Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2018

Unseen Story


Mereka mengenalnya sebagai orang yang cukup ceria. Orang yang suka melemparkan dan menikmati lelucon, yang hidup cukup santai, yang selalu tersenyum dan memberikan motivasi pada teman-temannya.


Suatu hari dia bangun lagi dari tidurnya di pagi hari dengan perasaan seakan-akan hujan akan turun deras. Diintipnya pemandangan luar dari kaca jendelanya. Di pikirannya, “betapa enaknya melarikan diri”. Dia termenung pasrah, menunggu kedatangan hujan. Waktu berlalu. Diambilnya tas ransel yang ada di atas meja, dikenakannya jaket, dipakainya sepatu. Dia keluar. Di pikirannya hanya, “betapa enaknya melarikan diri dari lingkaran setan”.

Kakinya membawanya ke stasiun kereta. Tanpa tau tujuan, dia mengambil rute kereta terjauh. Sambil menunggu kereta dan memandangi rel, tiba-tiba dia terpikir, “bagaimana rasanya ditabrak kereta? Apakah tubuhku akan hancur berantakan? Bagaimana reaksi mereka mendengar kabar itu?”. Suatu pikiran yang tiba-tiba datang dan mengambil alih imajinasinya. Hingga kereta datang, dia berpikir, “bagaimana rasanya terjebak di bawah sana, diantara rel dan kereta?”.

Di dalam kereta ia duduk termenung, menikmati gerimis yang semakin deras. Di sekitarnya dipandanginya orang-orang yang sibuk dengan urusannya. Karyawan kantoran, guru, ibu rumah tangga, mahasiswa, anak sekolah, semuanya sedang berjalan di atas rel kehidupan. Di pikirannya hanya ada, “betapa enaknya keluar dari lingkaran orbit, betapa enaknya melarikan diri. Mengapa aku harus terus menjalani semua cerita ini? Mengapa aku harus menjadi diriku yang mereka kenal? Siapa aku? Mengapa aku bertanya siapa aku? Mengapa aku harus bertahan di jalan ini? Mengapa?”

Kereta sampai di sebuah tempat yang asing. Pemandangan hijau di luar jendela berbeda sekali dengan gedung-gedung raksasa yang sebelumnya ia lihat. Pemandangan itu menenangkannya. Ia keluar dari kereta, berjalan menyusuri jalan tanpa tau tujuan, menghirup udara yang asing, memandangi pemandangan yang asing, tapi langit yang familiar. Sepanjang jalan tidak ditemukannya keberadaan makhluk sejenisnya, hanya suara burung bersahut-sahutan dan bayangan mereka yang terbang di atasnya. Dia hanya terpaku pada, “betapa enaknya melarikan diri”. Dari apa ia melarikan diri? Dari situasi? Dari orang lain? Dari dirinya sendiri? Tapi ia punya karir yang bagus dan teman yang menyenangkan. Dari apa ia melarikan diri?

Setitik air keluar dari matanya. Dikiranya hujan turun. Tapi tidak. Itu adalah air matanya sendiri. Dia masih terpaku pada, “betapa enaknya melarikan diri”. Tapi dari apa dia melarikan diri?

Waktu berlalu. Malam bersiap menyelimuti bumi. Ia kembali ke stasiun kereta, pulang ke tempatnya. Kali ini, pikirannya lelah. Ia duduk tanpa memikirkan apapun selain, “mau kemana aku kali ini? Pulang? Pulang”. Kereta sampai. Stasiun malam ini penuh dengan orang-orang yang lelah setelah bekerja seharian dan rindu rumah. Ia berjalan melewati wajah-wajah kusam penuh keringat menuju tempatnya. Dia tau dia akan pulang.

