Tampilkan postingan dengan label About Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Oktober 2023

progress

Aku pernah melewati masa kesyukuran yang luar biasa, di dua titik kehidupan yang sangat kusadari. Tidak seperti ketika baru lahir, rasa syukur yang muncul begitu jelas seakan aku bisa melakukan apapun untuk membayar apa yang Tuhan berikan padaku saat itu. Masa itu adalah ketika aku menikah dengan Alif, dan ketika aku selesai melahirkan Mari. Pada saat itu rasanya aku rela apa yang ada padaku diambil demi apa yang Tuhan berikan padaku lewat Alif dan Mari.

Tentu saja aku melewati rasa gelisah yang parah di perjalanannya. Di perjalanan pernikahan bersama Alif, dalam berusaha melebur dengan kepribadiannya, berusaha membangun pernikahan yang ideal bagi masing-masing satu sama lain, terasa meremukkan tulang dan membakar kulit. Seakan jika semuanya hancur dan berakhir, maka aku tidak punya apa-apa lagi dan lebih baik aku mati. Seakan dia adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini, dan tanpanya aku kehilangan tujuan. Tuhan berusaha mengajariku bahwa tidak seperti itu caranya mencintai. Benar bahwa aku begitu mencintai Alif, sehingga mungkin aku kebingungan bagaimana mengekspresikan perasaanku kepadanya. Karena itu aku menyakiti dia dan diriku sendiri, padahal aku mencintainya. Mungkin pula aku terlalu tenggelam dalam perasaan cinta yang dalam, sehingga aku melupakan banyak hal. Tuhan menegurku dengan banyak cara, dan mengizinkanku menyadari kesalahanku.

Aku masih perlu banyak belajar mencintai dengan benar, yang dengan senang hati ingin kupelajari. Saat ini aku sadar bahwa yang paling harus dan ingin kuberikan kesan adalah Dia yang memberikanku nikmat selama ini. Di atas segala omong kosong kadaluarsa yang pernah kukoarkan tentang kesetiaanku pada Tuhan yang masih naif saat itu, aku ingin membetulkan lemari penyimpanan informasi dan pelajaran yang ada di kepalaku. Membersihkan sistemnya dari virus yang melemahkan dan menggerogoti. Aku ingin kembali pada diriku yang dulu dengan lebih bijak dan dewasa. Aku ingin lebih diam dari aku yang dulu. Aku ingin berhenti bicara sebelum kata-kataku kupertimbangkan dengan benar dan tidak ingin lagi menyakiti orang lain (dan diriku sendiri). Meskipun aku sadar bahwa aku masih belum menguasai semua kebijaksanaan dan keterampilan untuk tidak menyinggung dan menyakiti orang lain, setidaknya aku semakin berkembang dari aku yang dulu.

Aku ingin semakin sadar, semakin berisik di dalam pikiran (dengan suara-suara pertimbangan, bukan melebih-lebihkan kenyataan di sisi negatif), semakin sunyi di mulut, dan semakin aktif mengukir pikiran dan perasaan lewat tulisan dengan lebih bijak dari sebelumnya. Mungkin, aku telah menemukan apa yang harus kulakukan di dunia ini. Peran apa yang akhirnya kuambil dan bagaimana aku harus mengambilnya. Kebimbangan yang dulu pernah memenuhi pikiran diangkat satu persatu sehingga aku semakin yakin. Semua pemicunya adalah keberadaan Alif dan Mari. Mereka berdua adalah unsur paling penting di kehidupanku saat ini (dan juga mamahku). Karena itu aku akan melakukan apa pun yang perlu dan baik untuk mempertahankan apa yang perlu kupertahankan.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku menghabiskan waktu dengan orang yang salah atau mengajakku menyesali apa yang kutinggalkan demi kehidupanku yang sekarang (kehidupan yang katanya lebih di bawah kehidupanku yang sebelumnya), aku bisa dengan yakin menjawab bahwa apa yang pernah kulewati sebelumnya mengubahku menjadi lebih bijak, bahwa apa yang kujalani sekarang sesungguhnya lebih berarti dan bermakna, dan bahwa aku semakin jauh dari kebimbangan. Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku bicara omong kosong, bahwa aku hanya sedang di fase manik, aku sadar bahwa ketika aku sedih dan putus asa, pikiran jelekku kembali datang. Bedanya dari yang dulu adalah ketika fase depresi datang, aku semakin tangguh untuk memanjat sendiri keluar dari lubangnya, tanpa berteriak meminta tolong lagi dari orang-orang di sekitar. Aku bahagia sekali dengan perubahanku yang sekarang, dengan kemampuanku yang kudapati karna bertahun-tahun mengendap di fase depresi yang panjang tanpa diketahui orang lain. Aku bahagia dengan kemandirian psikis yang aku dapat dari pergulatanku yang panjang dengan diriku sendiri. Jadi, jika ada yang ingin mengajakku menyesali semua yang terjadi (termasuk diriku sendiri), akan kutendang mereka semua dengan lebih santun dari sebelumnya.

