Jumat, 22 Agustus 2014

Anger of Satan


Ternyata aku bukan orang yang bisa sabar terus menerus. Tuhan, karena aku tak memfokuskan diri seperti para sufi, karna aku membiarkan diri berada di pertengahan, maka dengan mudah aku terseret ke kiri dan kanan.

Memangnya apa yang bisa dia lakukan ketika aku bosan? Di saat dia sedang asik dengan kesibukannya sendiri. Apa bisa dia meninggalkannya untukku? Aku sudah memberikan waktu di tengah jadwal yang kutetapkan sendiri. Yah, memang baru-baru ini, seakan aku menebus dosa padanya dengan memberikan waktu dan menerimanya. Ya aku tau pula akhir-akhir ini dia hampir selalu ada ketika aku butuh sesuatu. Ya aku tau, aku memang bodoh. Aku bahkan tak tau apakah semua yang kulakukan aku benar-benar ikhlas. Bodoh sekali.

Aku bodoh sekali ketika merasa bahwa aku yang paling stress dan sebagainya. Ya aku tau itu. Bodoh sekali. Apakah aku sakit? Bodoh sekali kalau aku merasa aku sakit dan butuh ditolong, dan bukannya mengulurkan tangan membantu orang lain yang jauh lebih menderita. Ya, aku bodoh sekali. Aku benci. Dan aku tak tau kepada siapa aku benci. Kepada siapa aku harus mengekspresikan kemarahan, aku bahkan tak tau. Sebenarnya apa yang ku tau?

Rendah hati apanya? Di dalam diriku ada bibit kesombongan iblis. Aku bisa merasakannya. Apanya yang hebat? Persetan! Omongan beberapa dari mereka itu benar-benar racun bagiku. Karna aku tau hal semacam itu adalah racun, aku tak kan memberikannya pada siapa pun!

Apa yang ku inginkan? Apa yang membuatku nyaman? Dasar setan! Aku benar-benar tak tau! Ketika orang-orang mengkritikku dan menghinaku habis-habisan aku marah, dan ketika orang memujiku aku juga jijik pada diriku sendiri. Sebenarnya apa yang membuatku nyaman? Oh, demi Tuhan!

Oh, aku benar-benar sok suci, seakan-akan hanya aku yang tau tentang dunia dan kehidupan. Oh, iyakah?! Tolol sekali. Dia itulah yang memandangku dengan penuh persepsi. Oh, kini kebencian di dalam diriku tiba-tiba muncul, dengan pemicu yang sangat sepele, tiba-tiba menyebar dan didorongnya. Bagaimana aku harus mengekspresikannya?

Tuhan, bolehkah hamba terus membiarkan kemarahan ini? Aku kah yang memang tak menghendaki koneksi yang tanpa putus padaMu? Oh, sungguh aku tak paham dengan diriku sendiri. Kalau begitu benarkah aku sudah memahami sedikit dari rahasia dunia yang Kau ajarkan?



Rabu, 20 Agustus 2014

Lampu yang Mati


Aku belajar membenci ketika dunia memperlakukanku tak bersesuaian dengan apa yang seharusnya membuatku nyaman di dalam perjalanan kehidupan di dunia yang penuh perubahan yang niscaya.

Aku pernah ada dalam tahap itu, mungkin berkali-kali dan bertahap karna itu tak bisa hilang.

Belajar berbohong, dan menganggapnya bukan hal yang besar. Belajar memperlakukan orang lain dengan keras. Belajar menjadi boss bagi diri sendiri. Hingga pada saatnya aku belajar untuk tidak mempercayai orang lain, tidak mempercayai dunia.

Apakah dunia seperti apa yang terlihat di hadapanku? Mana kutau. Mata kita penuh persepsi.

Pembelajaran bagi seorang manusia memang penuh tahap. Ada tahap di mana ia akan fokus mempelajari moral, kemudian fokus menajamkan sisi emosional, intelektual, dsb. Sering kali pada masanya itu bukan sesuatu yang bisa kita pilih. Otak kita bekerja tanpa kita sadari. Ada pula yang namanya alam bawah sadar yang merekam memori yang tidak bisa kita bangkitkan di alam sadar.