Dibukanya pintu di depannya, masuk, kemudian ditutupnya lagi pintu di belakangnya. Dibantingnya tas di atas meja setelah melepas sepatu, dia duduk disitu, di sofa itu, termenung. Tiba-tiba gerimis yang semakin deras mengeluarkan petir, hujan kemudian turun deras sekali beserta petir. Air mata keluar dari matanya dengan emosi yang besar sekali, air mata yang deras sekali dan tiba-tiba. Ia menangis terisak, terisak sambil berusaha menutupi isakannya. Di meja dapur sana dilihatnya pisau dapur. Kemudian tangisannya bertambah deras, isakannya semakin tak bisa ia kontrol. Diliriknya lagi pisau itu, kemudian ia menangis lagi dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, ditambah dengan kebimbangan. Ia tau ia bisa mengakhiri hidupnya dengan pisau itu. Tapi ia kemudian terisak lagi. “tak akan ada yang peduli. Aku mati ataupun tidak, tak akan ada yang peduli”. Dia menangis, terus, hingga air matanya kering, hingga ia lelah dan membaringkan diri di atas kasur. Hari ini tanpa memasukkan apapun ke dalam mulutnya, makanan ataupun minuman, ia tertidur.


Pagi ini ia terbangun lagi, dengan pikiran yang benar-benar kosong, seperti perutnya. Ia lapar. Ia berusaha bangkit untuk mencari apa yang bisa dimakannya. Ditemukannya roti, kemudian dimakannya pelan-pelan, sambil termenung tanpa memikirkan apapun selain ingin menghabiskan roti yang ada di tangannya. Kegelisahan kemarin sudah hilang, seperti hujan deras yang telah berhenti dan menyisakan bau tanah terkena air dan suara titik-titik air yang jatuh dari daun atau atap. Dingin, semuanya masih dingin. Telepon selularnya masih mati dan tak disentuhnya. Waktu seakan-akan berhenti.

Setelah urusan perutnya selesai, ia menatap botol-botol obat di atas meja. Kenapa harus ia minum obat-obat itu? Mengapa ia harus memaksa dirinya tersenyum ketika ia tidak ingin? Mengapa ia harus menipu dirinya sendiri dengan obat-obatan itu? Ditinggalkannya obat-obat yang sudah beberapa hari tidak tersentuh itu, kemudian dibaringkannya tubuhnya di atas kasur, tubuhnya yang penuh luka. Ditatapnya atap kamar itu hingga waktu yang berlalu seakan berhenti. Hari ini, gorden jendelanya tidak ia buka sedikitpun.


Ia terbangun lagi, diliriknya jam di atas meja. Kemudian ia bangkit. Setelah diam sebentar, ia mengambil telepon selularnya untuk dinyalakan. Berpuluh-puluh pesan dan panggilan masuk dilihatnya. Kemudian setelah ia meneguk sedikit air putih, dikenakannya pakaian yang biasa ia kenakan untuk pergi kerja, diambilnya tas dan dipakainya sepatu, ia pergi dari kamar itu, menuju ke tempat ia harus pergi, masuk kembali ke dalam lingkaran.

Di sana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Ya, dia bilang dia sakit sampai-sampai tidak sanggup ke dokter dan berbaring saja di atas tempat tidur sedangkan baterai handphonenya yang sudah habis dibiarkannya. Semua yang mendengar memaklumi ceritanya. Dia tersenyum lagi, mengatakan pada mereka agar tidak khawatir karena ia sudah baik-baik saja.

Sesampainya ia di rumah, ia mandi, membasuh dirinya yang lelah, lelah berbicara, lelah tersenyum. Setelah itu dibaringkannya lagi tubuhnya, dipejamkan matanya, dirasainya tubuhnya yang lelah, dihirupnya udara kemudian dikeluarkannya lagi dengan berat sekali. Hari ini, perjuangannya telah selesai. Besok, neraka baru harus dilewatinya lagi. Besok, topeng harus dikenakannya lagi, energi untuk bersandiwara dan berbohong harus dikeluarkannya lagi. Karena itu, karena itulah, ia harus cepat tidur.