Tidak, Levi tidak menjadi orang lain, Levi berkembang, Levi mendewasa dan membijak. Dia menjadi versi lebih canggih dari versi yang sebelumnya masih naif. Belum lebih canggih dari versinya di masa depan, tentu saja, tapi setidaknya dia terus berkembang, seperti teknologi yang ada sekarang, semakin berkembang setiap menitnya. Manusia (atau jika kita membandingkannya dengan teknologi) dengan segala karakternya tidak seharusnya berhenti di satu titik perubahan. Seakan-akan ada titik akhir mutlak yang memberhentikan kita dari perjalanan mendewasa. Selama kesadaran masih bertahan, tidak ada titik akhir dalam mendewasa. Kita tidak berubah menjadi orang lain, kita mengupdate sistem lama diri kita menjadi lebih canggih.

Karena itu kubiarkan diriku berusaha sesuai kemampuanku saat ini untuk terus menyerap unsur perubahan ke arah yang benar, untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi dan di dalam diri sendiri, untuk semakin takjub dengan Tuhan dan apa yang diciptakanNya, untuk memberikan sesuatu yang baik dan manfaat yang bisa kuberikan pada dunia. Berubahlah, menangislah sebentar, bangkitlah semakin cepat, bergeraklah semakin stabil dan seimbang. Semoga saja pada akhirnya kita sampai pada kelegaan luar biasa, di tempat peristirahatan kita di surga abadi.


Kamis, 30 Agustus 2012

Manusia dan "akhlak" terhadap Hewan


Selama ini ceramah-ceramah agama “hampir” tidak pernah menekankan pentingnya akhlak kepada hewan dan tumbuhan, kecuali hanya sekilas lalu. Rahmat semesta alam hampir selalu ditekankan hanya kepada seluruh manusia, tanpa mengenal ras dan agama. Untuk apa hewan dan tumbuhan diciptakan, kalau tidak disertakan dalam isi-isi ceramah itu?

Nun beberapa abad lalu, hewan-hewan ikut serta dalam sejarah kenabian. Gagak yang menjadi saksi pembunuhan pertama di muka bumi dan mengajarkan kepada manusia cara menguburkan mayat (maka ketika kita belajar sejarah darimana muncul ide manusia untuk menguburkan manusia yang sudah mati, burung gagak ikut serta dalam sejarah itu), serigala yang pernah difitnah memangsa nabi Yusuf, unta nabi Shalih yang pernah disia-siakan kaum Tsamud, paus yang “memelihara” nabi Yunus dalam perutnya atas “wahyu” dari Allah padanya, laba-laba gunung yang membuat sarang di pintu gua untuk melindungi Nabi SAW dari kejaran kaum musyrikin, dll.

Sulaiman as nyatanya punya mukjizat mengerti bahasa hewan dan bisa berbicara dengan mereka.

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh ini benar-benar karunia yang nyata.’” (al-Qur’an surat an Naml ayat 16)

Bukankah ini luar biasa dan memperlihatkan kepada kita bahwa hewan pun punya bahasa dan respek terhadap manusia. Kalaupun bahasa hewan begitu sepele dan tidak berarti, mana mungkin Tuhan mengajarkan bahasa mereka kepada Sulaiman dan Daud?

