Tampilkan postingan dengan label Perenungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perenungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Januari 2024

Nanti

Pada saatnya nanti,

Aku ingin meringkuk saja dalam sunyi
Dalam permenungan tiada henti
Dalam hilangnya jati diri
Dan kuharap lebur dalam namaNya

Aku ingin tenggelam, terasuki,
Kehausan tiada akhir
Pencarian tanpa ujung
IlmuNya yg maha

Akulah makhluk asing,
Dari dunia yg tak terkenali,
Bingung, tersesat dalam belantara
Penuh belukar, monster ganas,
Yg menjelma bagai peri
Berkilap kilap seakan menjanjikan pemenuhan kerongkongan yg kering
tak lagi mampu menguarkan bunyi

Dan janganlah kau biarkan aku tercerai
Dari kasih sayang dan kebaikanmu
Yg adalah satu satunya penawar
kejenuhan kehidupan dalam keasingan ini
Dan peluklah aku
hingga ku mabuk dalam kehangatanmu
Terlupa dinginnya dunia penuh kebusukan ini

Aku rindu
Aku letih, aku ingin pergi
Ingin menuju kebenaran
Ingin meninggalkan kepura puraan
Ingin terikat dalam kepenuhan, kekosongan
Ingin berhenti

Aku ingin semua berhenti
Dalam permenungan yg penuh
Di bawah bintang bintang yg jauh
Di tengah kegelapan tak berujung

Aku ingin pergi dan menyadari
Ini bukanlah tempatku
Ini bukanlah perhentian
Hingga kerinduan dan kehausan tak kan pernah terpenuhi
Dan aku tetaplah dalam pencarian
Hingga pada saatnya, ditariknya aku
Dijemputnya
Menuju perjalanan lain yg lebih panjang lagi

Sabtu, 07 Oktober 2023

progress

Aku pernah melewati masa kesyukuran yang luar biasa, di dua titik kehidupan yang sangat kusadari. Tidak seperti ketika baru lahir, rasa syukur yang muncul begitu jelas seakan aku bisa melakukan apapun untuk membayar apa yang Tuhan berikan padaku saat itu. Masa itu adalah ketika aku menikah dengan Alif, dan ketika aku selesai melahirkan Mari. Pada saat itu rasanya aku rela apa yang ada padaku diambil demi apa yang Tuhan berikan padaku lewat Alif dan Mari.

Tentu saja aku melewati rasa gelisah yang parah di perjalanannya. Di perjalanan pernikahan bersama Alif, dalam berusaha melebur dengan kepribadiannya, berusaha membangun pernikahan yang ideal bagi masing-masing satu sama lain, terasa meremukkan tulang dan membakar kulit. Seakan jika semuanya hancur dan berakhir, maka aku tidak punya apa-apa lagi dan lebih baik aku mati. Seakan dia adalah satu-satunya yang aku punya di dunia ini, dan tanpanya aku kehilangan tujuan. Tuhan berusaha mengajariku bahwa tidak seperti itu caranya mencintai. Benar bahwa aku begitu mencintai Alif, sehingga mungkin aku kebingungan bagaimana mengekspresikan perasaanku kepadanya. Karena itu aku menyakiti dia dan diriku sendiri, padahal aku mencintainya. Mungkin pula aku terlalu tenggelam dalam perasaan cinta yang dalam, sehingga aku melupakan banyak hal. Tuhan menegurku dengan banyak cara, dan mengizinkanku menyadari kesalahanku.

Aku masih perlu banyak belajar mencintai dengan benar, yang dengan senang hati ingin kupelajari. Saat ini aku sadar bahwa yang paling harus dan ingin kuberikan kesan adalah Dia yang memberikanku nikmat selama ini. Di atas segala omong kosong kadaluarsa yang pernah kukoarkan tentang kesetiaanku pada Tuhan yang masih naif saat itu, aku ingin membetulkan lemari penyimpanan informasi dan pelajaran yang ada di kepalaku. Membersihkan sistemnya dari virus yang melemahkan dan menggerogoti. Aku ingin kembali pada diriku yang dulu dengan lebih bijak dan dewasa. Aku ingin lebih diam dari aku yang dulu. Aku ingin berhenti bicara sebelum kata-kataku kupertimbangkan dengan benar dan tidak ingin lagi menyakiti orang lain (dan diriku sendiri). Meskipun aku sadar bahwa aku masih belum menguasai semua kebijaksanaan dan keterampilan untuk tidak menyinggung dan menyakiti orang lain, setidaknya aku semakin berkembang dari aku yang dulu.

Aku ingin semakin sadar, semakin berisik di dalam pikiran (dengan suara-suara pertimbangan, bukan melebih-lebihkan kenyataan di sisi negatif), semakin sunyi di mulut, dan semakin aktif mengukir pikiran dan perasaan lewat tulisan dengan lebih bijak dari sebelumnya. Mungkin, aku telah menemukan apa yang harus kulakukan di dunia ini. Peran apa yang akhirnya kuambil dan bagaimana aku harus mengambilnya. Kebimbangan yang dulu pernah memenuhi pikiran diangkat satu persatu sehingga aku semakin yakin. Semua pemicunya adalah keberadaan Alif dan Mari. Mereka berdua adalah unsur paling penting di kehidupanku saat ini (dan juga mamahku). Karena itu aku akan melakukan apa pun yang perlu dan baik untuk mempertahankan apa yang perlu kupertahankan.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku menghabiskan waktu dengan orang yang salah atau mengajakku menyesali apa yang kutinggalkan demi kehidupanku yang sekarang (kehidupan yang katanya lebih di bawah kehidupanku yang sebelumnya), aku bisa dengan yakin menjawab bahwa apa yang pernah kulewati sebelumnya mengubahku menjadi lebih bijak, bahwa apa yang kujalani sekarang sesungguhnya lebih berarti dan bermakna, dan bahwa aku semakin jauh dari kebimbangan. Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku bicara omong kosong, bahwa aku hanya sedang di fase manik, aku sadar bahwa ketika aku sedih dan putus asa, pikiran jelekku kembali datang. Bedanya dari yang dulu adalah ketika fase depresi datang, aku semakin tangguh untuk memanjat sendiri keluar dari lubangnya, tanpa berteriak meminta tolong lagi dari orang-orang di sekitar. Aku bahagia sekali dengan perubahanku yang sekarang, dengan kemampuanku yang kudapati karna bertahun-tahun mengendap di fase depresi yang panjang tanpa diketahui orang lain. Aku bahagia dengan kemandirian psikis yang aku dapat dari pergulatanku yang panjang dengan diriku sendiri. Jadi, jika ada yang ingin mengajakku menyesali semua yang terjadi (termasuk diriku sendiri), akan kutendang mereka semua dengan lebih santun dari sebelumnya.

Tidak, Levi tidak menjadi orang lain, Levi berkembang, Levi mendewasa dan membijak. Dia menjadi versi lebih canggih dari versi yang sebelumnya masih naif. Belum lebih canggih dari versinya di masa depan, tentu saja, tapi setidaknya dia terus berkembang, seperti teknologi yang ada sekarang, semakin berkembang setiap menitnya. Manusia (atau jika kita membandingkannya dengan teknologi) dengan segala karakternya tidak seharusnya berhenti di satu titik perubahan. Seakan-akan ada titik akhir mutlak yang memberhentikan kita dari perjalanan mendewasa. Selama kesadaran masih bertahan, tidak ada titik akhir dalam mendewasa. Kita tidak berubah menjadi orang lain, kita mengupdate sistem lama diri kita menjadi lebih canggih.

Karena itu kubiarkan diriku berusaha sesuai kemampuanku saat ini untuk terus menyerap unsur perubahan ke arah yang benar, untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi dan di dalam diri sendiri, untuk semakin takjub dengan Tuhan dan apa yang diciptakanNya, untuk memberikan sesuatu yang baik dan manfaat yang bisa kuberikan pada dunia. Berubahlah, menangislah sebentar, bangkitlah semakin cepat, bergeraklah semakin stabil dan seimbang. Semoga saja pada akhirnya kita sampai pada kelegaan luar biasa, di tempat peristirahatan kita di surga abadi.


Senin, 06 Agustus 2018

My Brother has departed on July 28, 2018


Sudah 9 hari sejak hari keberangkatan abang. Kami sudah terbiasa dengan kehilangannya dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa lagi. Tapi entah kenapa aku tidak suka melihat orang-orang dengan mudah kembali ke kehidupan normalnya lagi. Entah kenapa. Aku merasa harus ada sesuatu yang berubah, yang menandakan sebuah titik permulaan sesuatu. Untuk kami, mungkin, meneruskan apa yang abang lakukan, misalnya berkurban setiap idul adha, dan memelihara kambing kurban di halaman rumah sejak beberapa hari sebelum hari raya kurban, agar perasaan kehilangan kambing yang disayangi, perasaan berkurban dapat dihayati. Apa yang abang lakukan harus diteruskan.

Keberadaan manusia semakin dihargai, dua kali lipatnya, sejak ia meninggal. Sebelum itu, kita semua menjalankan kehidupan dengan normal-normal saja. Mungkin memang, manusia butuh suatu momen untuk menyadari sesuatu yang berharga. Untuk mensyukuri sesuatu, manusia harus menyaksikan mereka yang tidak memiliki apa yang ia miliki agar kesyukuran bisa lebih dihayati. Manusia memang lemah.

Perasaan sesal yang disertai kelegaan sudah mulai memasuki masa kadaluarsa. Seperti halnya orang-orang di sekitar kami yang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing lagi. Diantara mereka ada yang benar-benar merasa kehilangan kemudian berubah menjadi lebih penyayang kepada anak yatim, anak-anaknya abang. Atau mereka yang move on begitu cepat. Aku merasa tidak puas. Entah kenapa, harus ada sesuatu yang dimulai.

Dan kemudian, pikiran itu datang lagi.

Tuhan, sudah berapa kalikah Tuhan membuatku mempertimbangkan lagi hal-hal semacam itu. Aku yang hatinya tidak sebening kaca ini tidak mampu membaca pertanda.

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia kerugian.

Melainkan yang beriman dan beramal soleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Segala hal yang kita kerjakan adalah kesia-siaan. Hanya mereka yang mecari bekal untuk mati, bersiap-siap menghadapi kematiannya lah yang beruntung karena mereka mengisi hidupnya dengan amal soleh dan menasihati dalam kebaikan, hanya merekalah yang lepas dari kesia-siaan.

Dunia yang kita jalani ini, ketika kita sudah terbebas darinya dan saling berbincang di surga, kita akan merasa bahwa segala yang kita jalani di dunia ini hanyalah mimpi karena kaburnya rasa nyata yang pernah kita rasa, karna jauhnya masa lalu ketika kita menjalani hidup di dunia. Karena itulah, kehilangan mereka yang kita cintai bukanlah masalah apa-apa, seandainya kita tau apa yang Tuhan janjikan untuk kita di surga.

“Wahai yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agamamu.”

Senin, 02 Juli 2018

Surreal

Apa artinya semua ini?

Semakin tua umur kita, kita mulai berhenti bermimpi. Kita mulai menjadi robot, kita mulai tertidur dan merasa begitu cepatnya waktu berlalu. Kita menjadi sampah. Kita menjadi sampah yang Tuhan kasihani kemudian dimaafkan karena kelemahan dan kebodohannya.

Apa yang kucari?

Berjalan kesana kemari, menikmati pemandangan yang berganti-ganti, kemudian berbalik untuk berjalan lagi. Apakah emosi kebahagiaan yang hilang kemudian datang lagi adalah apa yang kita cari? Sekedar petualangan, untuk kemudian sampai di suatu tempat yang tidak kita ketahui. Atau, kita tak akan pernah sampai dimanapun.

Apa yang kurasakan?

Petualangan dalam merasakan berbagai macam hal. Seperti pabrik makanan selalu memberikan rasa baru bagi produknya. Menikmati setiap macam emosi yang datang, menghayati emosi yang nantinya akan datang lagi, dan lagi, dan  lagi. Atau menyimpannya hingga akhirnya meledak di suatu titik. Semakin tua umur kita, semakin banyak hal yang kita rasakan, apakah kita semakin pandai bereaksi secara emosional terhadap keadaan-keadaan yang berbeda? Atau sebaliknya, kita semakin kebas, kita hanya semakin terbiasa bereaksi, tanpa merasakan apapun lagi. Sudah terlalu banyak kita merasakan segala macam emosi.

Apa yang kupikirkan?

Berbagai buku kita lahap, berbagai cerita kita saksikan, berbagai macam teori dan perspektif kita jelajahi. Kita menumpuk semuanya lalu merapihkannya untuk membentuk bangunan pemikiran kita sendiri. Atau, kita hamparkan saja di seluruh ruangan penyimpanan, tergeletak begitu saja semua hal yang pernah kita baca dan saksikan, tanpa pernah menyimpulkan apapun.

Apa yang kuyakini?

Kita terbiasa berharap. Sadisnya, kita belajar mengetahui bahwa banyak sekali dari harapan kita tak masuk akal dan tak akan pernah terwujud. Tapi, waktu belum berhenti, mengapa kita berhenti berharap? Berharap bukanlah tentang menunggu suatu kejutan akan datang di masa depan, kejutan akan terkabulnya harapan kita. Berharap adalah tentang menghidupkan keyakinan, membohongi pikiran. Tanpa dibohongi, kenyataan terlalu absurd bagi mata kita.


Bagaimana aku tau bahwa aku masih berharap, sedangkan aku tak tau apa yang kurasakan saat ini. Segalanya semakin surreal. Bertumpuknya pengalaman membebani kita dengan pekerjaan pengaturan. Jika tidak, beginilah. Seni datang dari pikiran yang berantakan. Hidup ini adalah seni yang kita lukis sendiri.

Jumat, 29 Juni 2018

'Ignorance is Bliss'

Ada banyak hal yang tidak perlu kita ketahui di luar sana. Akhir-akhir ini itu lagi yang kupikirkan.

Ignorance is bliss, katanya. Itu adalah kutipan orang pengecut. Aku setuju bahwa dalam banyak hal lebih baik kebenaran atau kenyataan tersimpan saja rapat-rapat tanpa harus kita buka. Jika teman dekat kita yang hubungannya baik-baik saja dengan kita ternyata punya pandangan buruk tentang kita yang dia bicarakan dengan orang lain, apakah kita perlu tau? Lalu setelah kita tau, apakah kita akan bisa mempertahankan hubungan seperti biasa, atau apakah kita akan menjauhi dia? Canggung sekali jadinya mungkin.

Siapa yang tidak membicarakan kekurangan orang di belakang orang itu? Aku pikir hampir semua orang melakukan itu. Kalaupun beberapa dari manusia tidak melakukan hal itu, di kepalanya pasti ada beberapa pikiran buruk tentang orang lain. Manusia bukan malaikat. Orang yang memperlakukan manusia lain seperti manusia itu benar-benar tidak punya kekurangan, seakan-akan titisan malaikat, berarti tidak memperlakukannya secara manusiawi. Kekurangan manusialah justru yang membuat manusia punya kecenderungan untuk menghamba karena menganggap bahwa dirinya penuh kekurangan. Jika makhluk berakal seperti manusia tidak punya kekurangan, manusia pasti jatuh ke dalam kesombongan. Kecuali dia tidak berakal seperti layaknya manusia, tetapi malah seperti malaikat yang tidak diberikan akal seperti manusia.

Sekali lagi, siapa yang tidak mempunyai pikiran buruk tentang temannya sendiri? Manusia itu rentan terluka. Lukanya akan membuatnya membangun sebuah sistem pertahanan. Salah satunya adalah menganggap orang lain sebagai penyebab kesakitannya. Jika tidak begitu, manusia akan tenggelam mengutuki dirinya sendiri. Itu sebelum takdir Tuhan ikhlas diterimanya. Kita semua menyimpan pikiran buruk tentang orang lain, entah kita timbun pikiran itu (berusaha kita enyahkan) atau membiarkannya apa adanya di situ. Kita semua pernah terpeleset jatuh. Kalau tidak, Tuhan tak akan memerintahkan kita untuk membaca dan belajar.

Permasalahannya adalah apakah kita perlu mengetahui semua pikiran orang tentang kita? Ketika kita berdiri di depan mereka, apakah kita perlu menyadari bahwa mereka menganggap kita ini dan itu? Pikiran-pikiran itu akan membawa manusia menjadi tidak berdaya dan menghalanginya berdiri dengan percaya diri. Kenapa manusia seperti itu? Kita mungkin memang diciptakan dengan sistem pertahanan seperti itu karena kita membutuhkannya. Tapi itulah kenapa manusia tidak diberikan kepekaan berlebihan dalam membaca air muka orang lain. Jika iya, bayangkan saja.

Karena itu kita tidak perlu tau. Kita perlu menganggap itu semua tidak ada. Itu semua tidak ada, karena mereka selalu tersenyum di depan kita, mengatakan hal-hal baik. Mengapa kita perlu mengada-ada atau membayangkan sesuatu yang tidak ada buktinya? Sama seperti agnostik yang tidak perduli apakah Tuhan itu ada atau tidak, karena tidak ada bukti bahwa Tuhan itu ada. Memang bukan berarti Tuhan tidak ada, tapi mengapa perlu mengada-adakan sesuatu yang memang tidak ada buktinya?

