Jumat, 17 Oktober 2014

Mereka tak Paham, dan Aku?


Dia tidak sadar, dialah yang juga punya andil membuatku jadi seperti ini. Aku tau itu, tapi aku pun sadar aku harus memperlakukannya dengan baik. Mereka juga, mereka tidak sadar bahwa aku tak suka stimulus yang terlalu banyak. Apa mereka meremehkanku? Seakan-akan aku sangat butuh bantuan orang lain dalam banyak sekali hal. Sial! Apa mereka pura-pura lupa atau benar-benar  lupa bahwa aku tak suka anak kecil? Apa mereka tak tau bahwa aku tak bisa “berjalan” dengan baik jika mereka memperlakukanku seperti itu?
Mereka sama sekali tak paham.

Apa yang mereka paham? Aku tak tau. Segala sesuatu memang  harus selalu disembunyikan dariku, karna aku terlalu emosional. Apakah itu bisa menyelesaikan masalah? Dia keras kepala, dan tak sabaran. Lalu ada lagi yang selalu membela yang lain. Juga yang selalu mengancam. Apakah aku yang terlalu peka? Dan kepekaan itu masih ada di diri sampai sekarang?

Apa yang mereka paham? Mereka hanya menjudge lalu menyindir, berharap agar terjadi perubahan. Apa mereka tak sadar bahwa aku sangat tak nyaman dengan cara mereka hidup di sekitarku? Cara mereka merobek privasiku dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun? Mereka pikir aku senang? Tapi aku tak kuasa hendak mengatakan langsung di depan muka mereka “ga suka!”, karna aku terlalu banyak bergurau, dan aku tak tau bagaimana menyelipkan keseriusan di tengah gurauan orang lain.

Terlalu banyak kejadian terkadang membuatku tak tau bagaimana harus menyikapi kehidupan, bagaimana harus menyikapi orang lain. Kalau pun aku tau, mengapa jalanku sering tak sama dengan mereka? Dan bagaimana aku harus mengatakannya? Aku butuh tindakan. Ya, benar, tindakan. Tapi aku terlalu mudah diombang ambingkan perasaan, seperti aku memang butuh bantuan, tapi bukan dengan cara seperti itu!

Hidup hanya harus terus dijalani. Tak boleh berhenti. Sampai saat ini, banyak hal yang kulakukan dan kupilih, adalah sesuatu yang bukan benar-benar ingin kulakukan dan kupilih. Mengapa aku merasa terpenjara seperti ini? Apakah orang lain merasakan hal yang sama? Mengapa bocah nakal sepertiku ini masih bisa merasakan cinta pada Tuhan? Apakah perasaanku tidak menipuku, tuan? Apakah perasaan ini benar-benar nyata? Kalau iya, bagaimana bisa?

Kepekaanku sedang terlalu tinggi. Hingga apa pun bisa sangat menganggu dan merusak mood seketika. Tapi aku bisa merasakan bahwa aku masih bisa menormalkan diri, entah bagaimana. Aku hanya benar-benar butuh tempat yang sepi dari orang lain.

Mereka bilang aku pemalu. Aku bingung, mereka mengatakannya seakan itu adalah kelemahan yang besar. Apa salahnya jadi pemalu? Bukankah anak perempuan memang harusnya pemalu? Bukankah rasulullah jauh lebih pemalu? Bukan, aku bukankah pemalu seperti sang Nabi saw, aku hanya, aku merasa terganggu dengan perhatian orang di sekitar, aku merasa dipenjara dengan tatapan orang lain. Mereka bertanya kenapa aku jarang sekali keluar rumah berinteraksi dengan orang lain, kenapa selalu menghindari hal macam itu? Karna itu sangat menghabiskan tenaga, itu memerlukan usaha yang besar untuk mendobrak mood agar bersikap ceria di depan orang lain. Dan dilihat oleh banyak orang menurutku sangat menganggu privasi, sangat menganggu! Betapa peka aku ini! Dan mengapa mereka heran hingga melabelkannya dengan kekurangan yang besar karna di wilayah ini, budayanya adalah beramah tamah dengan orang lain? Itulah yang membuatku ingin sekali pindah kewarganegaraan dan tinggal di Negara lain.

Aku ingat, aku pernah dalam suatu kelas pengenalan kampus. Ketika anak-anak sedang semangat mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan atau berpendapat, ketika kelas benar- benar ribut dan “ceria”, kakak pengajar itu memanggilku karna aku tak pernah mengacungkan tangan, dia memberiku kesempatan, oh baik sekali. Tapi apa yang aku katakan? “saya ga ngerti, ga kedengaran!”, dengan ekspresi muka dan nada bicara yang menampakkan rasa terganggu. Kakak itu dan teman-teman tiba-tiba diam dan melongo, lalu seperti sepakat untuk langsung ramai lagi. Hah! Lucu sekali!

Seseorang yang aku kagumi, dalam suatu wawancara pernah mengatakan hal yang benar-benar bisa kupahami dan kurasakan dengan nyata. Dan betapa kaget aku bahwa dia bisa mendeskripsikan perasaan yang sebenarnya sederhana itu. Apa karna aku berpikir terlalu kompleks? Ya, suatu hal yang aneh dari hal di sekitar akan menyisakan lebih banyak perhatian. Daripada diperhatikan, lebih baik berusaha bersikap sama dengan sekitar, hanya agar tak ada yang memperhatikan. Sungguh luar biasa! Oh, kenapa aku menganggapnya luar biasa?

Berusaha untuk tidak diperhatikan. Perbedaan antara aku dengannya adalah, dia jauh lebih cerdas dalam menyelesaikan masalah daripada aku, dan bahwa dia tidak melankolis, bahwa dia sangat pragmatis dan rasional. Mungkin karna dia laki-laki? Entahlah. Kalau aku seorang laki-laki, aku ingin seperti dia.

Ya, mengapa harus repot berpikir “kenapa ya mereka tidak bisa paham?” atau mengeluh tentang itu. Seperti yang pernah seseorang katakan padaku, yang aku kagumi juga, bahwa mengeluh dan meratap bukanlah penyelesaian. Aku tau itu di kepala, aku benar-benar memahaminya. Terkadang aku mampu melakukannya dengan baik, tapi aku tak mengerti terkadang kepekaan bisa sangat tinggi dan menganggu. Aku tak mengerti. Dan mengapa aku tak mengerti? Aku hanya harus berjalan dengan diri sendiri. Dan orang lain? Mereka tak paham, karna itulah mereka bersikap seperti itu. Tapi emosi ini terkadang sulit dikendalikan, terkadang sulit memainkan peranan yang normal. Aku tau itu. Hanya bagaimana mengendalikannya?


Kamis, 16 Oktober 2014

..pada Diri Sendiri


Dikasih hati minta jantung.
Banyak orang keterlaluan jika diperlakukan baik.

Diramahtamahi, diajak ngobrol,
lalu sok akrab, bebas menanyakan hal-hal pribadi, menyusahkan,
sialan!

Aku tak mengerti dengan orang-orang yang gampang suka pada orang lain.
Kemarin suka pada si A, sekarang suka pada si B.
Pun aku tak mengerti dengan orang-orang yang bisa menyukai orang yang sangat menyukainya demi bisa bahagia.
Aku tak tahan dengan orang yang mengatakan “kamu ga boleh bilang kamu bukan jodoh sama seseorang, yang menentukan jodoh itu Allah. Mungkin kamu ga suka dengan seseorang, tapi kalau Allah berkehendak, jodoh ya jodoh”
Fuhh, normatif sekali ya, kata-katanya memang benar,
tapi penuh manipulasi.
Menjijikan.
(Dan aku tak mengerti mengapa kata manipulasi begitu susah aku munculkan di kepala ketika aku perlu menyebutkannya.
Itu terjadi berkali-kali.
Meski aku ingat hurufnya dimulai dengan M dan merupakan sifat mencolok Allen,
salah seorang kepribadian Billy Milligan.
Bahkan aku perlu melihat buku 24 Wajah Billy lagi untuk menuliskan kata itu di sini.
Ketika mencoba mengingatnya aku hanya terpikir “mutilasi?”
Sungguh gila.)
Ya, aku tak mengerti,
dengan mereka yang mau menikahi orang yang tidak 100% dicintainya, tidak mantap bagi dirinya,
hanya mempertimbangkan kebagusan agama dan rekam pendidikannya.
Dengan mereka yang mengizinkan orang asing yang dinikahinya tanpa disukai 100% itu menemaninya sehari-hari,
masuk ruang privasinya,
mengetahui luar dalam tentangnya,
aku sungguh tak mengerti.
Segalanya begitu normatif, begitu dibentuk indah dari luarnya,
dipikirkan dengan keindahan dan kebagusan, hingga pengaruhnya pun bagus.
Apa yang sesungguhnya kalau begitu?
Aku benci dengan ketidakjujuran macam itu,
sungguh aku lebih suka bergaul dengan hewan-hewan yang jujur itu.
Ya aku tau, kita manusia perlu memperhitungkan segalanya, bukan hanya merasakan segalanya.

Aku ingat pelajaran yang pak Tommy sampaikan di kelas filsafat bahasa.
Orang di sisi obyektif dan abstraksi matematis itu penuh manipulasi,
berbeda dengan mereka di sisi subyektif, yang jujur pada emosi yang dirasakannya.
Aku mengerti.
Meski cara menyampaikannya penuh retorik (yah, apa yang tidak cenderung pada sesuatu? Bukankah segalanya kebanyakan selalu berpihak? Demi melepaskan manusia dari rasa kebingungannya terhadap dunia, segalanya perlu condong dan berpihak pada sesuatu. Di sisi ini aku berpikir, kalau begitu bukankah yang obyektif artinya tak punya nilai apa pun? Tak bermakna apa pun kecuali kerelatifan?)
Dan aku tak perlu repot dan memusingkan yang mana yang benar.
Menurutku segala yang di pertengahanlah yang “boleh” dikatakan paling benar.

Orang-orang yang keterlaluan,
yang ketika dikasih hati minta jantung itu,
harus kuberi pemahaman dan pelajaran bahwa mereka sungguh rendahan dengan sikap begitu.
Harus diacuhkan agar paham dan disakiti agar jera.

Aku jijik sekali.
Aku sadar, orang-orang yang pernah menarik bagi kita bisa menjadi orang yang menjijikan bagi kita suatu hari.
Kacau sekali.
(Meski begitu, bagi orang-orang yang benar-benar kusukai, itu tak kurasakan. Terkadang aku berpikir untuk menyukai seseorang itu ada tahapan ujiannya. Ketika semakin jauh ternyata kekurangannya terlihat semua di hadapan kita apakah kita baik-baik saja? Tak bisa dijelaskan dengan –katakanlah- logika, tapi jika kita benar-benar menyukainya, apa pun hampir tak bermasalah. Bahkan sifat dan pemikiran yang bertentangan pun hampir tak bermasalah. Yah, cinta memang buta, katakanlah begitu. Itu kan hanya kata-kata yang dipaksa menjadi gambaran yang tepat bagi yang kujelaskan barusan, tapi bagiku justru itulah “penglihatan dalam cinta”. Orang-orang yang mengatakan itu cinta buta adalah orang-orang yang berpikir terlalu rasional, hingga perasaan pun dilogikakan. Ya, aku tau, kata-kata ini pun sangat subyektif)
Di tengah perasaan campur aduk dan kegiatan gila yang tidak sehat,
emosi yang menjijikan itu seakan mendesak masuk dan mencampuri rasa yang sudah tak bernama itu.
Pada akhirnya keinsafan tercemari lagi dengan penuh kesadaran.
Terkadang ada dorongan pembangkangan yang kuat bagi diri yang sedang lemah.
Ya, dua-duanya memang tentang diri sendiri, siapa lagi yang bertanggungjawab?

Emosi campur aduk yang tak bernama, di hari-hari penuh kelenaan.
Lalu gerakan yang lambat datang lagi,
seperti orang stress, depresi.
Di kesibukan pagi, segalanya datang berangsur-angsur.
Kepekaan terhadap stimulasi, segalanya terasa mengganggu.
Hanya suara seseorang sedang memanggil orang lain,
barang yang tiba-tiba jatuh tertiup angin,
barang yang miring ditempatkan di meja,
pertanyaan peduli dari orang lain,
pada puncaknya kucing yang menganggu aktivitas,
segalanya begitu tajam kurasakan, begitu mengganggu.
Reaksinya adalah teriakan tertahan sambil menendang kucing,
atau membanting barang dengan rasa bersalah sesudahnya.
Juga seringkali aku bisa marah-marah pada orang-orang yang biasanya kuhargai dan kuhormati.
Marah-marah, menyakitinya dengan kata-kata agar dia menjauh dan tak mengangguku lagi.
Atau di luar itu, terkadang aku ingin menyakiti orang untuk mengetes perasaanku sendiri pada orang tersebut, mengetes reaksiku sendiri pada orang tersebut, atau mengetes perasaan dan reaksi orang lainnya.