Beberapa abad sebelumnya, binatang dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan, kotor, tidak berakal, tidak merasa, tidak dapat mengetahui (belajar), tidak dapat bicara, tidak bernilai kecuali ketika bisa dimanfaatkan untuk dimakan atau sebagai hewan tunggangan. Tapi kemudian al-Qur’an datang dengan berbagai kisah tentang hewan, yang seakan memberitaukan bahwa binatang punya kehidupan dan mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan makna khusus bagi kita. Mereka punya bahasa sendiri, emosi dan pemikiran (meskipun tidak ada dari mereka yang bisa mengalahkan analisa rumit terhadap sesuatu seperti yang bisa dilakukan manusia).

Ingatkah bagaimana Abu Hurairah, yang dijuluki bapak para kucing, mempraktikkan “rahmat bagi  semesta alam” yang tidak hanya menekankan pada manusia. Dan sikap ini pun menunjukkan bahwa berteman dan memberi makan mereka dengan kasih sayang BUKANLAH HAL SIA-SIA.

Masihkah kita akan menafikkan mereka, hewan-hewan yang berjasa dalam perang dunia 2? Mereka (hewan-hewan) yang telah berbaris untuk menyelamatkan manusia. Dan berapa banyak nyawa manusia selamat karena jasa mereka? Atau kisah Hachiko yang terang-terangan mengajarkan pada kita tentang kesetiaan. Atau kisah seekor kucing dalam drama Jepang “Juui Dolittle”, yang sakit secara fisik dan psikis karena kakek (tuannya) yang setiap hari mengelus dan memberinya makan sudah meninggal dunia. Juga cerita seekor kucing yang jadi sangat galak dan tidak mau makan setelah dia dibawa oleh tuan lain dan dipisahkan dari tuannya yang lama.

Ada banyak kasus nyata dalam kehidupan ini tentang “cerita emosional” para hewan. Betapa makhluk yang otaknya didominasi dengan system limbic ini begitu peka terhadap kasih sayang dan gertakan. Kasus-kasus adanya kucing yang penakut terhadap manusia dan ada yang “songong”, sebenarnya dapat dijelaskan dari kacamata psikologi hewan. Hewan sangat peka terhadap sikap-sikap kita, sehingga sifat dia selanjutnya akan terpengaruh oleh perilaku kita terhadapnya.

Seorang ilmuwan Jerman terkenal, Brehm, penulis ensiklopedi besar tentang kehidupan binatang yang menghabisskan hidupnya untuk meneliti kehidupan binatang, mengatakan:

“Mamalia memiliki daya ingat, kecerdasan, dan perasaan. Sebagian besar mamalia memiliki watak tertentu, seperti ia dapat membedakan benda-benda serta mengetahui perbedaan waktu, tempat, warna dan irama. Selain itu, ia mampu mengenali benda-benda, mengawasinya lalu memikirkannya. Ia mengetahui bahaya dan memikirkan cara menjauhinya. Ia dapat menampakkan cinta dan kebencian, mencintai pasangan dan anak, serta mengungkapkan rasa terima kasih dan kesetiaan, penghormatan dan penghinaan, kemarahan dan keramahan, tipuan dan kemahiran, amanah dan pengkhianatan. Binatang itu mahir memperhitungkan benda-benda sebelum mendekatinya. Binatang yang sensitif dan cerdas itu dapat memikirkan kehidupan dan kebebasannya untuk kebaikan kelompoknya.”

Otak hewan mamalia (khususnya) diciptakan Tuhan dengan porsi system limbic yang mendominasi otaknya (bahkan beberapa hewan hanya memiliki system limbic dan reptilian brain saja, tanpa punya neocortex).  Sistem ini memegang peranan penting dalam emosi dan motivasi. Manusia  memiliki bagian ini hanya sekitar 10-20% dengan porsi neocortex (otak khas manusia untuk berpikir kritis dan menganalisa) 80%. Sedangkan hewan sebaliknya. Bagian otak yang memproses emosi ini mendominasi otak mereka. Itulah alasan mengapa Hachiko bisa “lebih” setia kepada sang profesor daripada istri kepada suaminya. Hewan-hewan ini diciptakan untuk bersikap sesuai perasaan, tapi tidak dilengkapi kemampuan untuk berpikir ulang secara kritis terhadap apa yang akan dilakukannya, seperti “mana yang lebih baik untuk dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak kulakukan dengan alasan begini dan begitu?”. Alasan atas perilakunya didasari oleh kemampuan persepsinya. Mereka menilai perilaku manusia dan hewan lain dengan persepsi, lalu bertindak dipengaruhi oleh persepsinya itu.

Itu juga dapat menjelaskan, mengapa seekor harimau bisa menyerang pawangnya sendiri. Jauh di dalam system otaknya yang “primitive”, dia punya alasan emosional untuk menyerang pawangnya yang biasanya dia patuhi. Atau seekor buaya dan ular yang tiba-tiba menyerang kita. Mereka memiliki alasan pertahanan diri  dan kelangsungan hidup. Ini adalah refleks atas alarm waspada, bahaya dan rangsangan lapar yang diterima otak reptilnya. Mereka tidak diciptakan untuk bisa berpikir dan menimbang bahwa perbuatannya akan menyebabkan keluarga korban sedih dan merasa kehilangan. Inilah mengapa “alasan emosional” seekor harimau menyerang pawangnya dan “alasan pertahanan hidup” buaya dan ular jauh lebih bisa dimengerti dan ditoleransi daripada “alasan” manusia (yang otaknya 80% didominasi oleh otak analisa dan berpikir kritis) menyerang manusia. Jika manusia memakai alasan emosional untuk membunuh seseorang, bukankah ia sama primitifnya dengan hewan? Bahkan ini tidak bisa diterima. Jelas hewan akan protes, “manusia bisa berpikir kritis, tapi mereka masih menggunakan alasan emosional untuk menyerang dan membunuh!”. Bukankah ini lebih tidak bisa dimengerti daripada alasan sang harimau menyerang pawangnya?

Dan, masihkah kita menafikkan semua itu?

Fakta bahwa hewan peliharaan yang mendapatkan perhatian dari teman manusianya lebih punya usia hidup yang panjang (panjang umur) daripada hewan peliharaan yang tidak mendapat perhatian dari teman manusianya (meskipun makannya teratur), menjelaskan dominasi system limbic pada otak mereka. Hachiko menunggu sang professor akan datang untuk memberi makan dan bermain dengannya. Dia setia untuk tetap menunggu kedatangannya. Dia keras kepala untuk tetap menunggu sebanyak apapun waktu telah berlalu (jika Hachiko punya neocortex, dia mungkin akan berhenti menunggu karena menyadari ada yang tidak beres dengan sang professor, dan tidak ada gunanya dia menunggu lebih lama). Hingga ia sakit, dan mati karena itu.

Islam diciptakan sebagai RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM. Bukan hanya teori belaka! Tuhan menciptakan yang lain selain manusia “bukan hanya” untuk bisa dimanfaatkan (dagingnya atau jasanya) dan dijadikan pelajaran (sifat dan perilakunya). Tapi untuk disikapi dengan semestinya. Bahwa kita butuh hewan dalam banyak hal. Dan ketahuilah mereka pun membutuhkan kita sebagai teman dan pemimpin bagi mereka untuk memberikan kehidupan sejahtera kepada mereka (tapi apa yang kita lakukan? Berapa banyak spesies hewan telah punah karena kita? Masihkah kita menafikkannya?).