Dalam hal lain, dalam hal kebenaran lain, apakah kita perlu membuka semuanya? Beberapa memang perlu sekali kita buka. Tapi banyak hal telah mengajarkan kita bahwa tidak semuanya perlu. Tidak semua kenyataan perlu kita buka, perlu kita ungkap. Kita lebih perlu mempertahankan emosi positif kita agar aktivitas kita sehari-hari berjalan normal. Karena sekali kita tau kenyataan yang tidak menyenangkan, seterusnya kita akan terbebani oleh pikiran dan perasaan yang mendapatkan dampak dari itu. Manusia memang seperti itu. Manusia bukan makhluk super, yang bisa begitu saja mengenyahkan pikiran buruk. Kita perlu pendorong untuk tetap berpikir baik. Bagi kita yang percaya Tuhan, Tuhanlah pendorongnya, janji-janji Tuhanlah pendorong kita.

Ignorance is bliss mungkin memang pernyataan yang harus kita setujui. Kenyataannya memang begitu. Mereka yang tidak tau, bisa hidup senang-senang saja. Sedangkan mereka yang tau, terutama kenyataan tidak menyenangkan, akan membawa pengetahuan itu dalam setiap langkahnya, dipengaruhi oleh pengetahuan itu, sadar ataupun tidak. Mereka yang tau tentang neraka, akan dipengaruhi oleh pikiran itu sepanjang perjalanannya, begitu pula mereka yang tau keberadaan surga. Mereka yang yakin pada keberadaan Tuhan pun akan dipengaruhi oleh pengetahuan itu sepanjang hidupnya. Mungkin dengan alasan itu jugalah Tuhan mengharuskan setiap manusia mengetahui keberadaanNya (bukan hanya agar Ia disembah). Mereka yang yakin akan keberadaan Tuhan berhati-hati dalam setiap langkahnya, karena mereka tau Tuhan menyaksikan. Mereka yang tidak yakin, mungkin punya alasan moral lain dalam berhati-hati, yang pastinya lebih punya kekurangan dibandingkan alasan keyakinan pada Tuhan.  

Jadi, apakah kita perlu tau? Ada beberapa hal yang memang perlu kita tau, karena alasan-alasan praktis tertentu. Tapi beberapa hal lain tidak perlu kita tau. Mengapa kita memilih melewati batas itu? Batas yang secara alamiah sudah dipetakan untuk kita dalam rangkaian blue print di dalam setiap sel kita. Mengapa kita menyimpang? Mengapa kita memilih jalan lain? Petualangan spiritual, petualangan intelektual, mungkin merupakan alasan-alasan yang canggih sekali di telinga, alasan-alasan yang dalam beberapa sudut pandang bagus sekali. Seandainya kita agak super, seandainya kita pintar, kuat. Seandainya kita punya cara untuk mengambil alih sistem dalam tubuh kita, atau rela menghayati semua dampak yang dihasilkan dari pengetahuan, berpetualang untuk mencaritau segala sesuatu bukan ide buruk kedengarannya.

Sekali lagi, ‘seandainya’ dan ‘jika’.

(Pengetahuan adalah beban yang kita bawa sepanjang perjalanan. Beban ini bisa menjadi bekal bagi kita, bisa pula kita bagikan bagi mereka yang kekurangan. Namun beberapa perbekalan bukanlah barang-barang yang berguna di perjalanan, hanya memberatkan. Mengapa mesti kita bawa? Karena jika kita kuat, jika kita memang melatih diri menjadi kuat. Memang tidak ada salahnya.)


Sabtu, 18 Oktober 2014

Belum Tentu Sejalan


Ada terlalu banyak hal yang tidak kita sukai di dunia ini. Tapi kita pun sadar bahwa terlalu banyak pula hal yang kita sukai di dunia. Banyak orang mengatakan apabila kita mengisi pikiran kita dengan hal yang positif, bila kita selalu berprasangka positif pada segala hal yang terjadi, dunia ini benar-benar akan kelihatan begitu indah. Sebaliknya bila kita selalu berprasangka negatif pada segala hal yang terjadi di depan kita, begitulah dunia bagi kita. Aku tau itu. Tapi pernyataan itu seakan mengakui bahwa tak ada apa pun di dunia ini kecuali imajinasi. Dunia ini dibentuk dengan imajinasi, dan dijalani pula dengan imajinasi. Lalu kita pun bagian imajinasi dari sesuatu yang lebih besar.

Pertanyaan yang sebenarnya perlu ditanyakan adalah mengapa ada seseorang yang selalu berpikiran positif, dan mengapa ada seseorang yang selalu berpikiran negatif? Benarkah bahwa sesungguhnya tak ada nilai apa pun di dunia ini kecuali prasangka kita sendiri? Absurd sekali. Mereka harus menjawab pertanyaan ini, jika mereka sangat mengedepankan prinsip “apa pun yang terjadi, berpikir positiflah”. Tapi apakah kebanyakan mereka mau berpikir? Kebanyakan mereka punya tujuan yang sangat praktis (setidaknya menurut beberapa orang), yaitu menjalani kehidupan sebaiknya, pragmatis? Berpikir postif sangat berguna agar apa yang kita lakukan ke depan punya hasil yang bagus. Karna pikiran mampu memaksimalkan usaha, katanya begitu. Tapi…mereka benar-benar buta dan tuli, mereka kata Tuhan “sama dengan binatang ternak. Tidak, bahkan lebih buruk lagi”. Apa itu terlalu kasar? No, itu kata-kata Tuhan di dalam Al-Qur’an. Tuhan hanya memberitau sesuai kenyataan, bukannya menghina manusia.

Manusia yang hidup tanpa menyadari apa yang sedang terjadi, akan terjadi dan latar belakang dari kejadian kita adalah manusia yang lebih buruk dari binatang ternak. Apa bedanya manusia dengan binatang ternak? Bisa berperadaban dan berbudaya? Laba-laba juga bisa, semut bisa, banyak binatang yang bisa. Itu adalah tasbih yang tidak disadari. Semua makhluk Tuhan diciptakan untuk bertasbih tanpa mereka sadari. Tapi manusia berbeda. Manusia diberi “penglihatan, pendengaran, dan hati”. “mengapa tidak kau pergi menjelajahi bumi, agar kau punya telinga yang bisa mendengar, mata yang bisa melihat, dan hati yang bisa merasa?”, kata Tuhan. Ya, mereka buta dan tuli, kebanyakan mereka. Apa terlalu kasar? Tuhan yang mengatakannya sendiri!

Jadi apakah segala hal yang kebanyakan manusia katakan, yang keliatannya atau kedengarannya baik sekali, ternyata belum tentu sejalan dengan kebenarannya. Saya percaya bahwa segalanya adalah relatif, sebelum Tuhan membuat aturan bagi segalanya. Seperti bahwa hukum dasar segalanya adalah boleh sebelum Tuhan mengharamkan beberapa hal. Mengapa Tuhan mesti membuat semua itu? Apa jadinya game tanpa aturan? Apakah yang kita jalani adalah game? Kalau bukan game, apalagi? Untuk tujuan apa kita ada di dunia ini? Bisakah kalian menjelaskannya?


Kamis, 05 Juni 2014

Pesan bagi Para Insan Sosial


Di dalam sebuah kasus yang ada di manga Dan Detective School, seseorang yang dikenal sebagai seorang pembunuh ternyata diketahui terbiasa melihat pertumpahan darah di dalam rumahnya, di antara ayah dan ibunya. Sekuat apa pun ia berusaha untuk tetap hidup biasa saja, image yang biasa ia lihat dan hadapi di dalam rumahnya masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan membuatnya menjadi seorang pembunuh.

Kita sering mudah sekali menghakimi perbuatan seseorang tanpa melihat latar belakang permasalahan. Di dalam hukum Islam, hukuman bagi seorang pencuri adalah potong tangan. Bila ia mencuri lagi sedangkan kedua tangannya sudah dipotong karna perbuatan mencuri sebelumnya maka kakinya yang akan dipotong. Sekilas hukuman ini sangat menyeramkan. Tapi hukuman potong tangan berlaku setelah si pencuri diadili, apa yang mendasari perilaku mencurinya. Jika si pencuri adalah orang yang miskin dan tak punya uang, ia akan mati bila tidak mencuri, maka tidak semestinya ia dihukum sama dengan orang yang masih bisa makan tapi mencuri. Kita tidak tau apa-apa tentang hukum Islam, tapi mudah bagi kita mengatakan bahwa ianya tidak manusiawi.