Aku tak tau apa kaitan perasaan membenci orang lain yang tiba-tiba datang kemarin dengan kepekaan hari ini.
Aku benar-benar perlu waktu untuk menormalkan napas yang memburu karna kemarahan besar yang tertahan.
Ada imajinasi pengancaman terhadap orang-orang yang kubenci, hingga percobaan pembunuhan.
Pada detik itu, aku merasa aku pasti bisa menjadi penulis hebat seperti Edgar Allan Poe, penulis dengan imajinasi gila seperti dia, aku bisa sehebat dia.
Hanya saja aku sadar aku tak bisa mempertahankan rasa peka ini,
hingga ketika rasanya hilang, segala imajinasi ikut hilang.

Memang benar hidup ini begitu sepi.
Ketika berkumpul bersama orang lain dan teman-teman rasanya waktu berjalan begitu saja,
meski aku sadar bahwa waktu yang terlewat dengan bersenang-senang bersama orang lain adalah kelenaan sia-sia.
Ya, itu yang kupikirkan meskipun aku tetap menjalaninya jika aku punya kesempatan itu.
Dan ketika, waktu menghadiahkan sepi bagiku, terkadang justru aku tak benar-benar bisa fokus dengan rencana tentang apa yang bisa aku capai.
Aku tak paham.

Di periode ini,
sebenarnya sama saja, di periode mana pun rasa itu bisa datang,
kepekaan terhadap “kuman” dari luar (bagaimana aku harus menyebutnya?).
Anak kecil yang berbunyi tak jelas dan tak kupahami, tapi reaksi kosong dariku bisa merupakan kesalahanku terhadapnya (dan mereka menyalahkanku karna mengacuhkannya),
bisa kupandangi penuh rasa sebal.
Anak kecil yang oleh banyak orang dijadikan foto wallpaper atau profil (aku tak paham apa bagusnya, apa lucunya, apa menariknya, sumpah aku tak paham),
yang bagi banyak orang begitu tanpa dosa dan lucu.
Bagiku hewan mamalia jauh lebih menarik dijadikan wallpaper, jauh lebih lucu daripada bayi manusia.
Anak-anak sekolah yang berbicara sambil teriak-teriak di depan rumah,
hingga bocah-bocah yang mengaji di musolla samping,
bisa sangat tajam rasa mengganggunya bagiku.
Membuatku tak bisa fokus pada apa pun,
berdiam diri menikmati amarah terpendam.
Hingga ketika tak ada apa pun bisa menghentikan mereka,
aku hanya bisa mengimajinasikan scene pelenyapan mereka di kepalaku.
Hanya itu yang bisa kulakukan untuk sekedar meredakan perasaan itu.

Orang-orang yang bolak-balik di rumah (Babi! Rumah gua bukan sarana publik!),
sekedar bertanya-tanya,
bunyi bel yang menggema di rumah,
bunyi anak kecil teriak-teriak bermain,
the hell! Tinggalkan aku sendiri, sialan!
Mereka memaksa untuk tersenyum,
aku merasa ini ujian yang berat, beratnya membuatku membenci apa pun yang ada di sekitarku (bahkan pensil yang ada di tanganku ingin kuremukkan)

Namun ketika keinginan untuk kabur keluar mencari sepi itu ada,
ketakutan akan kesendirian menajam,
aku tak paham.

Di sela waktu istirahat,
sambil meredakan napas yang memburu,
kok air mata mau keluar lagi?
Sungguh Tuhan, aku tak paham.
Aku takut, pada diriku sendiri.


Rabu, 08 Oktober 2014

Gelisah


Harus dimulai darimana..

Berawal dari kesadaran bahwa perasaan/mood ku bisa jatuh dan terbang sekejap tanpa aku tau alasannya apa. Mungkin ini adalah salah satu bagian dari diri, tapi semenjak aku merasa begitu terganggu dengan kejatuhannya yang tajam, aku bertanya, menggemakan pertanyaanku ke segenap ruang di dada, “ada apa?”. Kugemakan, namun tak juga kunjung datang jawabnya. Di tengah kegelisahan, ditemani kesendirian dan kesepian yang amat menusuk, aku gelisah. Dan kutuangkan kegelisahanku di atas kertas. Apa yang harus dilakukan? Ada suatu perasaan ingin menangis, tapi tak ada air mata yang keluar, seperti boneka yang rusak.

Aku tanya kepada yang bisa ditanya tanpa berkomentar, namun selalu menjawab, professor google, iya. Entah sejak kapan, ketika aku bertanya pada banyak orang, mereka selalu menyuruhku bertanya ke google, hingga akhirnya aku tak pernah lagi bertanya pada orang-orang korban keganasan professor google itu.

Hingga kusimpulkan sendiri, aku benar-benar gila, dan aku tau aku tak mau menyadari kesadaranku tentang itu. Kepada siapa aku harus mengatakan kesimpulanku?

Dia datang dan pergi. Perasaan yang diangkat dan dijatuhkan, yang istilahnya tak dipahami oleh orang kebanyakan, yang maknanya disederhanakan sebagai proses alami manusia normal oleh mereka yang “normal”. Aku juga tak mau mengakuinya, tapi bagaimana bisa aku hidup tanpa menerima bagian diriku yang seperti ini?

Di suatu hari di kala itu kubuat segala rencana mutakhir demi menggapai mimpi, kubuat jadwal bagi diri sendiri, dengan keyakinan bahwa aku akan menjadi orang hebat, aku bisa melakukannya, aku bisa melihatnya di dalam kepalaku, masa dimana aku menguasai segalanya. Kepalaku dipenuhi segala macam hal yang akan aku lakukan di setiap harinya di masa depan, begitu bersemangat. Dan keesokan harinya, sialan, rasa jatuh muncul! Lemah, lemas, bodoh sekali aku pernah berpikir bisa menguasainya, siapa aku ini? Sedang apa kamu dan siapa kamu pun tak akan ada yang peduli, tidak ada yang menyukai sifatku. Aku bangun tanpa sedikit senyum dan kecerahan di wajahku, aku berbicara dengan suara yang diseret seret, aku bergerak dengan lamban, aku berjalan lunglai mengikuti kemana kaki akan membawaku. Rasa sepi yang tiba-tiba datang menyayat-nyayat, sakit, kadang-kadang air mata keluar, kadang-kadang tidak. Aku harus menghindari orang lain, muncul perintah di kepalaku, dan aku pergi, pergi ke tempat dimana tak ada yang akan mengenaliku di sana.

Perasaan itu kadang-kadang muncul, membenci manusia. Karna manusia, mayoritas manusia tidak sepertiku. Pernah aku penasaran apakah manusia lain juga merasakan apa yang aku rasakan, tapi semuanya sudah berlalu. Apa pun yang mereka lakukan di depanku, entah itu lucu, menyenangkan, mengganggu, semuanya terasa memuakkan. Aku ingin mereka pergi dari hadapanku, atau aku yang pergi. Reaksiku adalah menjauh, memilih hidup sendiri. Tapi ketika mulai berjalan sendiri, rasa sepi mencambuk. God, aku tak tau apa yang harus kulakukan.

Aku ingin meneriakkannya, aku ingin ada yang mengetahuinya, apa kalian bisa merasakannya? Aku tak tau. Hingga datang masa ketika aku menyadari, segala yang kulakukan demi melegakan diri malah membawaku pada luka yang lain. Ya, sakit sekali rasanya. Apa itu berlebihan bagi mereka? Aku merasa seperti aku harus menjadi aktor yang sempurna di hadapan mereka, aku tak boleh membuat mereka khawatir tanpa menguasai pengetahuan tentangku. Di tengah keinginan dipahami oleh orang lain, mereka menendangku, “what the hell, first you have to understand others!”. Sakit, iya sakit, dan aku tak bisa memanage nya dengan baik. Aku tak akan bisa, tanpa reaksi emosional menghadapi orang-orang seperti itu lagi.

