Kamis, 30 Agustus 2012

Manusia dan "akhlak" terhadap Hewan


Selama ini ceramah-ceramah agama “hampir” tidak pernah menekankan pentingnya akhlak kepada hewan dan tumbuhan, kecuali hanya sekilas lalu. Rahmat semesta alam hampir selalu ditekankan hanya kepada seluruh manusia, tanpa mengenal ras dan agama. Untuk apa hewan dan tumbuhan diciptakan, kalau tidak disertakan dalam isi-isi ceramah itu?

Nun beberapa abad lalu, hewan-hewan ikut serta dalam sejarah kenabian. Gagak yang menjadi saksi pembunuhan pertama di muka bumi dan mengajarkan kepada manusia cara menguburkan mayat (maka ketika kita belajar sejarah darimana muncul ide manusia untuk menguburkan manusia yang sudah mati, burung gagak ikut serta dalam sejarah itu), serigala yang pernah difitnah memangsa nabi Yusuf, unta nabi Shalih yang pernah disia-siakan kaum Tsamud, paus yang “memelihara” nabi Yunus dalam perutnya atas “wahyu” dari Allah padanya, laba-laba gunung yang membuat sarang di pintu gua untuk melindungi Nabi SAW dari kejaran kaum musyrikin, dll.

Sulaiman as nyatanya punya mukjizat mengerti bahasa hewan dan bisa berbicara dengan mereka.

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata ‘Wahai manusia, kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh ini benar-benar karunia yang nyata.’” (al-Qur’an surat an Naml ayat 16)

Bukankah ini luar biasa dan memperlihatkan kepada kita bahwa hewan pun punya bahasa dan respek terhadap manusia. Kalaupun bahasa hewan begitu sepele dan tidak berarti, mana mungkin Tuhan mengajarkan bahasa mereka kepada Sulaiman dan Daud?

Beberapa abad sebelumnya, binatang dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan, kotor, tidak berakal, tidak merasa, tidak dapat mengetahui (belajar), tidak dapat bicara, tidak bernilai kecuali ketika bisa dimanfaatkan untuk dimakan atau sebagai hewan tunggangan. Tapi kemudian al-Qur’an datang dengan berbagai kisah tentang hewan, yang seakan memberitaukan bahwa binatang punya kehidupan dan mereka hidup berdampingan dengan manusia dengan makna khusus bagi kita. Mereka punya bahasa sendiri, emosi dan pemikiran (meskipun tidak ada dari mereka yang bisa mengalahkan analisa rumit terhadap sesuatu seperti yang bisa dilakukan manusia).

Ingatkah bagaimana Abu Hurairah, yang dijuluki bapak para kucing, mempraktikkan “rahmat bagi  semesta alam” yang tidak hanya menekankan pada manusia. Dan sikap ini pun menunjukkan bahwa berteman dan memberi makan mereka dengan kasih sayang BUKANLAH HAL SIA-SIA.

Masihkah kita akan menafikkan mereka, hewan-hewan yang berjasa dalam perang dunia 2? Mereka (hewan-hewan) yang telah berbaris untuk menyelamatkan manusia. Dan berapa banyak nyawa manusia selamat karena jasa mereka? Atau kisah Hachiko yang terang-terangan mengajarkan pada kita tentang kesetiaan. Atau kisah seekor kucing dalam drama Jepang “Juui Dolittle”, yang sakit secara fisik dan psikis karena kakek (tuannya) yang setiap hari mengelus dan memberinya makan sudah meninggal dunia. Juga cerita seekor kucing yang jadi sangat galak dan tidak mau makan setelah dia dibawa oleh tuan lain dan dipisahkan dari tuannya yang lama.

Ada banyak kasus nyata dalam kehidupan ini tentang “cerita emosional” para hewan. Betapa makhluk yang otaknya didominasi dengan system limbic ini begitu peka terhadap kasih sayang dan gertakan. Kasus-kasus adanya kucing yang penakut terhadap manusia dan ada yang “songong”, sebenarnya dapat dijelaskan dari kacamata psikologi hewan. Hewan sangat peka terhadap sikap-sikap kita, sehingga sifat dia selanjutnya akan terpengaruh oleh perilaku kita terhadapnya.

Seorang ilmuwan Jerman terkenal, Brehm, penulis ensiklopedi besar tentang kehidupan binatang yang menghabisskan hidupnya untuk meneliti kehidupan binatang, mengatakan:

“Mamalia memiliki daya ingat, kecerdasan, dan perasaan. Sebagian besar mamalia memiliki watak tertentu, seperti ia dapat membedakan benda-benda serta mengetahui perbedaan waktu, tempat, warna dan irama. Selain itu, ia mampu mengenali benda-benda, mengawasinya lalu memikirkannya. Ia mengetahui bahaya dan memikirkan cara menjauhinya. Ia dapat menampakkan cinta dan kebencian, mencintai pasangan dan anak, serta mengungkapkan rasa terima kasih dan kesetiaan, penghormatan dan penghinaan, kemarahan dan keramahan, tipuan dan kemahiran, amanah dan pengkhianatan. Binatang itu mahir memperhitungkan benda-benda sebelum mendekatinya. Binatang yang sensitif dan cerdas itu dapat memikirkan kehidupan dan kebebasannya untuk kebaikan kelompoknya.”

Otak hewan mamalia (khususnya) diciptakan Tuhan dengan porsi system limbic yang mendominasi otaknya (bahkan beberapa hewan hanya memiliki system limbic dan reptilian brain saja, tanpa punya neocortex).  Sistem ini memegang peranan penting dalam emosi dan motivasi. Manusia  memiliki bagian ini hanya sekitar 10-20% dengan porsi neocortex (otak khas manusia untuk berpikir kritis dan menganalisa) 80%. Sedangkan hewan sebaliknya. Bagian otak yang memproses emosi ini mendominasi otak mereka. Itulah alasan mengapa Hachiko bisa “lebih” setia kepada sang profesor daripada istri kepada suaminya. Hewan-hewan ini diciptakan untuk bersikap sesuai perasaan, tapi tidak dilengkapi kemampuan untuk berpikir ulang secara kritis terhadap apa yang akan dilakukannya, seperti “mana yang lebih baik untuk dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak kulakukan dengan alasan begini dan begitu?”. Alasan atas perilakunya didasari oleh kemampuan persepsinya. Mereka menilai perilaku manusia dan hewan lain dengan persepsi, lalu bertindak dipengaruhi oleh persepsinya itu.

Itu juga dapat menjelaskan, mengapa seekor harimau bisa menyerang pawangnya sendiri. Jauh di dalam system otaknya yang “primitive”, dia punya alasan emosional untuk menyerang pawangnya yang biasanya dia patuhi. Atau seekor buaya dan ular yang tiba-tiba menyerang kita. Mereka memiliki alasan pertahanan diri  dan kelangsungan hidup. Ini adalah refleks atas alarm waspada, bahaya dan rangsangan lapar yang diterima otak reptilnya. Mereka tidak diciptakan untuk bisa berpikir dan menimbang bahwa perbuatannya akan menyebabkan keluarga korban sedih dan merasa kehilangan. Inilah mengapa “alasan emosional” seekor harimau menyerang pawangnya dan “alasan pertahanan hidup” buaya dan ular jauh lebih bisa dimengerti dan ditoleransi daripada “alasan” manusia (yang otaknya 80% didominasi oleh otak analisa dan berpikir kritis) menyerang manusia. Jika manusia memakai alasan emosional untuk membunuh seseorang, bukankah ia sama primitifnya dengan hewan? Bahkan ini tidak bisa diterima. Jelas hewan akan protes, “manusia bisa berpikir kritis, tapi mereka masih menggunakan alasan emosional untuk menyerang dan membunuh!”. Bukankah ini lebih tidak bisa dimengerti daripada alasan sang harimau menyerang pawangnya?

Dan, masihkah kita menafikkan semua itu?

Fakta bahwa hewan peliharaan yang mendapatkan perhatian dari teman manusianya lebih punya usia hidup yang panjang (panjang umur) daripada hewan peliharaan yang tidak mendapat perhatian dari teman manusianya (meskipun makannya teratur), menjelaskan dominasi system limbic pada otak mereka. Hachiko menunggu sang professor akan datang untuk memberi makan dan bermain dengannya. Dia setia untuk tetap menunggu kedatangannya. Dia keras kepala untuk tetap menunggu sebanyak apapun waktu telah berlalu (jika Hachiko punya neocortex, dia mungkin akan berhenti menunggu karena menyadari ada yang tidak beres dengan sang professor, dan tidak ada gunanya dia menunggu lebih lama). Hingga ia sakit, dan mati karena itu.

Islam diciptakan sebagai RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM. Bukan hanya teori belaka! Tuhan menciptakan yang lain selain manusia “bukan hanya” untuk bisa dimanfaatkan (dagingnya atau jasanya) dan dijadikan pelajaran (sifat dan perilakunya). Tapi untuk disikapi dengan semestinya. Bahwa kita butuh hewan dalam banyak hal. Dan ketahuilah mereka pun membutuhkan kita sebagai teman dan pemimpin bagi mereka untuk memberikan kehidupan sejahtera kepada mereka (tapi apa yang kita lakukan? Berapa banyak spesies hewan telah punah karena kita? Masihkah kita menafikkannya?).

Berapa spesies telah punah di Negara Indonesia ini? Negara selain Negara-negara di benua Afrika yang memiliki jumlah spesies hewan paling kaya di dunia! Berapa gajah telah mati dibunuh, diracun, untuk diburu gadingnya?! Berapa orangutan dibantai (agar ladang tidak dirusaknya)?! Berapa banyak anjing disiksa dan dilempari batu (dianggap anjing adalah sumber rabies)?! Berapa banyak kucing ditangkap, dibunuh dan dibuang (merasa mereka mengganggu peradaban kota)?! Mereka menyimpan rasa takut pada manusia, dendam dan kemarahan yang tidak bisa dijelaskan oleh otak “bodoh” dan penuh ambisi dunia! Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan amanat dari Tuhan yang kita khianati ini? Berapa banyak orang yang tau hal ini, tapi dia diam, bungkam, “ini bukan urusan saya”. Maka saya tanya pada mereka, “siapakah kalian? Untuk apa kalian diciptakan di atas dunia ini?”. Dunia ini beserta segala isinya selain manusia, bahkan iblis dan jin, berkata dengan sepakat, “tidak ada makhluk paling menakutkan diciptakan oleh Tuhan, selain manusia. Mereka memiliki hati yang tulus tapi di sisi lain mereka dipenuhi ambisi dunia dan dipersenjatai dengan senjata paling menakutkan di dunia ini, akal.”

“Dan Kami kirim kepada mereka burung ababil. Melontari mereka dengan butiran batu kecil panas. Yang menjadikan tubuh mereka berlubang-lubang seperti daun dimakan ulat.” (al-Qur’an surat al-Fiil ayat 3-5)

“Dan Kami mudahkan bagi Daud, gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersamanya dan Kamilah yang melakukannya.” (al-Qur’an surat al-Anbiyaa ayat 79)

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (al-Qur’an surat an-Nahl ayat 68)

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (al-Qur’an surat an-Naml ayat 18)

(TIDAKKAH KAMU MEMIKIRKAN?!)

“Dan dia (Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, ‘mengapa aku tidak melihat hud-hud (hud-hud adalah sejenis burung pelatuk), apakah ia termasuk yang tidak hadir?. Pasti akan kuhukum dia dengan hukuman yang berat atau kusembelih dia, kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas. Maka tidak lama kemudian (datanglah si burung) ia berkata, ‘aku telah mengetahui sesuatu yang belum kau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.” (al-Qur’an surat an-Naml ayat 20-22)
(MAHA BESAR ALLAH!)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar