mampu menghentikan kejatuhanmu nanti, termasuk dirimu sendiri.

Hari ini kau menyerah lagi. Hari ini setan itu datang lagi ke dalam pikiranmu. Hari ini kau berpikir ingin melarikan diri lagi dari segala kesia-siaan yang kau lakukan. Hari ini kau menyadari lagi keterbatasanmu. Kau tau kau tidak mungkin sanggup menerjang badai di tengah samudra yang dingin, sekedar goyangan ombak saja pun tak mampu membuatmu menahan diri dari rasa mual. Apa penyebabnya?

Aku ingin tau apa penyebabnya. Tapi aku tak tau.

Aku rindu dirimu yang kemarin.

Aku tau kau tak pernah benar-benar ingin mati. Setiap kali keputusasaan datang kau dengan penuh harapan mencari deskripsi yang tepat menggambarkan apa yang kau rasakan. Tanpa henti, hingga menemukan mereka yang dapat menggambarkan perjuanganmu bernapas di tengah-tengah kabut yang membatasi pandangan matamu.

Kau mencari, karna kau ingin merasakan bahwa kau tidak sendirian. Di atas bumi ini ada orang-orang yang memahami apa yang kau rasakan. Setelah kau lega menangis, kau merebahkan dirimu dengan kepuasan yang tak kau sadari. Kau tak pernah sendirian.

Aku tau apa yang kau cari. Kau sendirian selama ini di tengah keramaian. Dan yang kau cari adalah orang yang membuatmu merasa bahwa kau tidak sendirian sebagai orang yang sendirian di dunia ramai.

Dan, apa lagi yang kau cari?

Kau sendiri, tapi kau tidak sendirian.

Tapi kau ingin ada orang yang menemukanmu di bawah sumur ini. 




Senin, 09 Juli 2018

Di dalam Jeruji

Belakangan Nino aktif main film dan serial TV lagi. Nino muncul lagi. Akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu untuk nonton Nino lagi.

Tersebar kabar bahwa Nino akan menikah. Meskipun itu cuma gosip, aku percaya bahwa Nino sekarang ini punya pacar. Aku tau itu bukan urusanku. Dan aku tidak ingin mencampuradukkan urusan pribadi dia dengan karir dia di TV. Aku hanya ingat kata-kata dia. Dia bilang dia tidak mau menikah dan mau memutus riwayat keluarga Ninomiya sampai di dia saja. Aku tau Nino masih muda ketika mengatakan itu. Dan aku juga tau, kalau Nino punya hubungan dengan perempuan, perempuan itu pasti berharap dinikahi. Nino pasti tau. Aku hanya benci Nino mengatakan sesuatu seenaknya.

Mungkin Nino dan kita semua tidak sadar bahwa kalimat-kalimat yang pernah kita ucapkan bisa sangat mempengaruhi orang lain. Padahal kita sendiri tidak ingat pernah mengucapkan itu.

Nino berhenti menulis game nikki, pasti dengan alasan semacam itu. Atau sebenarnya Nino mulai sibuk dengan urusan pribadi yang tidak ingin diketahui orang lain.

Di variety show Jepang, mereka sering membicarakan image. Semacam saya tidak bisa melihat artis A menikah. Dia bukan tipe orang yang cocok menikah. Image? Image yang mereka bangun membuat pilihan mereka dibatasi. Atau menikah ternyata punya image sendiri. Suami yang bekerja, istri yang mengasuh anak, dsb. Ketika image itu menyimpang, berarti bukan ‘pernikahan’ lagi sebutannya, entah apa.

Berdasarkan itu, Nino tidak punya image sebagai seorang suami. Tapi Nino pernah bilang seiring bertambahnya umur, orang akan beradaptasi dengan sendirinya. Aku percaya Nino yang pernah bilang begitu adalah orang yang mampu beradaptasi dan merusak imagenya sendiri. Meskipun dia sendiri bilang dia tidak mau ada orang mengatur hidupnya dan kalaupun harus menikah, dia mau menikah dengan orang yang membiarkan dia melakukan apa yang dia mau. Apakah Nino akan berubah?

Kalau saja Nino suatu saat menikah, aku tidak tau perubahan apa yang akan terjadi pada pikiranku. Pikiranku yang sudah cukup dipengaruhi pemikiran Nino dan kata-katanya. Aku merasa Nino berbohong, mengkhianati kata-katanya sendiri atau dirinya di masa muda. Mungkin Nino yang tadinya kulihat berwarna hijau berubah menjadi kuning. Nino yang kukenal adalah Nino yang independen dan bebas melakukan apa pun yang dia mau. Nino yang tidak perduli tentang nama baik dan malah melemparkan komentar sarkas tentang tetek bengek itu. Nino yang nyaman melakukan apapun di dalam kandangnya, yang bangga dengan dirinya sendiri. Pernikahan akan mengubah Nino. Atau Nino akan mengubah image pernikahan.

Nino yang sadar akan ini pernah berkata bahwa setiap orang mengagumi bayangan. Pekerjaan idol seperti dia adalah menjual mimpi.

Kita memberi label tertentu terhadap orang yang kita kagumi. Kemudian tanpa sadar kita membuatnya hidup di dalam imajinasi kita. Padahal dia pun hidup di dalam realitas, dimana dia terpengaruh orang lain. Meskipun begitu, sepertinya Nino yang tidak punya tujuan hidup yang jelas akan tetap berjalan mengikuti ke mana arah angin membawanya. Membiarkan dirinya dikagumi dan diberi label. Membatasinya dari menjadi manusia yang hidup di dalam realitas. Mematikan dirinya untuk terus bermain di dalam imajinasi para pengagumnya.

Sampai kapan Nino akan menjadi tawanan para pengagumnya? Atau perlukah kita menghancurkan jeruji untuk terbang menjadi apapun yang kita mau, tanpa dilabeli apapun oleh orang lain? Merusak ekspektasi dan membuktikan kebebasan yang kita miliki?

Tapi Nino, dan Arashi, bangga menjadi tawanan. Jika menjadi tawanan bisa membuat orang lain bahagia, dia pun akan bahagia. Itu lebih baik daripada terbang entah kemana tanpa siapapun mengenal kita dan mempunyai harapan terhadap kita, sendirian di atas sana tanpa tujuan jelas. Setidaknya di dalam jeruji yang hangat itu, setiap hari dia mendapat makanan meskipun setiap hari pula dia harus menghidupkan ekspektasi orang lain. Paradoks. Siapa yang tidak hidup dalam paradoks?

Tapi itu benar. Jika musim dingin tiba dan taman-taman yang biasa kita datangi untuk mengistirahatkan diri dalam kebebasan diselimuti salju, penjara jauh lebih hangat bagi kita.