Pagi-pagi berikutnya ia semakin bersemangat untuk berjuang melawan tantangan hidup di depannya. Pikiran bahwa hari ini harus menang lagi, harus sukses lagi mendominasi dirinya. Kali ini, di tempat kerjanya, dikritiknya semua kesalahan rekan-rekannya. Dia kemudian heran, heran sekali, mengapa orang-orang di sekitarnya bodoh sekali. Teman-teman dekatnya mendapatkan cukup darinya, kata-kata, “kalian kok bodoh?” sudah cukup membuat teman-teman dekatnya menjaga jarak. Sekali lagi, semua ini membuatnya berpikir bahwa ia bisa hidup sendiri tanpa orang lain, tanpa orang-orang bodoh itu.

Kejadian-kejadian kecil di tempat umum, seperti pelayan yang salah ucap, atau orang yang tak sengaja menyenggol tasnya ketika berjalan di tempat yang padat cukup untuk membuat darahnya mendidih. Dia bisa berteriak memarahi pelayan di depan umum, atau mengajak orang yang menyenggol tasnya berkelahi. Internet yang koneksinya lambat bisa membuatnya membanting handphonenya dan berteriak kesal. Atau tutup botol yang jatuh dari tangannya, serpihan roti yang jatuh ketika ia sedang makan roti bisa membuat moodnya berantakan. Segala sesuatu di dunia ini tidak benar. Semuanya tidak berjalan dengan benar.

Telepon selular yang ia matikan kali ini bukanlah dimatikan dengan alasan yang sama seperti sebelumnya. Ia mematikannya karena ia tidak mau diganggu oleh orang-orang bodoh itu. Ia ingin tenang menikmati hidupnya ini. Ia punya hak menikmati hidupnya dengan tenang, mengapa mereka semua harus menganggu ketenangan hidupnya?

Di kedamaian hidupnya hari ini, di tengah-tengah malam, ketika tak ada apapun yang bisa mengganggunya, ia menuliskan segala rencananya dengan detail sekali. Rencana-rencana dalam mencapai segala mimpinya. Segala sesuatu diaturnya dengan rapih dan benar, ditatanya setiap gol dan waktu-waktu batasannya. Malam-malam tanpa tidur dilaluinya untuk menulis, dan mengeluarkan setiap ide kreatifnya untuk dijadikan nyata.


Hari-hari panjang tanpa tidur berakhir dengan kesadaran yang datang kembali meninju mukanya. “Tidak ada siapapun yang menyukaimu.” Kejadian-kejadian kecil membuatnya sadar bahwa dia masih membutuhkan bantuan orang lain, rekan-rekannya. Ia merasa bersalah namun kesal karena perasaan bersalahnya. Hari ini dia benci sekali dengan dirinya sendiri. Di depan cermin, ditinjunya bayangan wajahnya hingga tangannya gemetaran mengeluarkan darah.

Dia bingung dengan apa yang sebaiknya dia lakukan, apa seharusnya yang ia kerjakan hari ini. Apa yang harus ia capai? Semua di depannya kelihatan gelap. Semua yang ia kerjakan tidak ada gunanya. Mengapa ia harus terus melanjutkannya?

Sore ini, ditelponnya nomor-nomor orang yang ada di kontak handphonenya. Kemudian ditutupnya sebelum orang di seberangnya bahkan mengatakan apapun. Dibantingnya telepon selular itu. Kemudian dia pergi, menuju toko bahan-bahan kimia untuk membeli beberapa alat dan bahan yang ia butuhkan. Setelah itu, dicarinya hotel, check in, dan malam ini diraciknya bahan-bahan itu sebelum ia siap menyuntikannya ke dalam pembuluh darahnya.

Malam ini, dengan perasaan dendam pada dirinya sendiri, dibunuhnya ia.

Sebelum itu, sepercik kebimbangan mendatanginya, “apakah di dunia selanjutnya nanti aku akan menderita lagi?”. Benar, apakah di dunia yang menunggunya di seberang sana setelah kematiannya, akan didapatinya neraka baru? Apakah takdirnya telah menentukan bahwa selamanya ia harus berada di neraka?

