Senin, 28 November 2016

Rethink

Aku pikir aku benci cara berpikir kebanyakan saintis, dan psikolog. Selama ini aku berusaha mencari saintis mana yang pikirannya sama sepertiku. Mungkin aku bukan saintis.

Aku ingat aku pernah menulis tentang betapa bahagianya aku menemukan tempat yang cocok bagiku. Ya, fakultas budaya cocok sekali denganku. Aku nyaman sekali berada disana. Tidak ada tempat senyaman itu yang pernah kusinggahi.  Mungkin aku budayawan. Mungkin aku filsuf.

Aku pikir kuliah dimana aku merasa sangat senang di dalamnya hanyalah kuliah filsafat. Yang lain? oh, aku mulai meragukan tujuanku. Aku mulai meragukan caraku berjalan.

Aku harus berpikir ulang. Aku benci waktu.



Sabtu, 19 November 2016

Kubangan Air di Tengah Jalan

mendung lagi.
mendung, dingin.
dimana keinginan untuk lari membesar.
tapi seperti Shuichi di Ao no honoo bilang, "lari? tak ada tempat lari bagiku"
kita terjebak di sini,
di barisan ekspektasi.
memaksa kita lari maju di jalan yang ditentukan.
menjawab ekspektasi, membuktikan eksistensi.

ah, seperti anak di drama korea cinderela's stepsister itu, eun jo, ini semua demi bisa lari.
eun jo yah,
melakukan apa pun agar bisa lari.
pikiranku tumpul, apa penyebabnya?

hari ini setelah po sela meminta film bipolar dan borderline, aku merasa ingin nonton film, di tengah-tengah tugas yang sedang kukerjakan.
takdir menuntunku mendownload sebuah film tahun 2010an, 270 hours, film biografi seorang pendaki, petualang.
sepanjang pertengahan film aku terus berpikir aku ingin seperti itu, berpetualang, menempatkan diri pada resiko.
aku ingin "menikmati" hidup.
aku ingin tinggal di negara yang sepi penduduk, dikelilingi alam dan burung-burung yang bersahutan setiap pagi.
pertengahan akhir aku dipaksa menyadari,
apa yang mesti kusadari?
Tuhan berkuasa menempatkan kita pada situasi apa pun.
pada Tuhanlah kita sendirian meminta pertolongan.
dari Tuhanlah rezeki kita datang, sekecil apa pun.
setelah datang perasaan kuat menuju ke gua gelap, yang gelapnya tak berujung,
takdir menuntunku melihat ke arah lain.
becekan air di tengah jalan,
adalah rezeki bagi kucing dan anjing liar yang kehausan.


Sabtu, 05 November 2016

Scars



Di sebuah kelas, ketika dosen menyuruh mahasiswanya untuk memperkenalkan diri di depan kelas sambil melengkapi dengan kutipan pribadi, seseorang menarik perhatianku. “don’t trust people”, dia bilang. This man is crazy, aku pikir. Kesannya bagiku adalah dia bukan orang yang akan mengutip kata-kata semacam itu. Aku bukan orang yang pandai membaca orang lain, dan dia bukan orang yang bisa kubaca. Tidak, akulah yang tidak benar-benar bisa membaca orang lain. Segala sesuatu tidak bisa dipastikan dengan jelas, apalagi manusia. Makhluk yang menyusahkan.

Tentang kutipan itu, akhirnya akhir-akhir ini akulah yang terikat dengan kutipan itu. Apakah aku serius? Mungkin. Aku benar-benar gila. Alasannya adalah aku seperti membiarkan dirku terpecah menjadi banyak sisi. Itu normal, sekilas. Tapi itu amat melelahkan. Di satu sisi aku ingin jadi orang baik. Oh, ya, aku bukan orang yang bisa disebut baik. Ngomong-ngomong bagaimana caranya menjadi orang baik? Apa tujuanku? Aku lelah, mungkin. Aku pikir menjadi orang baik akan mendamaikan dan menyelamatkan. Harusnya memang begitu. Tapi, oh sial, aku adalah pembenci. Mungkin, aku akhirnya kalah pada pilihanku.

Setiap sesuatu punya indikator, dan kata “percaya” di kutipan itu bagiku seperti menjadikan orang lain sebagai tempat bersandar? Oh, mungkin itu maksudku. Ketika badanku sakit semua, meminta mereka untuk membuatnya baik kembali, memintanya menemaniku ketika lelah, atau sekedar mengabarkan kebahagiaan personal. Itu bukan seperti memberitau informasi personal tentang diri kita, aku rasa. Kenapa aku akhirnya berhenti menjadikan orang lain sebagai kepercayaan? Kekecewaan karna ketidaksempurnaan? Manusia itu miskin, ilmu dan harta. Bayangan ideal yang terbangun di pikiranku tentang bagaimana semestinya segala sesuatu berjalan dirusak oleh kenyataan bahwa tidak ada satu biji pun manusia yang tepat berperan di dunia utopis itu. Mungkin aku memang sinting karna berpikir bahwa aku mampu jadi pemeran utama di dunia ideal itu. Sudah kuduga aku sinting.

Ketika bicarakan dampak, aku mungkin akan melemparkan diri ke dunia yang tak pernah aku kenal sebelumnya, untuk memastikan bahwa aku independen, aku punya kendali atas diriku sendiri. Lagipula siapa yang peduli. Apakah aku serius? Entahlah.

Coba pikir kenapa kira-kira manusia cenderung ingin percaya pada orang lain? Oh kenapa. Manusia benar-benar menyusahkan. Dan aku mulai berpikir betapa menyayangi orang lain akan melemahkanmu sampai selemah lemahnya. Makanya, jadikan Tuhan satu-satunya.

Seorang yang idealis punya gambaran sempurna dunia di kepalanya. Tapi kesadarannya tentang ketidaksempurnaan manusia memberinya potensi sinis akan ketidakmampuan dunia idealis di kepalanya bisa terwujud jika pemeran-pemerannya amatiran semua. Benar, dunia yang damai itu tak akan terwujud kecuali Tuhan memberi suatu mukjizat kepada manusia. Dan juga tak akan ada manusia yang benar-benar mampu memberikanku kepuasan atas hampir apa pun.

Mungkin aku benar-benar bukan orang baik, dan bukan orang yang bisa membaca orang lain. Atau jika bukan, berarti aku adalah orang yang cerdas. Karena aku mampu membaca bahwa manusia melakukan sesuatu hanya untuk saling memanfaatkan sambil meng ilusi kan dunia dimana ada istilah “tulus” di dalamnya.

Akan kukurung perasaan di ruang bawah tanah. 

11

aku di batas dimana aku merasa perlu melemparkan diri pada resiko, dunia dimana aku tak pernah kenal dan berada di dalamnya.
karna manusia tidak akan pernah bisa dihadapi secara benar-benar personal. karna kita bagian dari mesin yang benar-benar kompleks.

Senin, 08 Agustus 2016

Ninosan palsu







Akhir-akhir ini aku nonton Ninosan lagi. Beberapa episod. Dari kebanyakan episodnya Nino terlalu keliatan berpura-pura semangat sambil merasa "apa gunanya sih begini. apa menariknya sih. apa lucunya sih". Tapi Nino tidak pernah berhenti. Aku harus tanya Nino kalau dia berhenti melakukan sesuatu kecuali disuruh. Karna dia bukan orang yang melakukan pekerjaan untuk memuaskan passion dia atau karna dia menyukai suatu pekerjaan. Dia melakukan pekerjaan demi mengeksplor kemampuan dia melakukan sesuatu. Tapi bukan Nino namanya kalau tidak berubah pikiran. Dia punya ribuan alasan untuk menjelaskan kontradiksinya. Aku tau Nino sendiri merasa setiap manusia terlalu lemah untuk berdiri tegak di atas satu titik.

Kemarin juga aku mendengar Aiba bilang dia tidak menargetkan gol tertentu di kehidupannya. Kalau dia menentukan gol, pencapaian dia akan dibatasi. Dia ingin membuka semua kemungkinan yang bisa dia lakukan. Mungkin Sho yang mendengar dia sedikit berpikir "apa-apaan orang macem begini". Tapi toh Aiba ada di titik yang sama dengan Sho yang selalu berjalan lurus di jalan yang dia tetapkan sendiri.

Oh Nino benar-benar manipulatif. Aku bosan melihat Nino yang tetawa-tawa dan melontarkan komentar sarkas setiap hari. Aku rindu melihat Nino yang sebenarnya. Tapi mungkin Nino, dan aku tak akan mengenal siapa diri kita sebenarnya sampai kita mati nanti, ketika segala kontingensi berhenti.