“mestinya dia bisa kuat dong, dia kan bisa belajar, masa terpengaruh sama lingkungan dan jadi pembunuh”, blablabla, saya sering mendengar itu. Saya percaya seseorang membunuh pasti karna dia “sakit” atau dia “harus” membunuh, dia terdorong untuk membunuh. Ada yang menyesal dan ada pula yang tidak menyesal. Ilmu seperti psikologi dan kriminologi ada karna ini. Di zaman seperti ini, entah kenapa saya berpikir bahwa “adalah tidak keren kalau kita tidak tau tentang psikologi”. Kenapa? Oh man, di atas 50% orang di dunia menderita kecemasan, stress, dan depresi. Dunia di akhir zaman adalah dunia yang penuh dengan orang yang sakit secara mental dan kejiwaan. Apa penyebabnya?

Dunia sekarang meninggalkan agama. Fenomena “jangan campuri urusan agama” TANPA DISADARI membawa kita pada neraka kegelisahan dan depresi. Mana ada orang taat dan khusyuk dalam beragama mengalami depresi. Kalau pun kelihatannya dia “alim” dalam agama tapi tetap saja depresi, ada yang salah dalam keimanannya. Benar, orang beragama adalah orang yang penuh kedamaian. Karna itu Freud mengatakan bahwa agama ada karna ia dibutuhkan. Agama dibuat karna manusia membutuhkan pegangan itu. Di sisi lain dari teori Freud, orang beragama meyakini (karna keyakinannya pada Tuhan) bahwa Tuhanlah yang menciptakan agama, karna itulah insting membutuhkan agama ada dalam diri manusia.

“Jangan campuri urusan agama” berdampak buruk bagi orang-orang yang lemah secara spiritual. Itu mungkin tidak masalah bagi orang-orang yang mampu menjaga ketaatannya. Selain itu pemisahan agama dan Negara dibuat-buat untuk menjaga toleransi beragama? Karna agama adalah urusan pribadi saja, maka “Negara”lah ganti obat bagi kecemasan dan ketidakteraturan masyarakat. Artinya, kita mengingkari peran agama sebagai tuntunan kehidupan. KEBINGUNGAN, kegelisahan pun bertambah bagi orang beragama. Karena di satu sisi dia perlu mengikuti aturan di dalam agamanya, di sisi lain dia “dipaksa” untuk mengikuti aturan Negara. Fenomena ini terjadi! Tentu saja bagi orang beragama yang masih taat pada agamanya dan merasa gelisah bila tidak menaati aturan agama, ini tidak terjadi pada orang yang hanya menjaga iman dan tidak peduli pada peran agama sebagai tuntunan kehidupan (secara penuh – khususnya agama Islam).

“Agama bukan satu-satunya tuntunan moral”, ada filsafat dan sebagainya. Memang benar. Tapi seberapa sempurna tuntunan moral lain selain agama? Ini rumit, karna orang beragama (khususnya agama langit) meyakini bahwa agama itu sempurna, ia datang dari Tuhan. Sedangkan orang yang tidak beragama tentu tidak meyakini itu, dan ketidakyakinannya pula yang membuatnya tak mampu melihat kesempurnaan agama yang dilihat orang beragama (di sisi lain mereka -orang tak beragama- meyakini keyakinan orang beragama pada agama lah yang membuatnya melihat “ilusi” kesempurnaan agama. saya akan bicara dari sudut pandang orang yang meyakini agama).

Saya tidak akan mengatakan lebih karna kacamata kita sekarang sudah demikian diganti dengan warna lain sehingga sulit bagi kita kembali pada kacamata kebenaran (jika anda mencurigai dunia sekarang sedang berjalan menjauhi kebenaran). Saya akan kembali pada penyakit dunia, kecemasan, atau kegelisahan. Kenapa beberapa manusia yang mendalami filsafat tiba-tiba gelisah, seperti Al-Ghazali (salah seorang tokoh filsafat Islam)? Tapi beberapa manusia lain begitu terlihat bahagia dengan teori filsafatnya sendiri. Francis Bacon mengatakan “Sebuah filsafat yang dangkal menggelincirkan pikiran manusia kepada atheisme. Tapi kedalaman yang ada dalam filsafat membawa pikiran manusia pada agama”. Benar, filsafat adalah cara kita menuju kebenaran, masalahnya hanya bagaimana kita menggunakannya. Filsafat yang dangkal akan menyesatkan manusia. Saya meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang simple dan mudah ditemukan oleh pikiran kita, tapi ia memuat misteri yang luar biasa dalam yang tak akan habis usia dunia menyelami kedalamannya. Al-Ghazali gelisah karna ia dibuat bingung oleh filsafat, selangkah atau beberapa langkah lagi dia berputar di dalam filsafat, ia akan semakin dalam tenggelam dalam lautan kebingungan. Setelah 10 tahun dalam perenungan, ia “kembali” pada agama dan menulis sebuah buku berjudul “Filsuf adalah orang-orang yang bingung”. Sampai kapan pun agama adalah tempat kembali (akhirnya saya mengatakan lebih. Yah, hal ini adalah salah satu penyebab permasalahan yang sedang kita bicarakan).

Kembali pada pembicaraan awal, bagi siapa pun yang dengan ringannya menghakimi perbuatan seseorang, kenapa anda tidak minta pada Tuhan (jika anda percaya Ia ada) agar menukar posisi anda dengan orang yang anda hakimi? Hanya untuk melihat seberapa pandai anda mengelola permasalahan milik orang lain dengan pikiran dan perasaan milik orang lain (bukan milik anda!). Memang ada orang-orang bodoh yang begitu mudah tergelincir pada hawa nafsunya sendiri sehingga ia benar-benar bersalah penuh atas perilakunya (saya tidak yakin 100%, tapi mungkin memang ada?), tapi ada banyak sekali orang yang perlu pertolongan! Karna dunia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kita, manusia, kita saling membuat orang lain jatuh dalam “kesalahan”. Orang yang kita hakimi pun adalah korban dari tindakan kita yang mempengaruhi orang lain, anda paham? Saya hanya ingin mengajak anda berpikir bahwa ketika anda melihat orang bersalah di hadapan anda, mulailah untuk mencari kesalahan anda yang menyebabkan perilaku orang lain terpengaruh sikap anda. Saya beri contoh untuk mempermudah.

Dalam manga Dan Detective School, ada contoh yang sangat bagus (banyak malah!). Seorang pemimpin organisasi kriminal berbahaya ternyata adalah anak dari seorang pembunuh berbahaya (pembunuh berbahaya itu adalah ibunya!). Bukan hanya itu, ayahnya yang kemudian meninggalkannya dan tidak mengakuinya sebagai anak kemudian memenjarakannya dalam ruang bawah tanah ketika ia masih usia SMP! Dengan alasan khawatir si anak akan berbuat kriminal! Ya,kekhawatiran kita seringkali malah membuatnya jadi kenyataan. Si anak belajar untuk menjadi kriminal, justru ketika ia dianggap kriminal. Lalu siapa yang bersalah atas kejahatan yang si anak rencanakan ketika ia dewasa dan menjadi pemimpin organisasi kriminal? Si ibu bersalah karna ia membuat anaknya dibully ketika teman-temannya tau si anak punya ibu seorang penjahat, dan perilaku bullying teman-temannya menabung rasa ketidakpercayaan si anak pada orang lain, termasuk pada sahabatnya sendiri yang mulai terlihat meragukannya. Si ayah bersalah juga karna melakukan hal yang menciptakan tekanan luar biasa dalam diri si anak untuk memantapkan hati dan menyusun rencana untuk membuat sebuah organisasi kriminal. Lihat, perilaku anda mungkin secara langsung mau pun tidak langsung membuat seseorang jatuh dalam dunia hitam. (dalam agama Islam, cara inilah yang diyakini dipakai Tuhan untuk menentukan seberapa bersalah kita dan siapa yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kesalahan kita. Orang-orang yang menjadi pengaruh bagi seorang penjahat akan terus mendapat bonus dari dosa kejahatan si penjahat. Jika si penjahat mempengaruhi atau mengajak orang  untuk berbuat jahat, maka orang-orang yang mendapat bonus tadi akan ditambah bonus dosanya karna ini. Seperti sistem bisnis jaringan bukan?). Orang di luar lingkaran ini mungkin mengatakan bahwa mereka semua yang ada dalam lingkaran itu sakit, dan harusnya si anak lebih kuat menghadapi segala tekanan yang dialaminya ketika kecil. Tapi si anak bahkan tak kenal agama. Bagaimana bahkan ia bisa percaya bahwa Tuhan itu baik? Tak ada yang mengajarkannya! Memang, pasti ada jalan dan kesempatan ia kembali pada kebaikan, andai ada yang menolongnya. Mereka yang tak merasakan ada dalam lingkaran setan ini tak berhak mengomentari siapa pun yang terjebak di dalam situ. Mengapa tidak mereka mengulurkan tangan untuk membantu dia yang terjebak dalam lingkaran setan bisa keluar? Percaya bahwa siapa pun punya hati yang baik adalah modal untuk mengeluarkan manusia dari lingkaran setan. Saya katakan modal, semoga tidak berhenti pada modal saja.