Menakutkan memang. Menyadari bahwa kita dikontrol oleh apa yang ada pada kita tanpa bisa sepenuhnya dan seluruhnya kita pilih. Tak ada kesimpulan lain selain ada kekuatan super di balik segalanya.

Tapi tahapan belajar terus berlangsung terkadang tanpa kita menyadari apa yang kita pelajari dari alam.

Hingga gen-gen di dalam tubuh kita yang diwarisi dari orang tua diaktifkan tombol-tombolnya yang semula mati, atau malah dimatikan tombol-tombolnya yang semula aktif.

Sejauh apa pikiran, imajinasi mampu mengontrol diri kita? Oh sejauh apa?

Masa itu memang sudah lewat. Masa di mana aku tak mampu melihat apa-apa di depanku. Masa dimana ada pikiran ingin melarikan diri dari kehidupan yang sekarang. Masa ketika kebencian menyebar di seluruh tubuh.

Namun tidaklah bisa dipungkiri, meskipun maaf dan memaafkan terus mengalir membanjiri energi di alam, ada suatu tombol yang bisa mengaktifkan segala yang sekarang tertidur. Suatu tombol yang keberadaannya membuktikan pada kita bahwa kata-kata dan perlakuan yang pernah kita alami akan terukir di dalam memori, tersimpan di sudut yang tak bisa dibangkitkan ke alam kesadaran, yang terwujud dalam sikap yang tak sepenuhnya mampu dijelaskan, sikap yang sering disalahpahami.

Ada penyakit lain selain yang biasa coba disembuhkan dokter di rumah sakit. Penyakit yang muncul atas ketidaksadaran kita memperlakukan diri dan orang lain. Penyakit yang coba Tuhan minimalkan dengan cara membuat sebuah aturan yang lengkap tentang kehidupan dalam agama, yang coba Tuhan minimalkan dengan memerintahkan manusia untuk membaca segalanya!

Wahai, sadarlah manusia! Ada jiwa, ada emosi, ada mental. Sudah banyak dari kita menjadi korban dari ketidakpedulian dan keskeptisan kita, dari empati kita yang mati, kematian empati yang muncul atas perlakuan empati lainnya yang mati. Seakan-akan manusia berjalan di panggung dunia tanpa lampu yang hidup di bagian di mana seharusnya lampu itu menerangi dan menuntun perjalanan.

Dan perjalanan manusia terus berlangsung, mewarisi “kematian lampu” yang menyesatkan kita dari jalan kebahagiaan sempurna. Bukankah karena dunia memang tidak mengizinkan itu?

Biarlah sejarah terus berlalu, hingga masa dilewati dan berganti dengan masa di mana segala dendam di dalam diri hilang di antara orang beriman. Dan kita bercengkrama tanpa pernah ada dendam. Tuhan mengatakannya dalam firmannya pada Rasul akhir zaman, bahwa akan tiba masanya kita bersamping-sampingan dengan orang lain dengan dendam yang diangkatNya dari hati kita. Kemudian aku berpikir, “baiklah Tuhan, lampu yang mati akan terus diwarisi di dunia, karna Kaulah yang menghendakinya”.


Kamis, 05 Juni 2014

Pesan bagi Para Insan Sosial


Di dalam sebuah kasus yang ada di manga Dan Detective School, seseorang yang dikenal sebagai seorang pembunuh ternyata diketahui terbiasa melihat pertumpahan darah di dalam rumahnya, di antara ayah dan ibunya. Sekuat apa pun ia berusaha untuk tetap hidup biasa saja, image yang biasa ia lihat dan hadapi di dalam rumahnya masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan membuatnya menjadi seorang pembunuh.

Kita sering mudah sekali menghakimi perbuatan seseorang tanpa melihat latar belakang permasalahan. Di dalam hukum Islam, hukuman bagi seorang pencuri adalah potong tangan. Bila ia mencuri lagi sedangkan kedua tangannya sudah dipotong karna perbuatan mencuri sebelumnya maka kakinya yang akan dipotong. Sekilas hukuman ini sangat menyeramkan. Tapi hukuman potong tangan berlaku setelah si pencuri diadili, apa yang mendasari perilaku mencurinya. Jika si pencuri adalah orang yang miskin dan tak punya uang, ia akan mati bila tidak mencuri, maka tidak semestinya ia dihukum sama dengan orang yang masih bisa makan tapi mencuri. Kita tidak tau apa-apa tentang hukum Islam, tapi mudah bagi kita mengatakan bahwa ianya tidak manusiawi.

“mestinya dia bisa kuat dong, dia kan bisa belajar, masa terpengaruh sama lingkungan dan jadi pembunuh”, blablabla, saya sering mendengar itu. Saya percaya seseorang membunuh pasti karna dia “sakit” atau dia “harus” membunuh, dia terdorong untuk membunuh. Ada yang menyesal dan ada pula yang tidak menyesal. Ilmu seperti psikologi dan kriminologi ada karna ini. Di zaman seperti ini, entah kenapa saya berpikir bahwa “adalah tidak keren kalau kita tidak tau tentang psikologi”. Kenapa? Oh man, di atas 50% orang di dunia menderita kecemasan, stress, dan depresi. Dunia di akhir zaman adalah dunia yang penuh dengan orang yang sakit secara mental dan kejiwaan. Apa penyebabnya?

Dunia sekarang meninggalkan agama. Fenomena “jangan campuri urusan agama” TANPA DISADARI membawa kita pada neraka kegelisahan dan depresi. Mana ada orang taat dan khusyuk dalam beragama mengalami depresi. Kalau pun kelihatannya dia “alim” dalam agama tapi tetap saja depresi, ada yang salah dalam keimanannya. Benar, orang beragama adalah orang yang penuh kedamaian. Karna itu Freud mengatakan bahwa agama ada karna ia dibutuhkan. Agama dibuat karna manusia membutuhkan pegangan itu. Di sisi lain dari teori Freud, orang beragama meyakini (karna keyakinannya pada Tuhan) bahwa Tuhanlah yang menciptakan agama, karna itulah insting membutuhkan agama ada dalam diri manusia.

“Jangan campuri urusan agama” berdampak buruk bagi orang-orang yang lemah secara spiritual. Itu mungkin tidak masalah bagi orang-orang yang mampu menjaga ketaatannya. Selain itu pemisahan agama dan Negara dibuat-buat untuk menjaga toleransi beragama? Karna agama adalah urusan pribadi saja, maka “Negara”lah ganti obat bagi kecemasan dan ketidakteraturan masyarakat. Artinya, kita mengingkari peran agama sebagai tuntunan kehidupan. KEBINGUNGAN, kegelisahan pun bertambah bagi orang beragama. Karena di satu sisi dia perlu mengikuti aturan di dalam agamanya, di sisi lain dia “dipaksa” untuk mengikuti aturan Negara. Fenomena ini terjadi! Tentu saja bagi orang beragama yang masih taat pada agamanya dan merasa gelisah bila tidak menaati aturan agama, ini tidak terjadi pada orang yang hanya menjaga iman dan tidak peduli pada peran agama sebagai tuntunan kehidupan (secara penuh – khususnya agama Islam).

“Agama bukan satu-satunya tuntunan moral”, ada filsafat dan sebagainya. Memang benar. Tapi seberapa sempurna tuntunan moral lain selain agama? Ini rumit, karna orang beragama (khususnya agama langit) meyakini bahwa agama itu sempurna, ia datang dari Tuhan. Sedangkan orang yang tidak beragama tentu tidak meyakini itu, dan ketidakyakinannya pula yang membuatnya tak mampu melihat kesempurnaan agama yang dilihat orang beragama (di sisi lain mereka -orang tak beragama- meyakini keyakinan orang beragama pada agama lah yang membuatnya melihat “ilusi” kesempurnaan agama. saya akan bicara dari sudut pandang orang yang meyakini agama).

Saya tidak akan mengatakan lebih karna kacamata kita sekarang sudah demikian diganti dengan warna lain sehingga sulit bagi kita kembali pada kacamata kebenaran (jika anda mencurigai dunia sekarang sedang berjalan menjauhi kebenaran). Saya akan kembali pada penyakit dunia, kecemasan, atau kegelisahan. Kenapa beberapa manusia yang mendalami filsafat tiba-tiba gelisah, seperti Al-Ghazali (salah seorang tokoh filsafat Islam)? Tapi beberapa manusia lain begitu terlihat bahagia dengan teori filsafatnya sendiri. Francis Bacon mengatakan “Sebuah filsafat yang dangkal menggelincirkan pikiran manusia kepada atheisme. Tapi kedalaman yang ada dalam filsafat membawa pikiran manusia pada agama”. Benar, filsafat adalah cara kita menuju kebenaran, masalahnya hanya bagaimana kita menggunakannya. Filsafat yang dangkal akan menyesatkan manusia. Saya meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang simple dan mudah ditemukan oleh pikiran kita, tapi ia memuat misteri yang luar biasa dalam yang tak akan habis usia dunia menyelami kedalamannya. Al-Ghazali gelisah karna ia dibuat bingung oleh filsafat, selangkah atau beberapa langkah lagi dia berputar di dalam filsafat, ia akan semakin dalam tenggelam dalam lautan kebingungan. Setelah 10 tahun dalam perenungan, ia “kembali” pada agama dan menulis sebuah buku berjudul “Filsuf adalah orang-orang yang bingung”. Sampai kapan pun agama adalah tempat kembali (akhirnya saya mengatakan lebih. Yah, hal ini adalah salah satu penyebab permasalahan yang sedang kita bicarakan).

Kembali pada pembicaraan awal, bagi siapa pun yang dengan ringannya menghakimi perbuatan seseorang, kenapa anda tidak minta pada Tuhan (jika anda percaya Ia ada) agar menukar posisi anda dengan orang yang anda hakimi? Hanya untuk melihat seberapa pandai anda mengelola permasalahan milik orang lain dengan pikiran dan perasaan milik orang lain (bukan milik anda!). Memang ada orang-orang bodoh yang begitu mudah tergelincir pada hawa nafsunya sendiri sehingga ia benar-benar bersalah penuh atas perilakunya (saya tidak yakin 100%, tapi mungkin memang ada?), tapi ada banyak sekali orang yang perlu pertolongan! Karna dunia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kita, manusia, kita saling membuat orang lain jatuh dalam “kesalahan”. Orang yang kita hakimi pun adalah korban dari tindakan kita yang mempengaruhi orang lain, anda paham? Saya hanya ingin mengajak anda berpikir bahwa ketika anda melihat orang bersalah di hadapan anda, mulailah untuk mencari kesalahan anda yang menyebabkan perilaku orang lain terpengaruh sikap anda. Saya beri contoh untuk mempermudah.

Dalam manga Dan Detective School, ada contoh yang sangat bagus (banyak malah!). Seorang pemimpin organisasi kriminal berbahaya ternyata adalah anak dari seorang pembunuh berbahaya (pembunuh berbahaya itu adalah ibunya!). Bukan hanya itu, ayahnya yang kemudian meninggalkannya dan tidak mengakuinya sebagai anak kemudian memenjarakannya dalam ruang bawah tanah ketika ia masih usia SMP! Dengan alasan khawatir si anak akan berbuat kriminal! Ya,kekhawatiran kita seringkali malah membuatnya jadi kenyataan. Si anak belajar untuk menjadi kriminal, justru ketika ia dianggap kriminal. Lalu siapa yang bersalah atas kejahatan yang si anak rencanakan ketika ia dewasa dan menjadi pemimpin organisasi kriminal? Si ibu bersalah karna ia membuat anaknya dibully ketika teman-temannya tau si anak punya ibu seorang penjahat, dan perilaku bullying teman-temannya menabung rasa ketidakpercayaan si anak pada orang lain, termasuk pada sahabatnya sendiri yang mulai terlihat meragukannya. Si ayah bersalah juga karna melakukan hal yang menciptakan tekanan luar biasa dalam diri si anak untuk memantapkan hati dan menyusun rencana untuk membuat sebuah organisasi kriminal. Lihat, perilaku anda mungkin secara langsung mau pun tidak langsung membuat seseorang jatuh dalam dunia hitam. (dalam agama Islam, cara inilah yang diyakini dipakai Tuhan untuk menentukan seberapa bersalah kita dan siapa yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kesalahan kita. Orang-orang yang menjadi pengaruh bagi seorang penjahat akan terus mendapat bonus dari dosa kejahatan si penjahat. Jika si penjahat mempengaruhi atau mengajak orang  untuk berbuat jahat, maka orang-orang yang mendapat bonus tadi akan ditambah bonus dosanya karna ini. Seperti sistem bisnis jaringan bukan?). Orang di luar lingkaran ini mungkin mengatakan bahwa mereka semua yang ada dalam lingkaran itu sakit, dan harusnya si anak lebih kuat menghadapi segala tekanan yang dialaminya ketika kecil. Tapi si anak bahkan tak kenal agama. Bagaimana bahkan ia bisa percaya bahwa Tuhan itu baik? Tak ada yang mengajarkannya! Memang, pasti ada jalan dan kesempatan ia kembali pada kebaikan, andai ada yang menolongnya. Mereka yang tak merasakan ada dalam lingkaran setan ini tak berhak mengomentari siapa pun yang terjebak di dalam situ. Mengapa tidak mereka mengulurkan tangan untuk membantu dia yang terjebak dalam lingkaran setan bisa keluar? Percaya bahwa siapa pun punya hati yang baik adalah modal untuk mengeluarkan manusia dari lingkaran setan. Saya katakan modal, semoga tidak berhenti pada modal saja.

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial bukan untuk menciptakan peraturan yang penuh tekanan. Kita diciptakan dengan kelemahan tidak bisa hidup sendirian agar kita saling membantu. Saling membantulah kita, dengan catatan (fokuslah pada perbuatan kita) “jangan berharap orang lain berbuat lebih dulu atau membalas kebaikan kita”, itu adalah peraturannya.

Memaafkan dan minta maaf adalah perbuatan luar biasa. Tapi memaafkan jauh lebih luar biasa. Kenapa? Kita tidak perlu menunggu orang lain minta maaf pada kita, bagi kita segalanya sudah selesai. Kita telah memberikan kebaikan pada diri kita sendiri dan orang lain dengan begitu. Dan ketika kita punya kesalahan, minta maaflah tanpa menunggu dimaafkan terlebih dulu. Meski pada akhirnya orang lain tak memaafkan kita, setidaknya kita menyesal dan tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Ya, jangan tunggu kebaikan orang lain pada kita, jangan mengharapkan ucapan terima kasih, fokuslah pada perbuatan kita. Dengan begitu kita tak punya cukup waktu mengomentari orang lain. Jangan pula berharap orang lain berpikir sama dengan kita.

Bantulah mereka keluar dari lingkaran kecemasan, depresi, dan tekanan mental tanpa berpikir “dia harus bisa keluar sendiri dari sana!”. Dan bagi penderita tekanan mental yang masih bisa berpikir jernih di sela-sela kegelapan yang menyelimutinya, mari berpikir kita tidak sendirian. Ada Tuhan yang selalu mengulurkan tangan untuk membantu, hanya tinggal kitalah yang meraih tangan itu. Jangan terlalu berharap orang-orang di dunia ini begitu pintar dan kuat menarikmu keluar dari lingkaran, kumpulkanlah kekuatanmu dan mintalah kekuatan lebih pada Tuhan. Hidup adalah perjuangan. Fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan bagi kita dan orang lain.

Tulisan ini dibuat dengan berantakan dan tanpa persiapan. Dari berbagai pengalaman dan pelajaran, saya tiba-tiba begitu ingin menyampaikan banyak hal, karna itulah ini ditulis. Saya serahkan kesimpulan kepada pribadi masing-masing. Saya hanya berharap tulisan ini mampu membuat kita berpikir banyak. Bukan karna saya merasa sudah begitu pintar dan pandai mengaplikasikan apa yang ditulis di sini, tapi agar sama-sama belajar dan berlatih. Saya minta maaf atas kesalahan yang saya buat di dunia nyata maupun dunia maya, dan insya Allah saya memaafkan dan terus belajar memaafkan atas apa yang saya temukan menyakiti perasaan dan merugikan saya. Karna kita akan selalu melakukan kesalahan, putaran maaf dan memaafkan akan selalu ada dan menjaga keteraturan di alam ini. Kita mungkin harus fokus pada apa yang bisa kita lakukan, tapi “saling berbuat baiklah” agar revolusi kita damai seperti halnya revolusi “mereka”.

(Saya tidak menyarankan anda agar seperti malaikat dan tak pernah marah. Marahlah pada orang lain, itu wajar. Tapi diamlah, pergilah untuk tenang. Lalu mulailah berpikir tentang kesalahan kita dan perbaikilah diri kita. Jika memang perlu menyampaikan kecerobohan orang lain agar ia memperbaikinya, lakukanlah dengan pikiran yang sematang mungkin agar tak menimbulkan masalah baru. Jika tidak, saya harap pihak kedua bisa lebih bijak dari anda, atau ada cara lain yang lebih cocok bagi masing-masing orang.)

Warning! Tulisan ini tidak bebas dari kesalahan. Penulisnya adalah manusia (yang masih bocah usia dan sikapnya dibandingkan anda, bisa jadi). Silahkan ambil pelajarannya, dan perbaiki kesalahannya di pikiran anda.

Salam.


Senin, 07 April 2014

Terima kasih, Tuhan


Berhasil. Tuhan berhasil menggoncang perjalanan hidupku. Lewat Rumi, Tuhan mengajariku dengan lebih mendalam, bahwa segala hal apa pun yang terjadi adalah rencanaNya, dan mengapa aku mencerca rencana sang Raja? Aku mengerti. Aku mengerti bahwa aku sebegitu mengganggu bagi banyak orang. Dan bahwa aku salah menghadapi segalanya sampai saat ini. Tuhan berhasil membuatku sadar, dan terima kasih serta syukur padaNya karna itu.

Aku akan tetap berjalan, dan semoga tetap berjalan dengan sisa kekuatan yang kupunya. Yah, aku hanya singgah, dan apa yang harus kulakukan agar orang lain bisa terbantu karna aku? Ya, segala kekecewaan karna perasaan kuat itu tak tersalurkan, aku mencoba melarikan diri dari stress dengan cara hanya memikirkan diriku sendiri. Dan apakah orang lain tau? Mereka memang tidak tau, bagaimana aku menceritakannya? Terlalu panjang dan akan memicu prasangka bahkan sebelum habis ceritanya. Mengapa harus mengambil resiko salah paham yang lebih besar? Aku tidaklah tau apa-apa. Segala yang kuyakini selama ini bergantung pada kerelatifan, Tuhanlah kebenaran yang penuh misteri.

Sekarang memang aku kehilangan banyak hal yang tak bisa kuelakkan, tapi Tuhan membuatku berpikir dan bergerak lagi. Mencari diriku yang dahulu, yang telah tertidur cukup lama. Dari lubuk hati yang terdalam, sungguh ingin kusampaikan maaf yang sedalam-dalamnya pada setiap orang yang mengenalku. Penyampaian maaf dengan kerendahan, tapi ada penghalang yang membuatku takut menyampaikan secara langsung. Ya, apa reaksi yang akan kudapati?

Beberapa orang mengatakan kita unik, keunikan masing-masing. Beberapa menyanjung, sanjungan yang tidak perlu. Dan beberapa mencerca. Terkadang aku bingung. Perasaan apa yang harus kurasa? Aku harus bersyukur? Harus terganggu dan merespon? Aku harus tetap tersenyum? Menjauh dari mereka yang tidak menyukaiku? Harus bagaimana? Oh, aku tidaklah paham apapun, aku tidak paham.

Apa yang telah kurasa selama perjalanan hidupku? Hanya aku dan Tuhan yang tau. Bercerita supaya dunia tau? Ide bagus, atau nanti mereka mengatakan aku terlalu narsis dan sombong? Aku bingung. Apa yang kupikirkan menghadapi segala hal dalam hidupku? Darimana muncul segala rasa dan ide yang sekarang? Apa mereka tau? Tentu tidak. Dan jika aku bercerita, aku mungkin akan mengungkap sisi malaikatku yang membuat orang lain terganggu mendengarnya, sekaligus mengungkapkan sisi iblisku yang membuat orang lain juga terganggu. Tuhan, aku bingung. Wajarkah aku bingung? Simple minded? Jika itu membuatku mengerikan bagi masalah dan orang lain, dan membuatku memendam segala pertanyaan yang akhirnya meledak ini, bagaimana aku bisa kawan?

Aku bercerita pada orang yang salah. Dan apa aku menyesal? Tidak, mengapa menyesal? Tuhan menginginkan itu terjadi. Dan aku pantas untuk semua hal yang kuterima. Kuanggap itu kasih sayang Tuhan padaku, kepedulianNya pada jiwa yang kebosanan dan kehilangan dirinya ini. Sungguh terima kasih atas segala rencanaNya.

Dan apakah eksistensi setiap diri tidak penting? Justru karna pentinglah, kita saling menghargai orang lain. Karna eksistensilah kita menyadari keberadaan kebenaran yang hakiki. Apakah aku tak perduli pada orang lain? Itu semua karna aku tak ingin menunjukkannya, aku tak mau menunjukkan sisi diriku yang satu itu. Itulah mengapa segalanya muncul bertentangan di dalam penglihatan mata. “Maksudnya apa?“. Bagaimana lagi aku harus menyampaikannya kawan?

Ya, memang aku harus belajar menyampaikan maksudku yang sesungguhnya, hingga tak banyak lagi orang yang salah memahaminya. Tapi kemampuanku yang sekarang belum cukup untuk itu, dan kemampuan pemahaman beberapa juga belum cukup membaca maksudku. Atau lebih baik aku berhenti mengekspresikan kegelisahan dan gejolak hati yang mau meledak ini demi menyadari bahwa orang lain perlu pertolongan yang mesti didahulukan? Jika begitu, haruskah setiap orang berjalan di sisi yang sama kawan? Haruskah aku membunuh diriku yang sekarang dan menjadi orang lain? Haruskah peran setiap orang disatukan saja? Seperti hingga semua orang jadi bos dan tidak lagi ada yang jadi budak?

Di saat aku bangkit, segala hal ingin kumulai dari mula lagi dengan baik dan penuh keyakinan, Tuhan terus mengguncangkan jalan. Ada yang harus kulakukan di jalan ini, aku paham. Lebih baik aku yang terus paham dan sadar daripada memberi kesan buruk yang bertambah pada eksistensi lain. “yang lain adalah neraka”, kata Sartre. Ya, aku paham mengapa dia bilang begitu. Di kacamata Sartre omongan itu memang benar. Kebenaran memang bercabang dan memiliki akar yang sejati dan satu, memang. Aku terus belajar dan terus berubah. Meski jalanku penuh pemberontakan, demi Tuhan ada sesuatu di sudut hati terdalam ini, dan aku sungguh menghargai keberadaan eksistensi lain di dunia ini, demi Tuhan.

Tuhan, aku hampir tak punya apa pun. Dan aku memang tak memahami apa pun. Aku hanya melihat dari mataku sedangkan mata sering menyesatkanku dan mengatakan bahwa bulan itu kecil berbentuk sabit.

Allah, namaMu itu terlalu berat untuk diucapkan. Terlalu mengguncangkan seluruh jiwa dan raga orang beriman. Terima kasih.

Minggu, 30 Maret 2014

Sebuah Kejadian


Sebuah kejadian menggangguku. Tepat di saat aku memutuskan memilih suatu hal baru untuk kulakukan. Tepat di saat moodku sedang naik. Hampir selalu seperti itu. Dan sudah kubilang, Tuhan memang luar biasa!

Kalau kubilang aku stress luar biasa, meskipun bagi banyak orang ini adalah hal kecil yang harusnya diabaikan saja, akankah ada yang terganggu lagi? Dari sejak aku terjun dalam perdebatan antar keyakinan, aku selalu merasa aku perlu membuat orang paham apa yang aku maksud. Ya, disalahpahami itu sangat mengganggu, begitu juga salah paham terhadap orang lain. Aku mengerti mengapa mereka tak bisa lagi mengontrol kejengkelannya padaku. Dan setidaknya akhirnya aku tau bahwa aku telah menyusahkan orang lain dan membuat mereka jengkel.

Aku kaget, sedih, kecewa, dan aku marah. Ya, marah, dan tak tau mesti kuekspresikan bagaimana kemarahan ini. Hari jum’at kemarin, di depan dua orang kawan aku menangis, aku tak bisa mengontrolnya lagi. Segala emosi bercampur aduk tak karuan. Ternyata aku belum pernah memperbaiki segalanya. Segala yang kualami adalah apa yang pernah kualami sebelumnya. Aku marah pada mereka dan pada diriku sendiri. Dan tak bisa kulanjutkan. Aku berpikir, tanggung jawab terakhir yang minimal yang bisa kuberikan adalah menghilang dari hadapan mereka.

Menyerah? Oh, sialan! Terserah mau pikir apa tentang tindakanku. Rencana untuk pergi memang sudah ada sejak dulu. Dan kejadian ini seperti mendorongku dengan kuat untuk benar-benar pergi. Tapi aku tak akan pergi begitu saja. Aku akan memanfaatkan waktuku di sana untuk mendapatkan apa yang kuperlukan. Dan bukan berarti yang tersisa selamanya adalah kebencian, aku tetap akan menghargai mereka seperti dulu. Hanya saja aku tak bisa, tak mau ada dalam kehidupan mereka lagi. Ya, dunia mau mengatakan aku pecundang, lemah dan kalah, terserah. Ini hidupku dan aku tau apa yang kulakukan.

Meneruskan segalanya berarti aku belajar untuk berbohong pada diriku sendiri. Setelah aku melepaskan diri, pasti akan aku dapatkan kelegaan. Meski aku tau, masalah lain akan datang. Terjadilah.

Aku hanyalah salah satu jenis makhluk bernama manusia yang seperti halnya makhluk bernama manusia lainnya, sedang berjuang menjalankan kehidupan ini sambil berusaha mencari makna apa yang ada dalam perjalanannya. Memikirkan apa yang sudah dilewati kadang terpikir “sudah sejauh ini, dan aku masih saja gagal, sudah waktunyakah menyerah?”. Aku tau banyak sekali manusia lainnya yang berada dalam masalah yang jauh lebih berat dan banyak daripada aku. Tapi aku pun sadar bahwa kita semua tumbuh dengan kecenderungan yang berbeda. Kita diatur oleh gen, apa yang kita baca, pola asuh, apa yang kita dengar, dan sebagainya. Karna itulah memaksakan sebuah solusi ata masalah kepada orang yang berbeda adalah hal salah. Sejak aku bertobat dari kesalahanku memperlakukan orang yang bermasalah, aku menyadari itu. Dan salahnya aku, aku memaksakan keyakinanku ini pada orang lain, oh bodohnya!

Dan kejadian ini sukses membuatku bingung, bagaimana aku harus menyikapi kehidupan?

Ah, aku harus berjalan lagi. Tak boleh kubiarkan dadu ini terlalu lama tak bergerak.