Berapa spesies telah punah di Negara Indonesia ini? Negara selain Negara-negara di benua Afrika yang memiliki jumlah spesies hewan paling kaya di dunia! Berapa gajah telah mati dibunuh, diracun, untuk diburu gadingnya?! Berapa orangutan dibantai (agar ladang tidak dirusaknya)?! Berapa banyak anjing disiksa dan dilempari batu (dianggap anjing adalah sumber rabies)?! Berapa banyak kucing ditangkap, dibunuh dan dibuang (merasa mereka mengganggu peradaban kota)?! Mereka menyimpan rasa takut pada manusia, dendam dan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan oleh otak “bodoh” dan penuh ambisi dunia! Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan amanat dari Tuhan yang kita khianati ini? Berapa banyak orang yang tau hal ini, tapi dia diam, bungkam, “ini bukan urusan saya”. Maka saya tanya pada mereka, “siapakah kalian? Untuk apa kalian diciptakan di atas dunia ini?”. Dunia ini beserta segala isinya selain manusia, bahkan iblis dan jin, berkata dengan sepakat, “tidak ada makhluk paling menakutkan diciptakan oleh Tuhan, selain manusia. Mereka memiliki hati yang tulus tapi di sisi lain mereka dipenuhi ambisi dunia dan dipersenjatai dengan senjata paling menakutkan di dunia ini, akal.”

“Dan Kami kirim kepada mereka burung ababil. Melontari mereka dengan butiran batu kecil panas. Yang menjadikan tubuh mereka berlubang-lubang seperti daun dimakan ulat.” (al-Qur’an surat al-Fiil ayat 3-5)

“Dan Kami mudahkan bagi Daud, gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersamanya dan Kamilah yang melakukannya.” (al-Qur’an surat al-Anbiyaa ayat 79)

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (al-Qur’an surat an-Nahl ayat 68)

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (al-Qur’an surat an-Naml ayat 18)

(TIDAKKAH KAMU MEMIKIRKAN?!)

“Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, ‘mengapa aku tidak melihat hud-hud (hud-hud adalah sejenis burung pelatuk), apakah ia termasuk yang tidak hadir?. Pasti akan kuhukum dia dengan hukuman yang berat atau kusembelih dia, kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas. Maka tidak lama kemudian (datanglah si burung) ia berkata, ‘aku telah mengetahui sesuatu yang belum kau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.” (al-Qur’an surat an-Naml ayat 20-22)
(MAHA BESAR ALLAH!)

Selasa, 13 September 2011

Dua Tipe Muslim

Ada dua jenis umat muslim. Yang selalu beribadah dan beramal sepanjang hari. Dan yang selalu belajar, menggali ilmu dan makna dari setiap simbol agama.

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa derajat orang yang berilmu pengetahuan lebih tinggi daripada mereka yang hanya menyibukkan diri dengan amalan. Dan memang Islam adalah agama yang logis, bukan agama mistis.

Ada macam murid yang mengkopi semua ucapan gurunya dan tidak sedikitpun bersikap kritis karna meyakini bahwa ilmu gurunya lebih tinggi dan dia tidak berhak mengkomen pernyataan gurunya sama sekali.

Zaman sudah berubah. Perubahan ini dalam satu sisi, membawa pada kegelapan Islam. Di sisi lain, menerangi Islam. Dahulu ketika proses belajar agama adalah sebuah proses Tanya jawab, itu memungkinkan para murid untuk menyerap dan mengkritisi sebuah pernyataan. Pertanyaan “MENGAPA” masih dibolehkan. Sang guru akan menjawab dengan jawaban yang bijaksana, yang membuat mulut para murid berhenti bertanya dan membuat pikirannya berjalan serta hatinya menerima.

Zaman sekarang ketika Islam semakin terpuruk, muncul keyakinan bahwa guru-guru Islam adalah mereka yang tinggi ilmunya. Dan ilmu agama itu tidak dapat ditolak. Akhirnya para murid yang terlampau mengagungkan gurunya, mengiyakan semua kata-kata gurunya tanpa dikritisinya sama sekali.
(Saya, ketika mengagumi seorang tokoh atau pun guru, tidak secara total saya menyetujui semua pendapat dan ajarannya. Ada beberapa hal dalam ajarannya yang saya tolak karna jauh dari nilai kebenaran yang saya yakini.)

Tipe ini akan banyak melahirkan para santri yang rajin beramal. Siang malam sibuk dengan amalannya. Entah shalawat, dzikir dsb. Mereka percaya, semua kalimat itu punya nilai mujarab, selain juga dapat menambah pahala praktis. Itu memang benar, namun akankah kita temukan kegemilangan generasi muslim dari para santri yang hanya sibuk dengan amalan?