Luka adalah hal yang pasti dialami setiap manusia di dunia ini, aku tau itu. Tapi apakah perasaan sepi luar biasa ketika aku pergi dengan membawa kehampaan -tanpa semangat hidup- ke tempat dimana tak ada orang yang mengenalku tau itu dirasakan oleh banyak orang? Perasaan sepi yang berhasil dijelaskan oleh salah satu tulisan yang membahas tentang salah satu gangguan kejiwaan yang namanya pertama kali kudengar dari seorang teman, cerita tentang kesalahpahamannya tentang penyakit itu dan menyamakannya dengan kepribadian ganda, hingga dipopulerkan oleh seorang artis Indonesia yang melakukan hal yang menghebohkan masyarakat Indonesia.

Kutipannya:

“Sangat sulit untuk mengungkapkan penderitaan penyandang bipolar disorder. Oleh karena itu penderita bipolar diorder sangat sulit untuk menemukan orang yang mengerti tentang dirinya.
Ia, merasa begitu kesepian. Mungkin orang awam tidak pernah memahami kata "sepi" seperti yang dialami penderita bipolar. Sepi itu begitu menyayat-nyayat hatinya.

Ia sering menangis tanpa sebab, tanpa alasan yang jelas. Tapi rasa sepi dan sedih itu jelas menggerogoti kebahagiaan jiwanya. Ingin mengungkapkan beban-bebannya namun tidak bisa menemukan seseorang yang mengerti tentang dirinya.

Penyandang bipolar disorder terkadang hanya menangis dalam hati, karena tak ada lagi air mata yang bisa keluar. Hal ini akan semakin menambah tingkat depresinya. Tangisan tanpa air mata lebih perih dan pedih. Ia mengharapkan ada tangan yang menyeka lukanya, ada telinga yang mendengarkan deritanya, dan ada seseorang yang demikian teduh sehingga ia bisa rebah penuh kedamaian.

Ketika mengalami kondisi depresi, seorang penyandang bipolar ingin berteriak keras melepaskan semua bebannya, pada saat yang bersamaan ia merasa begitu sedih. Duduk terjatuh tidak bergairah di sudut kamar. Ia merasa tidak berguna. Ia putus asa. Ia ingin bangkit. Tapi tiba-tiba rasa takut menyergap dirinya. Ia kembali jatuh ke pangkuan pesimisme.

Dan terus menerus keadaan ini mengisi dirinya silih berganti: sedih, putus asa, keinginan untuk bangkit, menangis, tertawa, sepi, ingin mati, merasa ada pribadi yang berbeda dalam diri, tidak bergairah, merasa sangat berdosa, melihat masa depan begitu suram, sangat malu bertemu orang lain, merasa benci dan ingin bertindak di luar imajinasi normal... begitu seterusnya datang silih berganti dengan sangat cepat.

Masa lalu datang membayanginya. Terkadang ia sangat benci dengan masa lalu. Tetapi ia juga ingin pulang ke masa lalu. Ingin bernostalgia dengan masa-masa indahnya. Mungkin ketika ia merasakan kasih sayang orang-orang terdekatnya, ketika bermain dengan riang tanpa beban di masa kecil, atau ketika ia menikmati keindahan bentangan alam.

Tetapi ketika mengingat hal-hal indah tersebut lagi-lagi kesedihan menyergap tanpa kompromi. Kini ia melihat dirinya hidup dalam penderitaan. Ingin keluar tetapi sulit sekali.

Bagaikan berada di satu dunia yang sangat gelap, pengap, sepi, dingin, menakutkan, penuh aroma racun... ia berusaha sekuat-kuatnya keluar dari dunia itu. Ia melihat di sisinya ada dunia yang cerah dan penuh warna. Ada cahaya kemilau dan taburan kebahagiaan. Terlihat tawa-tawa penuh keceriaan, senyuman dari hati penuh kedamaian, dan ketentraman yang tak terpatahkan. Ia terus berusaha. Meskipun merangkak ingin menggapai dunia indah itu. Tapi malangnya semakin berusaha semakin ia merasakan betapa berat perjuangannya untuk menggapai kehidupan indah itu.

Ia masih di sini, di dunia yang sepi dan gelap itu. Menangis sendiri. Sepi sekali. Tak ada pelukan hangat dari seorangpun. Tak ada belaian penuh kasih. Semua orang hanya menyalahkan dirinya tetapi tidak ada yang mengerti penderitaannya.