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial bukan untuk menciptakan peraturan yang penuh tekanan. Kita diciptakan dengan kelemahan tidak bisa hidup sendirian agar kita saling membantu. Saling membantulah kita, dengan catatan (fokuslah pada perbuatan kita) “jangan berharap orang lain berbuat lebih dulu atau membalas kebaikan kita”, itu adalah peraturannya.

Memaafkan dan minta maaf adalah perbuatan luar biasa. Tapi memaafkan jauh lebih luar biasa. Kenapa? Kita tidak perlu menunggu orang lain minta maaf pada kita, bagi kita segalanya sudah selesai. Kita telah memberikan kebaikan pada diri kita sendiri dan orang lain dengan begitu. Dan ketika kita punya kesalahan, minta maaflah tanpa menunggu dimaafkan terlebih dulu. Meski pada akhirnya orang lain tak memaafkan kita, setidaknya kita menyesal dan tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Ya, jangan tunggu kebaikan orang lain pada kita, jangan mengharapkan ucapan terima kasih, fokuslah pada perbuatan kita. Dengan begitu kita tak punya cukup waktu mengomentari orang lain. Jangan pula berharap orang lain berpikir sama dengan kita.

Bantulah mereka keluar dari lingkaran kecemasan, depresi, dan tekanan mental tanpa berpikir “dia harus bisa keluar sendiri dari sana!”. Dan bagi penderita tekanan mental yang masih bisa berpikir jernih di sela-sela kegelapan yang menyelimutinya, mari berpikir kita tidak sendirian. Ada Tuhan yang selalu mengulurkan tangan untuk membantu, hanya tinggal kitalah yang meraih tangan itu. Jangan terlalu berharap orang-orang di dunia ini begitu pintar dan kuat menarikmu keluar dari lingkaran, kumpulkanlah kekuatanmu dan mintalah kekuatan lebih pada Tuhan. Hidup adalah perjuangan. Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan bagi kita dan orang lain.

Tulisan ini dibuat dengan berantakan dan tanpa persiapan. Dari berbagai pengalaman dan pelajaran, saya tiba-tiba begitu ingin menyampaikan banyak hal, karna itulah ini ditulis. Saya serahkan kesimpulan kepada pribadi masing-masing. Saya hanya berharap tulisan ini mampu membuat kita berpikir banyak. Bukan karna saya merasa sudah begitu pintar dan pandai mengaplikasikan apa yang ditulis di sini, tapi agar sama-sama belajar dan berlatih. Saya minta maaf atas kesalahan yang saya buat di dunia nyata maupun dunia maya, dan insya Allah saya memaafkan dan terus belajar memaafkan atas apa yang saya temukan menyakiti perasaan dan merugikan saya. Karna kita akan selalu melakukan kesalahan, putaran maaf dan memaafkan akan selalu ada dan menjaga keteraturan di alam ini. Kita mungkin harus fokus pada apa yang bisa kita lakukan, tapi “saling berbuat baiklah” agar revolusi kita damai seperti halnya revolusi “mereka”.

(Saya tidak menyarankan anda agar seperti malaikat dan tak pernah marah. Marahlah pada orang lain, itu wajar. Tapi diamlah, pergilah untuk tenang. Lalu mulailah berpikir tentang kesalahan kita dan perbaikilah diri kita. Jika memang perlu menyampaikan kecerobohan orang lain agar ia memperbaikinya, lakukanlah dengan pikiran yang sematang mungkin agar tak menimbulkan masalah baru. Jika tidak, saya harap pihak kedua bisa lebih bijak dari anda, atau ada cara lain yang lebih cocok bagi masing-masing orang.)

Warning! Tulisan ini tidak bebas dari kesalahan. Penulisnya adalah manusia (yang masih bocah usia dan sikapnya dibandingkan anda, bisa jadi). Silahkan ambil pelajarannya, dan perbaiki kesalahannya di pikiran anda.

Salam.


Kamis, 30 Agustus 2012

Manusia dan "akhlak" terhadap Hewan


Selama ini ceramah-ceramah agama “hampir” tidak pernah menekankan pentingnya akhlak kepada hewan dan tumbuhan, kecuali hanya sekilas lalu. Rahmat semesta alam hampir selalu ditekankan hanya kepada seluruh manusia, tanpa mengenal ras dan agama. Untuk apa hewan dan tumbuhan diciptakan, kalau tidak disertakan dalam isi-isi ceramah itu?

Nun beberapa abad lalu, hewan-hewan ikut serta dalam sejarah kenabian. Gagak yang menjadi saksi pembunuhan pertama di muka bumi dan mengajarkan kepada manusia cara menguburkan mayat (maka ketika kita belajar sejarah darimana muncul ide manusia untuk menguburkan manusia yang sudah mati, burung gagak ikut serta dalam sejarah itu), serigala yang pernah difitnah memangsa nabi Yusuf, unta nabi Shalih yang pernah disia-siakan kaum Tsamud, paus yang “memelihara” nabi Yunus dalam perutnya atas “wahyu” dari Allah padanya, laba-laba gunung yang membuat sarang di pintu gua untuk melindungi Nabi SAW dari kejaran kaum musyrikin, dll.

Sulaiman as nyatanya punya mukjizat mengerti bahasa hewan dan bisa berbicara dengan mereka.

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh ini benar-benar karunia yang nyata.’” (al-Qur’an surat an Naml ayat 16)

Bukankah ini luar biasa dan memperlihatkan kepada kita bahwa hewan pun punya bahasa dan respek terhadap manusia. Kalaupun bahasa hewan begitu sepele dan tidak berarti, mana mungkin Tuhan mengajarkan bahasa mereka kepada Sulaiman dan Daud?

Beberapa abad sebelumnya, binatang dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan, kotor, tidak berakal, tidak merasa, tidak dapat mengetahui (belajar), tidak dapat bicara, tidak bernilai kecuali ketika bisa dimanfaatkan untuk dimakan atau sebagai hewan tunggangan. Tapi kemudian al-Qur’an datang dengan berbagai kisah tentang hewan, yang seakan memberitaukan bahwa binatang punya kehidupan dan mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan makna khusus bagi kita. Mereka punya bahasa sendiri, emosi dan pemikiran (meskipun tidak ada dari mereka yang bisa mengalahkan analisa rumit terhadap sesuatu seperti yang bisa dilakukan manusia).

Ingatkah bagaimana Abu Hurairah, yang dijuluki bapak para kucing, mempraktikkan “rahmat bagi  semesta alam” yang tidak hanya menekankan pada manusia. Dan sikap ini pun menunjukkan bahwa berteman dan memberi makan mereka dengan kasih sayang BUKANLAH HAL SIA-SIA.

Masihkah kita akan menafikkan mereka, hewan-hewan yang berjasa dalam perang dunia 2? Mereka (hewan-hewan) yang telah berbaris untuk menyelamatkan manusia. Dan berapa banyak nyawa manusia selamat karena jasa mereka? Atau kisah Hachiko yang terang-terangan mengajarkan pada kita tentang kesetiaan. Atau kisah seekor kucing dalam drama Jepang “Juui Dolittle”, yang sakit secara fisik dan psikis karena kakek (tuannya) yang setiap hari mengelus dan memberinya makan sudah meninggal dunia. Juga cerita seekor kucing yang jadi sangat galak dan tidak mau makan setelah dia dibawa oleh tuan lain dan dipisahkan dari tuannya yang lama.

Ada banyak kasus nyata dalam kehidupan ini tentang “cerita emosional” para hewan. Betapa makhluk yang otaknya didominasi dengan system limbic ini begitu peka terhadap kasih sayang dan gertakan. Kasus-kasus adanya kucing yang penakut terhadap manusia dan ada yang “songong”, sebenarnya dapat dijelaskan dari kacamata psikologi hewan. Hewan sangat peka terhadap sikap-sikap kita, sehingga sifat dia selanjutnya akan terpengaruh oleh perilaku kita terhadapnya.

Seorang ilmuwan Jerman terkenal, Brehm, penulis ensiklopedi besar tentang kehidupan binatang yang menghabisskan hidupnya untuk meneliti kehidupan binatang, mengatakan:

“Mamalia memiliki daya ingat, kecerdasan, dan perasaan. Sebagian besar mamalia memiliki watak tertentu, seperti ia dapat membedakan benda-benda serta mengetahui perbedaan waktu, tempat, warna dan irama. Selain itu, ia mampu mengenali benda-benda, mengawasinya lalu memikirkannya. Ia mengetahui bahaya dan memikirkan cara menjauhinya. Ia dapat menampakkan cinta dan kebencian, mencintai pasangan dan anak, serta mengungkapkan rasa terima kasih dan kesetiaan, penghormatan dan penghinaan, kemarahan dan keramahan, tipuan dan kemahiran, amanah dan pengkhianatan. Binatang itu mahir memperhitungkan benda-benda sebelum mendekatinya. Binatang yang sensitif dan cerdas itu dapat memikirkan kehidupan dan kebebasannya untuk kebaikan kelompoknya.”

Otak hewan mamalia (khususnya) diciptakan Tuhan dengan porsi system limbic yang mendominasi otaknya (bahkan beberapa hewan hanya memiliki system limbic dan reptilian brain saja, tanpa punya neocortex).  Sistem ini memegang peranan penting dalam emosi dan motivasi. Manusia  memiliki bagian ini hanya sekitar 10-20% dengan porsi neocortex (otak khas manusia untuk berpikir kritis dan menganalisa) 80%. Sedangkan hewan sebaliknya. Bagian otak yang memproses emosi ini mendominasi otak mereka. Itulah alasan mengapa Hachiko bisa “lebih” setia kepada sang profesor daripada istri kepada suaminya. Hewan-hewan ini diciptakan untuk bersikap sesuai perasaan, tapi tidak dilengkapi kemampuan untuk berpikir ulang secara kritis terhadap apa yang akan dilakukannya, seperti “mana yang lebih baik untuk dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak kulakukan dengan alasan begini dan begitu?”. Alasan atas perilakunya didasari oleh kemampuan persepsinya. Mereka menilai perilaku manusia dan hewan lain dengan persepsi, lalu bertindak dipengaruhi oleh persepsinya itu.

Itu juga dapat menjelaskan, mengapa seekor harimau bisa menyerang pawangnya sendiri. Jauh di dalam system otaknya yang “primitive”, dia punya alasan emosional untuk menyerang pawangnya yang biasanya dia patuhi. Atau seekor buaya dan ular yang tiba-tiba menyerang kita. Mereka memiliki alasan pertahanan diri  dan kelangsungan hidup. Ini adalah refleks atas alarm waspada, bahaya dan rangsangan lapar yang diterima otak reptilnya. Mereka tidak diciptakan untuk bisa berpikir dan menimbang bahwa perbuatannya akan menyebabkan keluarga korban sedih dan merasa kehilangan. Inilah mengapa “alasan emosional” seekor harimau menyerang pawangnya dan “alasan pertahanan hidup” buaya dan ular jauh lebih bisa dimengerti dan ditoleransi daripada “alasan” manusia (yang otaknya 80% didominasi oleh otak analisa dan berpikir kritis) menyerang manusia. Jika manusia memakai alasan emosional untuk membunuh seseorang, bukankah ia sama primitifnya dengan hewan? Bahkan ini tidak bisa diterima. Jelas hewan akan protes, “manusia bisa berpikir kritis, tapi mereka masih menggunakan alasan emosional untuk menyerang dan membunuh!”. Bukankah ini lebih tidak bisa dimengerti daripada alasan sang harimau menyerang pawangnya?

Dan, masihkah kita menafikkan semua itu?

Fakta bahwa hewan peliharaan yang mendapatkan perhatian dari teman manusianya lebih punya usia hidup yang panjang (panjang umur) daripada hewan peliharaan yang tidak mendapat perhatian dari teman manusianya (meskipun makannya teratur), menjelaskan dominasi system limbic pada otak mereka. Hachiko menunggu sang professor akan datang untuk memberi makan dan bermain dengannya. Dia setia untuk tetap menunggu kedatangannya. Dia keras kepala untuk tetap menunggu sebanyak apapun waktu telah berlalu (jika Hachiko punya neocortex, dia mungkin akan berhenti menunggu karena menyadari ada yang tidak beres dengan sang professor, dan tidak ada gunanya dia menunggu lebih lama). Hingga ia sakit, dan mati karena itu.

Islam diciptakan sebagai RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM. Bukan hanya teori belaka! Tuhan menciptakan yang lain selain manusia “bukan hanya” untuk bisa dimanfaatkan (dagingnya atau jasanya) dan dijadikan pelajaran (sifat dan perilakunya). Tapi untuk disikapi dengan semestinya. Bahwa kita butuh hewan dalam banyak hal. Dan ketahuilah mereka pun membutuhkan kita sebagai teman dan pemimpin bagi mereka untuk memberikan kehidupan sejahtera kepada mereka (tapi apa yang kita lakukan? Berapa banyak spesies hewan telah punah karena kita? Masihkah kita menafikkannya?).

Berapa spesies telah punah di Negara Indonesia ini? Negara selain Negara-negara di benua Afrika yang memiliki jumlah spesies hewan paling kaya di dunia! Berapa gajah telah mati dibunuh, diracun, untuk diburu gadingnya?! Berapa orangutan dibantai (agar ladang tidak dirusaknya)?! Berapa banyak anjing disiksa dan dilempari batu (dianggap anjing adalah sumber rabies)?! Berapa banyak kucing ditangkap, dibunuh dan dibuang (merasa mereka mengganggu peradaban kota)?! Mereka menyimpan rasa takut pada manusia, dendam dan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan oleh otak “bodoh” dan penuh ambisi dunia! Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan amanat dari Tuhan yang kita khianati ini? Berapa banyak orang yang tau hal ini, tapi dia diam, bungkam, “ini bukan urusan saya”. Maka saya tanya pada mereka, “siapakah kalian? Untuk apa kalian diciptakan di atas dunia ini?”. Dunia ini beserta segala isinya selain manusia, bahkan iblis dan jin, berkata dengan sepakat, “tidak ada makhluk paling menakutkan diciptakan oleh Tuhan, selain manusia. Mereka memiliki hati yang tulus tapi di sisi lain mereka dipenuhi ambisi dunia dan dipersenjatai dengan senjata paling menakutkan di dunia ini, akal.”

“Dan Kami kirim kepada mereka burung ababil. Melontari mereka dengan butiran batu kecil panas. Yang menjadikan tubuh mereka berlubang-lubang seperti daun dimakan ulat.” (al-Qur’an surat al-Fiil ayat 3-5)

“Dan Kami mudahkan bagi Daud, gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersamanya dan Kamilah yang melakukannya.” (al-Qur’an surat al-Anbiyaa ayat 79)

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (al-Qur’an surat an-Nahl ayat 68)

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (al-Qur’an surat an-Naml ayat 18)

(TIDAKKAH KAMU MEMIKIRKAN?!)

“Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, ‘mengapa aku tidak melihat hud-hud (hud-hud adalah sejenis burung pelatuk), apakah ia termasuk yang tidak hadir?. Pasti akan kuhukum dia dengan hukuman yang berat atau kusembelih dia, kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas. Maka tidak lama kemudian (datanglah si burung) ia berkata, ‘aku telah mengetahui sesuatu yang belum kau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.” (al-Qur’an surat an-Naml ayat 20-22)
(MAHA BESAR ALLAH!)

Selasa, 03 Juli 2012

Departure

Kamu tau?
Kehidupan di dunia tak bisa terulang lagi.
Sejarah yang terukir dalam tak kan terubah, kita tak kan kembali.
Karena itu, belajarlah, dan cintailah dengan biasa, namun tulus.
Kau tak kan bertemu dia yang sudah pergi dari dunia di dunia ini lagi.
Tak perlu kau lupakan kenangan bersamanya.
Kenangan itu adalah kehidupannya yang tersisa di dunia ini.
Orang akan pergi, semoga kenangan bertahan lebih lama.

Daun jatuh di musim gugur, hidupnya akan digantikan daun lain.
Kamu tau?
Kepergian dari dunia adalah keniscayaan.
Namun cinta membuatnya tak lagi jadi biasa.
Mungkin bukan tersenyum, tapi menangis.
Karna merasa kehilangan.
Tidak ada yang hilang sesungguhnya,
kenangan itu tidak ada yang hilang.
Lupakanlah sejenak dunia ini,
dan sadari, tak lama lagi waktu keberangkatanmu datang.
Sampai saat itu tiba,
galilah ingatan itu setiap mereka berangkat mendahuluimu.
Kita akan bertemu lagi,
di suatu tempat yang lebih nyata.
Kini, biarkan ia berjuang mempertanggungjawabkan hidup dunianya pada Tuhan maha Adil.
Simpanlah kenanganmu,
sampai waktu keberangkatanmu datang..
Namun jangan pernah kau lupakan pesan sahabat baikmu,
tak ada waktu untuk terlalu banyak tertawa di dunia ini.
Jadwal keberangkatanmu sudah ditetapkan.
Kamu akan segera berangkat.
Jangan menangis lagi,
persiapkanlah keberangkatanmu..
Agar kala harinya tiba, kau berangkat tanpa beban dengan senyuman..