Tengoklah masa emas Islam, dimana segala peradaban dan ilmu pengetahuan bersumber dan berawal dari para muslim. Mereka, para muslim, menyibukkan diri menggali segala macam ilmu pengetahuan, aktif berpikir dan mengkritisi banyak hal. Sehingga berbagai pemikiran dan penemuan muncul dari generasi gemilang muslim di zaman ini.

“Innamal a’malu bin niyaat”

Seseorang yang berdzikir dan melakukan amalan-amalan dengan tujuan mendapat pahala dan balasan dari Tuhan, maka itulah yang ia dapat. Tapi ketika ia berdzikir dan beramal disertai dengan pengetahuan dan penghayatan ketuhanan yang mendalam, maka bukan hanya pahala yang ia dapat, melainkan juga kedalaman iman dan kecerahan jiwa.
Bisa dibedakan ibadah seorang yang berilmu dengan yang mengharap timbal balik karna sekedar dapat petunjuk dari guru bahwa amalan itu bagus, dsb

Namun masih ada macam murid dan guru yang menjadikan diskusi sebagai cara belajarnya.

“kamu mau belajar apa?, mau Tanya apa?”

Kemudian sang murid akan bertanya hal-hal yang menjadi pertanyaan dalam otaknya sepanjang hari. Cara belajar semacam ini dimungkinkan bagi para murid yang cerdas dan aktif berpikir. Dia suka berpikir dan bertanya banyak hal dalam kehidupan ini. Dia menyimpan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Dan tipe guru yang memungkinkan dalam tipe belajar seperti ini adalah tipe guru yang ilmunya terlalu banyak untuk dijabarkan, guru yang bijak. Yang bersedia merombak pemikirannya bila muridnya membuka pikirannya bahwa pernyataannya kurang bisa diterima.

Seperti itulah cara belajar yang memungkinkan kemajuan ilmu pengetahuan. Membuat para murid berpikir dan terus berpikir. Dan jangan pernah mengira mereka tidak pernah berdzikir, hanya karna tangannya tidak memegang tasbih. Dzikir mereka adalah dzikir sejati. Bukan hanya lafadz tasbih beratus kali, melainkan perenungan lafadz tasbih yang sepanjang hari memenuhi pikirannya.

Ketika mereka bertanya dalam hatinya “Bagaimana Tuhan mampu mengatur alam yang rumit ini, bagaimana Ia membuat para bayi meminum susu ibunya setelah ia lahir”, maka mereka sedang berdzikir. Ketika nama Tuhan ada dalam pertanyaannya dan pikirannya, maka itulah dzikir. Dzikir adalah mengingat Tuhan. Tanpa ucapan “Subhanallah” seratus kali, tapi dengan aktif berpikir dan merenung, para murid cerdas ini telah berdzikir sepanjang hari. Dan tujuan dzikirnya bukanlah mendapat balasan atas amalannya, melainkan MENGENAL lebih dalam tentang Tuhannya.

Anda pasti bisa memprediksi akan seperti apa tipe pertama berkembang dan akan seperti apa tipe kedua selanjutnya.

Ya, tipe pertama mungkin akan jadi ahli ibadah. Yang kuat shalat sepanjang hari, berdzikir dan bershalawat dengan tasbih sepanjang hari. Inilah generasi ahli ibadah yang akan mendapat tempat layak di sisiNya atas usaha ibadahnya.

Sedangkan tipe kedua akan menjadi orang berilmu, yang mengenal Tuhannya. Segala ibadahnya penuh dengan ilmu. Dia sudah paham mengapa harus shalat, mengapa harus puasa, dan semua praktek agama lainnya. Dia pun telah menggali cukup banyak misteri alam dan kehidupannya. Setiap waktunya diisi dengan penelusuran pemikiran dan mencari jawaban pertanyaannya. Dan inilah ahli imu yang sebenarnya, ulama yang sebenarnya. Yang derajatnya ditinggikan di atas ahli ibadah.

Semoga kita pun adalah salah satu dari dua tipe muslim yang ditinggikan derajatnya semacam itu. Bukan kelompok yang di luar itu.

Aamiin....