Malam ini ia tertidur tanpa terbangun lagi. Apakah yang akan ia hadapi di dunia sana?

Kamis, 27 Februari 2014

Orang Waras dan Orang Gila


Lu kuliah buat apa?

Buat dapet ilmu, bukan ijazah.

Tapi kan sayang udah bayar mahal-mahal.

Sayang apaan? Masa muda lu lu abisin buat seneng-seneng sama temen, hangout bareng, nonton film Hollywood tiap hari, ngabisin uang buat ngoleksi tas dan sepatu aja lu ga bilang sayang. Setelah mati semuanya  ga guna bro.

Iya, tapi kan kasian yang udah  ngebiayain kita.

Gua manfaatin buat dapet ilmu kok. Selebihnya yang ga penting ya gua abaikan. Sebenernya mereka pengen kita dapet ilmu kan?!

Iya sih, tapi..

Omongan lu ga masuk akal.

Tapi kan ijazah itu sebagai bukti kalo kita udah punya ilmunya. Trus kita bisa kerja.

Jadi kita kuliah supaya dapet bukti kalo kita udah pinter? Jadi kita kuliah supaya bisa dapet kerja? Trus?

Ilmu kita bisa dipake buat bertahan hidup.

Jadi kita nyari ilmu buat bertahan hidup? Oh sialan!

Ya itu salah satunya..

Tapi inti omongan lu gitu kan? Kita belajar biar dapet ilmu buat bisa kerja buat bertahan hidup.

Ya emang itu kebutuhan kita kan?

Sejak ada lembaga pendidikan aja jadinya kayak gitu. Kita dipaksa bayar supaya bertahan hidup. Padahal belajar skill buat bertahan hidup ga serumit mesti bayar buat ikut tes masuk suatu lembaga, bayar buat belajar dan ngikutin kata-kata guru-guru itu. Ilmu itu perlu dicari supaya kita sadar akan sesuatu tentang misteri kehidupan, menyadarkan orang lain dengan ilmu kita, menyelesaikan masalah dengan ilmu kita. Skill buat bertahan hidup beda lagi. Kalopun keduanya berhubungan, ga beres segalanya mesti didapet dengan duit. Karna kalo gitu lu bertahan hidup atau diakui karna duit, bukan karna usaha lu. Kalo lu bilang bapak lu berusaha buat dapet duit, intinya segalanya bertujuan pada duit kan? Bertahan hidup yang lu maksud juga dengan duit kan? Ga beres.

Trus kenapa? Gua ga paham omongan lu.

Ya iya, otak lu dipenjara sih, ama lembaga-lembaga pendidikan itu.

Wah lu kok jadi kayak pemberontak sih.

Bukan, gua orang waras diantara orang gila.

Bro, kita ikutin aja jalannya, di balik kesabaran ada kesuksesan. Lu berontak gitu juga, dunia ya begini adanya.

Iya emang sih, mesti sabar hidup di dunia yang didominasi orang gila gini. Yang waras malah dibilang gila, mesti sabar. Tapi kalo ngikutin orang gila terus-terusan, gua bisa jadi gila juga cuy!

Gua ga ngerti dah yang mana yang gila, pala gua pusing.

Woy, ini penting dibandingin pusing buat sekedar dapet nilai bagus atau nyenengin dosen lu!

Buat gua si ini ga penting.  Yang penting gua bertahan hidup, dan diakui di dunia yang sekarang.

Bagus deh. Kalo dunia yang sekarang nuntut lu untuk berani bunuh orang, ngeseks di jalanan, ngerampas makanan dari tangan orang, lu mesti ikutin biar tetep bertahan hidup.

Mau gimana lagi.

Gua ngerti. Gila atau pun waras, yang penting bertahan hidup. Kalo ga ngikutin tuntutan dunia, kita kalah dan mati, gitu?

Hukum alam, bro..

Gua justru ngerasa kalah kalo gua mengkhianati apa yang gua anggap bener, gua mati kalo gua ga dengerin suara nurani gua lagi. Buat gua, itulah beda manusia dan hewan bro.

Maksud lu, gua hewan?

Di dalam diri manusia emang ada dorongan hewan. Tapi lu kalah kalo itu nguasain diri lu.

Halah, intinya mah ga usah neko-neko dah idup di sini. Kalo emang lu bisa ngubah dunia, tunjukkin ke gua.

Kenapa nggak lu bantuin gua? Gua orang waras di tengah orang gila. Mana paham mereka ama yang gua omongin.

Nah lu ga bisa apa-apa kan? Ikutin aja jalannya. Lagian gua mah pengen idup yang sederhana aja. Hidup gua sebentar di dunia. Gua mesti menggoreskan nama yang bisa dibanggakan.

Tujuan hidup lu itu ya? “menggoreskan nama yg bisa dibanggakan”.

Iyalah, itu dorongan alami manusia bro. terserah dah lu mo bilang apa.

Iya gua tau, gua juga ngerasain dorongan begitu. Tapi kalo dipikir lagi kalo tuhan beneran ada, emang bener tujuan lu diciptain cuma buat menggoreskan nama? Egois banget ga sih?

Ya tergantung, Tuhannya otoriter apa toleran, hahaha

Bener juga lu. Menurut lu?

“tuhan menurut persangkaan hambanya bro”, gua pernah denger di khotbah jum’at kata si penceramah. Jadi ya… tergantung persepsi lu tentang tuhan.

Gila banget ya. Kalo tuhan serius ngomong begitu, gua mulai ngeraguin semua hal.

Halah elu mah, jangan-jangan lu ga percaya ama tuhan?

gua menurut persangkaan lu aja dah, haha.

Parah lu.

Kok parah? Tuhan itu ga mungkin ga ada buat gua. Dan justru kalo tuhan ada, se-ga ada kerjaan kah tuhan nyiptain kita terserah kita aja mo ngapain?

Yaa..di balik pilihan kita kan disediain konsekuensi.

Nah kalo hidup buat menggoreskan nama baik konsekuensinya apa bro?

Maksud lu surga apa neraka gitu?

Apa pun yang termasuk konsekuensi.

Tergantung sih bro.

Bukannya kita jadi pemimpin di bumi?

Ya menggoreskan sejarah yang baik kan juga memimpin keluarga dan diri kita ke jalan yang lurus.

Sesederhana itu ya?

Well, tuhan maha memaklumi.

Pertanyaan gua sekarang, suara nurani gua ini dateng dari tuhan bukan? Kerinduan gua sama dunia yang sempurna dateng darimana? Apa lu bilang gua sakit karna perasaan gua ini?

Kalo lu kaitin ke tuhan begitu, gua ga bisa jawab lah.

Menurut gua, orang waras bisa jadi gila karna dibikin gila. Orang gila kan bisa mikir tentang ide-ide kayak orang waras. Tapi mereka sesat pikir.

Ngomong-ngomong soal itu, orang gila dimaklumi tuhan kan? Makanya ga dihukum karna ga shalat, trus lepas dari kewajiban agama, bener kan gua?

Ah kawan, you just got the point!

Hahaha!

Tapi menurut gua lebih enak jadi orang waras daripada gila bro. orang gila ga akan dapet sebanyak yang didapet orang waras. Reward itu adil.

Menurut lu aja lu yang waras. Tapi kenyataannya mana kita tau. Lagian batas antara waras dan gila tipis. Beda warna kalo diliat dari kacamata beda-beda.

Bener. Yang ada cuma saling mengklaim kepemilikan nama. Segalanya terlalu misterius.


Rabu, 26 Februari 2014

Dibunuh Kesempurnaan


“Hidupmu sempurna. Meski tidak begitu kaya, kau punya kebahagiaan dan perhatian. Kau beruntung, lebih beruntung daripada aku.”

Aku teringat kata-kata temanku di jalan pulang tadi. Yah, dia benar. Banyak orang melihat kehidupanku sebagai kehidupan yang sempurna. Bahkan ada yang bilang,

“Aku nggak berani berteman dengan dia. Dia terlalu perfect dan cool.”

Aku tak paham. Tapi aku paham. Apa mereka serius?

“kau penuh keceriaan. Kau pasti tak paham permasalahanku.”

Apa mereka serius?

Hari ini aku menghubungi beberapa teman dekatku, mereka yang sangat kupercaya. Tak ada satu pun yang punya waktu untuk meresponku.

Ya, kehidupanku mungkin memang sempurna. Segala perhatian kumiliki. Sampai-sampai aku tak punya celah untuk menampakkan ketidaksempurnaanku. Segalanya kesempurnaan dan perhatian orang-orang menekanku terus, sehingga aku tenggelam dalam rasa sepi yang dalam.

Hari ini aku minum habis semua pil tidur di dalam botol itu. Botol yang tanpa sadar sering kulukis sketsanya di kertas ketika aku bosan. Ya, tanpa sadar. Aku ingin tidur hari ini. Tidur panjang..

Rabu, 04 September 2013

Dia tak pernah mengucapkan maaf

Dia tak pernah mengucapkan “maaf”, dia hanya belajar dan diam lalu mengucapkan terima kasih. Adalah dia seorang yang keras hatinya. Dia selalu berpikir manusia terlalu banyak yang lemah dan mengakui kelemahannya sendiri. Misalnya saja seseorang yang datang padanya mengakui bahwa dia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya.

D : Iya aku tau ini salah, tapi gimana dong nih susah banget ninggalinnya. Ngomong itu emang gampang, tapi ngelakuinnya susah..
E : Kamu yang terlalu lemah. Kamu itu bodoh. Cuma orang bodoh, lemah dan males yang ngomong begitu. Melakukan tinggal melakukan kok, ga usah diomongin pun bisa. Kuat dong kuat! Mau selamanya jadi pecundang begitu emangnya!

Selalu dia meyakini bahwa manusia bisa melakukan apapun yang seharusnya dilakukan. Yang menghalangi mereka hanyalah kecintaannya pada keburukan. Tentu sajalah mereka yang terus melakukan keburukan meskipun tau hal tersebut memang buruk hanyalah orang-orang yang memang buruk dan memilih keburukan meskipun di mulutnya mengakui membenci keburukan itu. Itu tidaklah salah, tentu saja. Dia mengakui dirinya yang cerdas, dan dia mengakui dirinya memang meyakini segala hal yang memang benar.

D : Iya, iya deh.. (sambil berpaling dan meninggalkan E)

Siapa yang tahan padanya? Banyak orang berpaling dan semakin dalam pada keburukan sejak dia mengatakan di depan muka mereka yang mengadu itu bahwa mereka hanyalah pecundang. Dan dia semakin membenci keburukan, dia semakin membenci manusia yang dikatakannya adalah makhluk yang lemahnya sampai membuatnya mual dan ingin muntah. 

Segalanya berulang dan berulang, hingga dia bertemu mereka yang mirip sekaligus berbeda dengannya sendiri. Apa yang membuatnya sebagai potongan puzzle menyatu dengan sisi-sisi mereka? Kesekaligusan itu. Siapa yang menyangka? Tentu bukanlah dia kalaupun ada. Tapi ini bukan saja karena mereka dan sisi-sisi puzzle yang cocok itu. Tapi juga karena D dan pecundang-pecundang yang berpaling lainnya yang sudah maupun belum bertobat. Ketika dia mulai mencintai pencarian kebenaran, dia menemukan satu-satunya yang pecundang adalah dirinya.

Mungkinkah karena betapa dialah satu-satunya pecundang, dia menjadi sosok seangkuh dan sekeras itu? Tidak ada yang tau, dia saja tidak. Yang pasti dia telah menolak kepecundangannya yang satu-satunya itu sehingga dia membenci segala kesalahan dan keburukan apapun alasannya. Tapi tumbuhlah kebencian yang satu lagi, kebencian pada dirinya yang angkuh. Bagaimana jadinya kalau kedua kepribadiannya saling membenci?

Dengan segala pertobatan para pecundang dia merasa menang sebentar. Ketika melihat mereka yang terjerumus semakin dalam dia marah, sedih, dan benci. Benci pada para pecundang sekaligus dirinya, mereka saling membenci antar kepribadian yang berlawanan. Hingga ia mengunci dirinya dalam ruang gelap tanpa ventilasi, memendam amarah kemudian menangis. Terpikir untuk kabur ke tempat tak ada siapapun mengenalnya, menjadi orang lain yang baru, berpikir dengan pikiran yang sehat, merencanakan segala sesuatu dengan detail, lalu menangis lagi, membalik rencana dengan yang baru, bagaimana caranya mati dengan tenang. Lalu membayangkan apa saja yang akan dia lakukan untuk mati dan bagaimana reaksi mereka ketika dia baru mati dan sudah mati, apa kata mereka, hingga ia tertidur dan terbangun dengan perasaan yang benar-benar baru, ceria atau apa pun itu. Orang gila! 

Orang menjadi gila karena ia ingin melupakan masalahnya, dengan pikiran yang diakuinya sehat dia meyakini itu kemudian. Dia ingin jadi gila, dengan begitu ia bebas dari beban hidupnya selama ini. Terlalu rumit segalanya ini, ingin sekali tulisan ini kuakhiri. 

Baru tau dia orang-orang datang padanya hanya agar kata-katanya disetujui. Kebanyakan mereka telah menyiapkan perisai. Hanya ingin didengar dan disetujui, persetan bukan?!, pikirnya. Dan siapapun tidak akan benar-benar bisa merubah siapapun, si pemberontak muncul dengan segala ide tentang kebebasan dan manusia manusia bodoh yang dikerangkeng kata-kata orang. Aku tak tau siapa yang dipenjara sebenarnya, yang mengikuti pikirannya sendiri yang sengaja berontak atau mengikuti pikirannya yang bebas memilih patuh? Bukankah keduanya bisa dibilang penjara bisa juga dibilang bebas? Segalanya memang sesat. Segera kita akhiri pembicaraan ini.

Dia mengakui akhirnya dia salah. Karena setiap orang merasa benar dan ingin diakui begitu dan dia pun juga, tak ada cara lain selain masa bodoh soal kebenaran objektif. Terserah apa pun orang boleh berbuat dan berpendapat, toh kebenaran yang kita akui mutlak tak juga diakui orang lain. Mungkin kebenaran objektif hanya dia yang mengakui atau mungkin tak ada kebenaran objektif yang bisa diakui, atau apa pun bentuk penyimpangan kebenaran lainnya, dia berubah. Dari sikap seorang pemimpin yang otoriter dan keras menjadi pemberontak yang masa bodoh pada apa pun. Pemimpin yang otoriter tertidur lama, entah akan bangunkah dia. Dalam sedikit ruang di antara mereka yang tertidur dan terjaga, ada yang mengakui kesalahannya. Tapi sialnya betapa perfeksionisnya dia yang membenci mengakui kesalahannya di depan orang lain, dia tak pernah meminta maaf sekalipun. Kalau pun pernah, itu adalah dia yang lain. Ketika dia benar-benar tersentuh dan merasa bersalah, hanya kata itu saja yang terucap darinya, 

“terima kasih”,

Hanya itu saja, tak ada yang lain. Dan dia pergi tanpa menoleh. Dan tulisan ini berakhir di sini. 






Selasa, 13 Desember 2011

Her Dark ending story

Hari ini ibuku meninggal dunia karena serangan jantung. Seperti ada sengatan listrik yang sangat kuat di sekujur tubuhku. Dan tidak ada yang hadir selain “hampa”.

Seminggu kemudian aku kembali ke kampus dengan hampir tidak membawa semangat hidup. Teman-temanku hanya bisa berisik dan berkata “Sabar ya, sabar ya….”. What the heck?

Aku keluar dari kelas membawa tas sambil menahan marah yang dahsyat. Seorang teman menyusulku dan ketika ia sampai tepat di belakangku, aku menatapnya dengan marah, dingin dan kejam, dan kalimat itu keluar dari mulutku, “kamu tidak pantas berkata seperti itu….”

Dosen telah sampai di kelas, dan ia begitu sering menatapku penuh rasa kasihan. Puluhan kata-kata motivasi dan segala hal dilontarkannya di depan kelas. Ia mendekatiku kemudian sambil terus berkata-kata. “hentikan, tolong lanjutkan saja pelajaran..”, kataku dengan mata yang sudah banjir menampung air mata yang hampir saja keluar.

Kondisi kesehatanku buruk. Pusing dan jarang makan. Hampir tidak tersisa energi lagi.dan kemudian aku mati. Ceritaku selesai. Aku kalah, dan cita-citaku terlaksana. Cerita kekalahanku….



Kamis, 01 September 2011

An Insane Girl "i have killed him in my mind!"


Ku kisahkan padamu sebuah cerita tentang seorang gadis yang memaksa dirinya menjadi gila.

Kau tau, gadis ini terobsesi dengan segala hal yang membuat orang lain kesakitan dan menderita. Ia senang ketika ia bisa menjadi penyebab luka orang lain. Baginya ada sensasi tersendiri yang menggetarkan kulit-kulitnya ketika melihat “mereka” menderita.

Satu hari di tengah kebosanannya dengan segala praktek-praktek kehidupan, datanglah seseorang yang tersenyum padanya dengan senyuman yang sangat dibencinya. Terpikir olehnya ingin merobek mulut orang itu. Orang itu kemudian mengajarinya banyak hal yang membuatnya muak, formalitas dunia dengan segala kepalsuannya. Gadis itu berteriak dalam hatinya, “hey bodoh, dunia ini Cuma mimpi, betapa bodohnya kau!”

Ketika gadis ini melakukan langkah yang salah, seseorang itu memakinya dengan segala tuduhan yang tidak penting bagi gadis ini untuk didengarkan. Gadis yang keheranan ini merasa sangat muak dengan orang ini.

Semalaman gadis yang kesepian ini mengasah pedangnya yang lama tak digunakan, yang sudah penuh debu. Ia berbisik, “pagi ini akan kubuat kau mengingat setiap cabikanku seumur hidupmu”

‘Lambat, ia masuk ke rumah ke rumah orang itu. Gadis ini menatapnya dengan ekspresi dingin, sedangkan orang itu bertanya basa-basi. Hhaaaah memuakkan, sungguh pikir gadis itu. Orang itu berbalik dari tempatnya untuk menyajikan minuman bagi si gadis. Tapi ini adalah kesempatan bagi gadis itu untuk mencoba pedang lamanya. Dengan cepat, satu tebasan pedang memisahkan antara kepala dengan tubuh orang itu. “Yea, I m a killer!”, ucap si gadis. Ia tatap darah yang keluar deras dari leher yang telah berpisah dengan kepalanya itu. Dan ia tenggelam dalam sensasi mariyuana yang tak terbayangkan sebelumnya. “I m a king of my world”’

Pagi, ia terbangun dari tidur dengan rasa muak yang belum hilang. Di depannya ia temui, si orang itu dengan senyumnya yang memuakkan. Gadis itu membayangkan darah deras yang mengalir dari leher orang itu. Ia tersenyum pasti, mendorong orang itu menjauh, lalu berjalan dengan angkuh, “I have killed him in my mind and it succeded!”