Selasa, 13 September 2011

Life is a Game

Hidup begini sulitnya. Layaknya sebuah game yg meningkat level hingga kita benar-benar akan menghadapi satu kali tantangan terbesar terakhir dalam permainan.

Tidak bisa dibilang sebagai maniak game, yg tau banyak tentang taktik dan cara-cara memainkan game agar lebih mudah ditaklukkan. Atau berpetualang dari satu game ke game lainnya. Hingga otak terisi penuh dengan game history.

Saya senang game. Bagi saya, adalah sebuah kehidupan tersendiri ketika mendalami karakter game. Berimajinasi penuh, seakan-akan adalah tempat kita disana, kehidupan kita yg lain.
Satu hal terpenting, jangan pernah lewatkan setiap petunjuk yg diberikan. Sebelum maju, kamu tidak akan tau apa-apa tentang dunia macam apa di depan yg akan kau taklukkan satu demi satu. Dengan itu setidaknya, berhati-hati kita setiap melangkahkan kaki.


Saya bermain tanpa menghiraukan setiap petunjuk. Saya ingin terbawa dalam dunia asing yg membuat saya bingung. Dan, memang seperti itulah hidup kenyataannya. Tak ada yg kita tau tentang hidup ini ketika kita baru terlahir. Bahkan kita menangis menghadapi dunia baru yg tampak asing dan menyeramkan ke depannya ini.

Ku hiraukan setiap petunjuk pengawal game, dan ku dalami kedalaman misteri dunia asing itu. Tidak bisa ku bohongi diriku sendiri bahwa setiap kali memulainya aku ketakutan dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi, menumpuk di kepalaku.

Adalah seorang sepupu perempuan, yang adalah teman bermainku sejak kecil, seringkali ku ajak bermain game bersama-sama dengan aku dan adikku. Aku ingat, dia senang sekali dengan tema petualangan. Dengan latar tempat yang menarik, penuh warna dan tokoh game yang lucu dan menghibur.

Kami bermain, dan setiap kali dia (tokoh yang dimainkan sepupu perempuanku) terjatuh atau mati, dia selalu berteriak keras membuat kami kaget. Aku sampai takut dimarahi orang tua karna bermain game seheboh itu. Tapi disinilah dia membuatku tertarik. Karna sekarang aku akui, aku rindu teriakannya. Bukannya aku mengaku aku tidak seperti dia. Sungguh, aku juga sama kagetnya seperti dia ketika hal mengagetkan terjadi di tengah game (yah setidaknya tidak separah dia). Aku sadar itu semua karna ketegangan awal yang terlalu berlebihan dan kekurangsiapan menghadapi hal menyeramkan yang akan dihadapi di depan.

Bagaimana pun sebuah game membuat pemainnya penasaran menaklukkan hingga akhir. Tapi bagiku, seringkali putus asa lebih sering menjadi akhir dari permainanku. Aku bukan seorang gamers yang dengan antusias mencari cara singkat menaklukkan sebuah game agar penasaran hilang. Seringkali aku justru terbawa dalam misteri tingkat tinggi game yang kumainkan. “ternyata aku segini saja” pikirku, lalu aku meninggalkan perjalananku dari sana seringkali. Meskipun tidak setiap saat seperti itu.

Dari level ke level, setiap petunjuk baru muncul, yang akan membantumu mengenal sedikitnya tentang apa yang akan kau hadapi di level selanjutnya dan apa yang harus kau lakukan. Di sini juga kau diberitaukan kemampuanmu selama ini dan di posisi mana kau berada di antara para pemain game lainnya. Ya, inilah game, sebuah kemenarikan yang membuatmu tak berhenti untuk meluangkan penasaranmu. Kau tidak bisa berhenti berjalan karna waktu menarik-narikmu. Jika kau berhenti, lebih cepat kesempatanmu untuk mati.

Dan, hidup ini adalah sebuah permainan seperti game yang kita mainkan di PC, PS 1, PS 2, PS 3, X-BOX, PSP, NINTENDO DS dll. Semua ini kita mainkan demi menaklukkan satu demi satu tantangan hingga kita benar-benar mati dan tidak lagi ada sisa nyawa di tangan kita. Mengawali permainan tanpa petunjuk apa pun di tangan kita, dengan kekhawatiran bertumpuk tentang apa yang akan menanti kita di masa depan, shock dengan segala kejatuhan kita akan lawan. Mundur karna menghindari lawan yang membuat kita takut, menyiapkan segenap keberanian untuk maju lagi, berkali-kali baru bisa menaklukkan, melatih kesabaran dan ketahanan, bangkit dari mati berkali-kali, lelah, putus asa, itulah hidup. Sebuah permainan yang paling besar yang pernah ada. Seperti tujuan pembuat game sejati, ialah Tuhan, ingin melihat permainan para pemain, dan mencari para pemain garis depan yang mampu mengalahkan pemain-pemain yang tewas dengan cepat di belakang.
 
Kau kebingungan menghadapi sebuah dunia asing yang menantimu secara misterius dan tak mampu diprediksi

Senin, 22 Agustus 2011

"Apa" (akar pertanyaan: awal segalanya)

Merasakah dirimu bahwa kita begitu kuat terikat pada dunia materi ini?
Aku merasakannya setiap kali aku menyadari apa yg ku kejar ini membuatku sangat bosan menggenggamnya.

Tidak ada salahnya bagi kita mencetak sebagus-bagusnya nama dan sejarah hidup di dunia. Karna dunia menjadi tempat persinggahan meskipun sementara, maka akan sangat bagus jika kita menang meraih impian di dunia ini.

Kawan, aku juga punya mimpi. Aku ingin punya nama besar yg dikenal seluruh orang di dunia, lalu aku akan berjalan dgn baju kesombongan di atas bumi. Aku ingin punya nama yg disegani, dihormati. Itu saja. Intinya aku tidak ingin menjadi orang-orang biasa di dunia, aku luar biasa, aku di atas orang biasa. Ini keinginanku. Lalu aku ingin menaklukkan dunia di tanganku.

Percaya atau tidak, aku merasa aneh dengan semua ini. Meskipun kugapai setiap pijakan batu menuju atas, aku merasa setiap pijakan ini tidak bermakna.

Kita mungkin punya 1 menit bermakna di satu kegiatan, tapi selebihnya tidak bermakna. Bayangkan, berapa waktu telah kubuang di usiaku yg singkat ini?
Seperti kita makan banyak makanan, tapi hanya sedikit yg bisa terserap di tubuh kita. Apa yg harus kulakukan? Ada sesuatu yg salah.

Aku mencoba berpikir kembali tapi sayangnya aku tidak punya keberanian lebih menyimpulkannya.

Pertanyaan mendasar yg kuajukan padaku, apa yg kamu mau? (Pertanyaan ini juga yg dilatih di training ESQ dan pertanyaan ini duduk manis di pikiranku sejak lama namun tidak juga kujawab ia).

Jika ujung dari kehidupan dunia ini adalah kematian, yg kumau adalah mati dengan tenang. Lantas, bagaimana aku bisa mati dengan tenang? Jadilah seperti bunga sakura, yg dalam hidupnya yg sangat singkat itu, ia mampu memberi keindahan pada setiap orang yg melihatnya.

Itu benar. Jika hidup memang hakikatnya seperti itu, maka waktuku yg singkat harus kuhabiskan untuk mengabdi pada manusia, memimpin bumi ini dan meninggalkannya dalam keadaan yg lebih baik.

Tapi ternyata, kehidupan dunia ini terkait erat dengan sebuah kehidupan abadi di masa depan. Aku tidak bisa membayangkan, betapa tanpa tujuannya Tuhan menciptakan sebuah kehidupan fana yg begitu penuh rintangan, tapi hanya untuk menjadi seperti bunga sakura yg gugur dan hilang di tanah meninggalkan kesan di hati mereka yg juga akan hilang dari kehidupan!
Ada yg aneh dengan semua ini. Ada sebuah potongan yg belum ditemukan untuk melengkapi teka-teki ini.

Sebuah kehidupan masa depan, kehidupan yg abadi. Mengapa mesti ada dan untuk apa kita terus menjalani kehidupan itu? Kehidupan yg tak ada ujungnya cenderung tak bertujuan. Itu benar. Tujuan adalah sebuah titik perhentian dari suatu perjalanan. Maka perjalanan yg abadi tidak bertujuan.

Lalu, dimana makna hubungan erat kehidupan fana dengan kehidupan abadi? Apakah tujuan kita jika bukan sekedar mati dengan tenang? Apa mau kita?

Pencarian ini terhenti disini untuk sementara. Aku tak mampu menemukan jawabannya tanpa melihat dasar permasalahannya. Penelusuran ini akan menyita pikiran, memaksanya dengan keras.

Apakah kau akan menyerah begitu saja menemukan jawabannya? Aku tidak.

Apa mau kita, bukanlah akar dari setiap cabang pertanyaan lainnya. Itu adalah salah satu dari cabang pohon pertanyaan yg tingginya menembus langit ketujuh.

Hidup. Ya. Hidup adalah dasar mengapa kita akhirnya berteman, beragama, mengenalNya. Tanpa hidup, tak mampu kita mensyukuri nikmat iman. Maka sadarlah, nikmat yg paling penting disyukuri adalah nikmat kehidupan. Karna jika kita adalah sesuatu yg tidak tersebut, kita tidaklah tau kata "apa".

Apa itu hidup? Aku tidak yakin, ini akar setiap pertanyaan. Tapi jawablah saja. Menurutmu apa jawabannya? Tentu saja beragam. Tapi pasti hanya satu yg tepat. Dan aku tidak tau apa.

Sebelum kita lanjutkan, ada baiknya kita mengambil topik lain sebentar. Ini tentang manusia. Sebagian besar dari kita mungkin akan berpikir seperti ini, "wah serius sekali dia memandang hidup ini. Padahal kan tinggal dijalani aja apa susahnya. Buat apa kita nyari-nyari tujuannya capek-capek. Nanti juga nyampe sendiri ke tujuan. Daripada ngeladenin penasaran kita yg ga ada ujungnya. Salah-salah, malah kita yg salah jawab. Jawabannya cuma Tuhan yg tau kok. Tinggal ngikutin apa yg diajarin agama aja, gampang. Tinggal nikmatin aja hidup ini, buat itu juga kita diciptakan". Begitulah. Kesimpulannya sebagian besar kita berpikir bahwa hidup ini adalah untuk dinikmati selagi bisa. Ditambah beribadah, supaya seimbang. Hanya karna tidak ingin melewatkan kenikmatan, kita berpaling dari pertanyaan yg datang dari kedalaman hati.

Kawan, pertanyaan semacam itu datang dari kedalaman hati. Hati yg pernah bersaksi tentang keesaanNya di hadapanNya langsung. Mengapa kita berpaling?

Mari kita lanjutkan penelusuran tentang apa itu hidup. Ini terlalu sulit. Pikiranku buntu. Ini bukan awal. Masih ada pertanyaan yg jauh lebih penting dari ini.

Aku berpikir, jika kita mencari awal setiap pertanyaan, mengapa kita tidak bertanya soal awal dari segalanya? Ah, itu benar. Apakah awal dari segalanya?

Pertanyaan ini akan membawa kita jauh ke masa lalu, ketika segalanya berawal. Apa maksud dari segala? Segala di sini adalah semua yg ada, ya dengan kata lain "semesta alam".

Kita terbang jauh ke pemikiran para kosmolog. Lihat, betapa bermaknanya mempelajari kosmologi. Kita bisa mencari tau dengan khusyuk tentang awal dari segalanya, tentang akar dari pohon tertinggi yg pernah ada. Aku pernah bercita-cita menjadi seorang kosmolog. Menjadi kosmolog adalah sebuah pencapaian keinginan yg sangat tinggi bagiku.

Awal semesta alam. Kita pasti pernah mendengar teori statis alam semesta. Teori yg diakui Einstein sebagai teori yg terbodoh yg pernah dianutnya. Teori ini sudah dilibas habis oleh bigbang. Penelitian termutakhir menjelaskan bahwa alam ini terus mengembang seperti balon yg terus ditiup dari titik yg tiada hingga pecah dan hilang. Ini artinya segalanya bermula dan berakhir.

Kita tidak akan bicara mengenai akhir, kita akan bicara mengenai awal terlebih dahulu.

Awal dari objek yg mengembang ini begitu menakutkan. Bayangkan saja dirimu adalah seorang kosmolog atau astronom yg sedang meneliti alam semesta, kemudian kau menemukan bahwa setiap hari jarak antar bintang bertambah, setiap hari bulan menjauhi bumi, bumi menjauhi matahari. Apa yg akan terjadi nanti? Dan darimana mula perluasan ini? Ikuti aku kawan. Segalanya bermula dari satu titik! Titik yg entah darimana awalnya tapi mampu menciptakan alam tak terbatas.

Tinta Tuhan. Sebuah tinta yg awalannya titik mampu menuliskan beribu-ribu kata dengan jutaan makna. Ingat ini teman. Semua berawal dari tinta Tuhan yg jatuh ke ruang hampa. Tuhanlah awal dari semesta alam dan Dia bukan bagian dari semesta alam. Karna alam adalah tulisanNya.

Kita telah menemukan jawaban dari akar pertanyaan kita. Apa awal dari segala? Jawabnya adalah Tuhan. Tuhan menumpahkan satu titik tintaNya ke ruang hampa yg kemudian menghasilkan tulisan tak terbatas penyebutannya dengan makna yg juga tak terbatas.

Tuhan adalah jawaban pertama kita. Maka bersiaplah untuk pencarian selanjutnya.

Selasa, 23 November 2010

Sebuah Arti

Kehidupan itu dialami setiap makhluk yang diciptakanNya.

Dalam ilmu Biologi kita mengenal Kehidupan sebagai fenomena atau perwujudan adanya hidup, yaitu keadaan yang membedakan organisme (makhluk hidup) dengan benda mati. Sesuatu bisa dikatakan sebagai organisme apabila terdapat bentukan sel berbahan dasar karbon dan air dengan pengaturan kompleks dan informasi genetik yang dapat diwariskan. Organisme-organisme tersebut melakukan metabolisme, mampu tumbuh dan berkembang, tanggap terhadap rangsangan, berkembang biak, dan beradaptasi terhadap lingkungannya melalui seleksi alam. (id.wikipedia.org)

Semua itu benar. Tapi hidup secara universal tidaklah diklasifikasikan serumit itu. Dalam pemahaman salah satu pelaku kehidupan seperti saya, kehidupan dialami oleh semua yang Ia ciptakan. Langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya, mengalami kehidupan. Meskipun kehidupan secara filosofis adalah suatu kata yang lebih tepat ditujukan hanya kepada manusia.

Kehidupan adalah sesuatu yang kekal. Tapi dalam beberapa pemahaman, kehidupan lebih dimaknai secara sempit. Kehidupan ini tidak abadi. Benarkah begitu kenyataannya?

Para atheist (orang-orang yang tidak meyakini adanya Tuhan) tampaknya penganut teori tentang kehidupan yang sempit. Hidup adalah proses yang amat sederhana yang dijalani dalam waktu yang sangat sebentar. Kehidupan akan berakhir dengan lenyapnya fungsi biologis fisik manusia. Mereka mempunyai tujuan kehidupan yang tidak hakiki. Alangkah rendahnya bila kehidupan dipandang sesempit itu.

Sesungguhnya kehidupan adalah sesuatu yang misteri. Begitu pun dengan kematian, yang sering disejajarkan dengan kata kehidupan. Jika tidak hidup, ya mati. Itu benar.

Wahai kawan, mampukah kita menggali misteri di balik kehidupan ini?
Benarkah hanya dengan menjalaninya sesuai ungkapan "hiduplah seperti air yang mengalir, ikuti kemana pun arahnya", kita sudah dapat dikatakan menapaki kehidupan?
Apakah makna dan hakikat kehidupan yang seringkali kita abaikan?
Begtu pula pertanyaan mendasar seperti "apa yang sebenarnya kita cari dalm kehidupan ini?" dan "apa tujuan dari perjalanan hidup kita?"

Kawan, bukankah Ia telah melengkapi kita dengan akal? Yang membuat derajat kita begitu tinggi di hadapan makhlukNya yang lain. Yang membuat kitalah satu-satunya yang pantas disebut sebagai pelaku kehidupan.

Kawan, mari kita gunakan dan aktifkan terus akal kita. Keluarkan pertanyaan-pertanyaan penting dan mendasar yang mencirikan kita sebagai manusia. Bukankah itu letak perbedaan nilai kehidupan seorang manusia dengan yang lainnya? Bertanyalah sebanyak-banyaknya tentang dan pada kehidupan ini. Pekalah terhadap jawaban yang datang langsung dari pemelihara kehidupan. Jawaban itu terletak di balik setiap peristiwa kehidupan. Dan akan selalu ada untuk kita yang mencarinya.

Selamat menjalani kehidupan yang penuh arti.