Ia sedang berjuang untuk hidup, tak ada seorangpun yang memahami betapa kerasnya perjuangan itu. Mereka hanya menghakimi. Dan, begitulah akhirnya ia semakin terasing dan merasa sendiri. Sepi. Sedih. Dan perih. Seorang diri.” 

Iya, pikiran tentang rencana pemberontakan, rencana kematian, begitu matang dipikirkan, dirombak ulang, dipatahkan dan diganti, segala ide-ide yang muncul ketika berada dalam kondisi putus asa. Dan tak ada banyak yang benar-benar paham. Kebanyakan mereka menyuruh untuk keluar sendiri atau memberikan tangan yang terbuka tapi hatinya tertutup menerima kenyataan bahwa orang yang di hadapannya merasa sangat berbeda. Yah, memaksanya untuk menjadi orang normal ternyata memperburuk luka. Bisa masih bertahan sekarang pun adalah kesyukuran.

Yah, kita hanya perlu melanjutkan hidup, berapa pun banyaknya rasa jatuh dan terangkat, berapa pun banyaknya, asalkan kita tak berhenti berusaha terus berjalan, hingga Tuhan menjemput kita dengan tanganNya. Hingga usaha kita benar-benar dinilaiNya. Karna tak ada yang benar-benar memahami, bahkan diri pada dirinya sendiri, kecuali Tuhan.


Jumat, 22 Agustus 2014

Anger of Satan


Ternyata aku bukan orang yang bisa sabar terus menerus. Tuhan, karena aku tak memfokuskan diri seperti para sufi, karna aku membiarkan diri berada di pertengahan, maka dengan mudah aku terseret ke kiri dan kanan.

Memangnya apa yang bisa dia lakukan ketika aku bosan? Di saat dia sedang asik dengan kesibukannya sendiri. Apa bisa dia meninggalkannya untukku? Aku sudah memberikan waktu di tengah jadwal yang kutetapkan sendiri. Yah, memang baru-baru ini, seakan aku menebus dosa padanya dengan memberikan waktu dan menerimanya. Ya aku tau pula akhir-akhir ini dia hampir selalu ada ketika aku butuh sesuatu. Ya aku tau, aku memang bodoh. Aku bahkan tak tau apakah semua yang kulakukan aku benar-benar ikhlas. Bodoh sekali.

Aku bodoh sekali ketika merasa bahwa aku yang paling stress dan sebagainya. Ya aku tau itu. Bodoh sekali. Apakah aku sakit? Bodoh sekali kalau aku merasa aku sakit dan butuh ditolong, dan bukannya mengulurkan tangan membantu orang lain yang jauh lebih menderita. Ya, aku bodoh sekali. Aku benci. Dan aku tak tau kepada siapa aku benci. Kepada siapa aku harus mengekspresikan kemarahan, aku bahkan tak tau. Sebenarnya apa yang ku tau?

Rendah hati apanya? Di dalam diriku ada bibit kesombongan iblis. Aku bisa merasakannya. Apanya yang hebat? Persetan! Omongan beberapa dari mereka itu benar-benar racun bagiku. Karna aku tau hal semacam itu adalah racun, aku tak kan memberikannya pada siapa pun!

Apa yang ku inginkan? Apa yang membuatku nyaman? Dasar setan! Aku benar-benar tak tau! Ketika orang-orang mengkritikku dan menghinaku habis-habisan aku marah, dan ketika orang memujiku aku juga jijik pada diriku sendiri. Sebenarnya apa yang membuatku nyaman? Oh, demi Tuhan!

Oh, aku benar-benar sok suci, seakan-akan hanya aku yang tau tentang dunia dan kehidupan. Oh, iyakah?! Tolol sekali. Dia itulah yang memandangku dengan penuh persepsi. Oh, kini kebencian di dalam diriku tiba-tiba muncul, dengan pemicu yang sangat sepele, tiba-tiba menyebar dan didorongnya. Bagaimana aku harus mengekspresikannya?

Tuhan, bolehkah hamba terus membiarkan kemarahan ini? Aku kah yang memang tak menghendaki koneksi yang tanpa putus padaMu? Oh, sungguh aku tak paham dengan diriku sendiri. Kalau begitu benarkah aku sudah memahami sedikit dari rahasia dunia yang Kau ajarkan?



Rabu, 20 Agustus 2014

Lampu yang Mati


Aku belajar membenci ketika dunia memperlakukanku tak bersesuaian dengan apa yang seharusnya membuatku nyaman di dalam perjalanan kehidupan di dunia yang penuh perubahan yang niscaya.

Aku pernah ada dalam tahap itu, mungkin berkali-kali dan bertahap karna itu tak bisa hilang.

Belajar berbohong, dan menganggapnya bukan hal yang besar. Belajar memperlakukan orang lain dengan keras. Belajar menjadi boss bagi diri sendiri. Hingga pada saatnya aku belajar untuk tidak mempercayai orang lain, tidak mempercayai dunia.

Apakah dunia seperti apa yang terlihat di hadapanku? Mana kutau. Mata kita penuh persepsi.

Pembelajaran bagi seorang manusia memang penuh tahap. Ada tahap di mana ia akan fokus mempelajari moral, kemudian fokus menajamkan sisi emosional, intelektual, dsb. Sering kali pada masanya itu bukan sesuatu yang bisa kita pilih. Otak kita bekerja tanpa kita sadari. Ada pula yang namanya alam bawah sadar yang merekam memori yang tidak bisa kita bangkitkan di alam sadar.

Menakutkan memang. Menyadari bahwa kita dikontrol oleh apa yang ada pada kita tanpa bisa sepenuhnya dan seluruhnya kita pilih. Tak ada kesimpulan lain selain ada kekuatan super di balik segalanya.

Tapi tahapan belajar terus berlangsung terkadang tanpa kita menyadari apa yang kita pelajari dari alam.

Hingga gen-gen di dalam tubuh kita yang diwarisi dari orang tua diaktifkan tombol-tombolnya yang semula mati, atau malah dimatikan tombol-tombolnya yang semula aktif.

Sejauh apa pikiran, imajinasi mampu mengontrol diri kita? Oh sejauh apa?

Masa itu memang sudah lewat. Masa di mana aku tak mampu melihat apa-apa di depanku. Masa dimana ada pikiran ingin melarikan diri dari kehidupan yang sekarang. Masa ketika kebencian menyebar di seluruh tubuh.

Namun tidaklah bisa dipungkiri, meskipun maaf dan memaafkan terus mengalir membanjiri energi di alam, ada suatu tombol yang bisa mengaktifkan segala yang sekarang tertidur. Suatu tombol yang keberadaannya membuktikan pada kita bahwa kata-kata dan perlakuan yang pernah kita alami akan terukir di dalam memori, tersimpan di sudut yang tak bisa dibangkitkan ke alam kesadaran, yang terwujud dalam sikap yang tak sepenuhnya mampu dijelaskan, sikap yang sering disalahpahami.

Ada penyakit lain selain yang biasa coba disembuhkan dokter di rumah sakit. Penyakit yang muncul atas ketidaksadaran kita memperlakukan diri dan orang lain. Penyakit yang coba Tuhan minimalkan dengan cara membuat sebuah aturan yang lengkap tentang kehidupan dalam agama, yang coba Tuhan minimalkan dengan memerintahkan manusia untuk membaca segalanya!

Wahai, sadarlah manusia! Ada jiwa, ada emosi, ada mental. Sudah banyak dari kita menjadi korban dari ketidakpedulian dan keskeptisan kita, dari empati kita yang mati, kematian empati yang muncul atas perlakuan empati lainnya yang mati. Seakan-akan manusia berjalan di panggung dunia tanpa lampu yang hidup di bagian di mana seharusnya lampu itu menerangi dan menuntun perjalanan.

Dan perjalanan manusia terus berlangsung, mewarisi “kematian lampu” yang menyesatkan kita dari jalan kebahagiaan sempurna. Bukankah karena dunia memang tidak mengizinkan itu?

Biarlah sejarah terus berlalu, hingga masa dilewati dan berganti dengan masa di mana segala dendam di dalam diri hilang di antara orang beriman. Dan kita bercengkrama tanpa pernah ada dendam. Tuhan mengatakannya dalam firmannya pada Rasul akhir zaman, bahwa akan tiba masanya kita bersamping-sampingan dengan orang lain dengan dendam yang diangkatNya dari hati kita. Kemudian aku berpikir, “baiklah Tuhan, lampu yang mati akan terus diwarisi di dunia, karna Kaulah yang menghendakinya”.