Senin, 06 Agustus 2018

My Brother has departed on July 28, 2018


Sudah 9 hari sejak hari keberangkatan abang. Kami sudah terbiasa dengan kehilangannya dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa lagi. Tapi entah kenapa aku tidak suka melihat orang-orang dengan mudah kembali ke kehidupan normalnya lagi. Entah kenapa. Aku merasa harus ada sesuatu yang berubah, yang menandakan sebuah titik permulaan sesuatu. Untuk kami, mungkin, meneruskan apa yang abang lakukan, misalnya berkurban setiap idul adha, dan memelihara kambing kurban di halaman rumah sejak beberapa hari sebelum hari raya kurban, agar perasaan kehilangan kambing yang disayangi, perasaan berkurban dapat dihayati. Apa yang abang lakukan harus diteruskan.

Keberadaan manusia semakin dihargai, dua kali lipatnya, sejak ia meninggal. Sebelum itu, kita semua menjalankan kehidupan dengan normal-normal saja. Mungkin memang, manusia butuh suatu momen untuk menyadari sesuatu yang berharga. Untuk mensyukuri sesuatu, manusia harus menyaksikan mereka yang tidak memiliki apa yang ia miliki agar kesyukuran bisa lebih dihayati. Manusia memang lemah.

Perasaan sesal yang disertai kelegaan sudah mulai memasuki masa kadaluarsa. Seperti halnya orang-orang di sekitar kami yang mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing lagi. Diantara mereka ada yang benar-benar merasa kehilangan kemudian berubah menjadi lebih penyayang kepada anak yatim, anak-anaknya abang. Atau mereka yang move on begitu cepat. Aku merasa tidak puas. Entah kenapa, harus ada sesuatu yang dimulai.

Dan kemudian, pikiran itu datang lagi.

Tuhan, sudah berapa kalikah Tuhan membuatku mempertimbangkan lagi hal-hal semacam itu. Aku yang hatinya tidak sebening kaca ini tidak mampu membaca pertanda.

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia kerugian.

Melainkan yang beriman dan beramal soleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Segala hal yang kita kerjakan adalah kesia-siaan. Hanya mereka yang mecari bekal untuk mati, bersiap-siap menghadapi kematiannya lah yang beruntung karena mereka mengisi hidupnya dengan amal soleh dan menasihati dalam kebaikan, hanya merekalah yang lepas dari kesia-siaan.

Dunia yang kita jalani ini, ketika kita sudah terbebas darinya dan saling berbincang di surga, kita akan merasa bahwa segala yang kita jalani di dunia ini hanyalah mimpi karena kaburnya rasa nyata yang pernah kita rasa, karna jauhnya masa lalu ketika kita menjalani hidup di dunia. Karena itulah, kehilangan mereka yang kita cintai bukanlah masalah apa-apa, seandainya kita tau apa yang Tuhan janjikan untuk kita di surga.

“Wahai yang maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agamamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar